Tegarnews.co.id – Bogor, 17 Agustus 2026 | Perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di RW 03 Lebak Pilar, Kelurahan Sempur, Kota Bogor, berlangsung meriah. Warga dari sejumlah RT tidak hanya tampil dengan kostum dan atraksi karnaval, tetapi juga menunjukkan kreativitas dengan memanfaatkan bahan-bahan yang sudah tidak terpakai.
Ketua Karang Taruna Lubuk Sipatahunan, Fera Lumuru, mengatakan konsep busana daur ulang menjadi salah satu bagian yang mendapat perhatian dalam penilaian karnaval. Menurutnya, penggunaan barang bekas merupakan upaya mendorong warga melahirkan inovasi dari sesuatu yang selama ini dianggap tidak bernilai.
“Untuk busana daerah, saya mengambil konsep busana daur ulang. Kenapa? Supaya warga bisa menunjukkan inovasi dan kreativitas dari bahan yang sudah tidak terpakai menjadi sebuah busana,” ujar Fera, Senin (17/8/2026).
Tak berhenti pada persoalan kostum, Fera juga memasukkan unsur profesi dalam penilaian. Sosok pramugari dipilih sebagai salah satu representasi untuk menyampaikan pesan bahwa perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk menentukan pilihan dan meraih cita-citanya.
“Perempuan itu tidak harus selalu di belakang. Mereka bisa menjadi apa pun yang mereka mau,” tegasnya.
Unsur budaya Nusantara juga menjadi bagian dari konsep karnaval. Budaya Bali dipilih sebagai salah satu tema karena dinilai memiliki daya tarik yang kuat dan telah dikenal luas di dunia internasional.
“Budaya Indonesia sangat banyak dan semuanya bagus. Bali salah satu yang sangat dikenal dunia, tetapi daerah lain juga memiliki budaya yang tidak kalah bagus,” katanya.
Fera mengapresiasi kekompakan warga dari RT 01 hingga RT 06 yang dinilai mampu menunjukkan kreativitas sekaligus menjaga suasana guyub selama karnaval berlangsung.
Menurutnya, kekuatan utama kegiatan tersebut justru terletak pada kemampuan masing-masing RT menggerakkan warganya untuk tampil bersama.
“RT-RT semuanya keren. Mereka mampu membuat warganya kompak dalam karnaval. Kreativitasnya juga terlihat, mulai dari bahan daur ulang hingga busana daerah,” ungkap Fera.
Ia menilai kekompakan tersebut tidak mungkin terwujud tanpa dukungan pengurus wilayah. Menurutnya, kepemimpinan dan kebersamaan di tingkat RW menjadi fondasi penting dalam menggerakkan masyarakat.
“Yang paling keren adalah RW-nya. Bagaimanapun, kalau pemangku wilayahnya tidak guyub, kegiatan seperti ini tidak akan terjadi. Karnaval 17 Agustus ini bisa berjalan karena semuanya kompak,” ujarnya.
Ketua RW 03 Lebak Pilar, Khairul Ansori, juga menegaskan bahwa perlombaan dan karnaval bukan ruang untuk mempertajam persaingan antarwarga. Kegiatan tersebut justru menjadi momentum memperkuat silaturahmi dari RT 01 hingga RT 06.
“Menang atau kalah, kita tetap satu keluarga sebagai warga RW 03. Jangan sampai karena perlombaan justru terjadi gesekan,” kata Ansori.
Semangat tersebut menjadi pesan utama dalam perayaan kemerdekaan di RW 03. Di balik kemeriahan karnaval dan kreativitas busana, warga menunjukkan bahwa kemerdekaan juga dapat dimaknai melalui gotong royong, persatuan, kreativitas, dan kemampuan menjaga kebersamaan di tengah masyarakat.(Rls/Opik)
Sumber: Surya Sp













