Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Membongkar Praktik Komitmen Fee yang Membuat Kepala Daerah Bergelimang Harta

Membongkar Praktik Komitmen Fee yang Membuat Kepala Daerah Bergelimang Harta

  • account_circle Rls/Red
  • calendar_month Sab, 13 Des 2025
  • visibility 45
  • comment 0 komentar

Tegarnews.co.id-Jakarta, 13 Desember 2025| Kalian pasti sering mendengar istilah komitmen fee, atau bahasa warkopnya, jatah preman. Di kehidupan nyata istilah itu bukan fiksi, nyata adanya. Komitmen fee inilah yang membuat kepala daerah di mana pun bergelimang harta benda, posisi politiknya kuat. Mari kita bongkar praktik yang sudah mendarah daging ini sambil seruput Koptagul, wak!

Begitu musim pembahasan APBD tiba, negeri ini berubah seperti laboratorium raksasa tempat para pejabat sedang bereksperimen menciptakan rumus korupsi paling ilmiah sepanjang sejarah peradaban Nusantara. Draft APBD baru saja jatuh ke meja dewan, gedebuk! aroma uang langsung naik seperti uap kopi tubruk, dan kalkulator-kalkulator tak kasat mata dalam kepala para pejabat hidup seperti kuntilanak yang baru dipanggil.

Misalnya proyek Rp22 miliar. Secara teori akademik, anggaran ini harus berubah menjadi aspal tebal, jembatan kokoh, dan drainase yang mengalirkan air, bukan mengalirkan aib. Tapi begitu proyek diketok, ritual kuno bernama “komitmen fee” mulai menari dengan lincah. Pertama, dipotong 10% di depan sebagai mahar hubungan harmonis antara kepala daerah dan kontraktor. Dari Rp22 miliar, hilang Rp2,2 miliar secepat kedipan mata. Sisa Rp19,8 miliar. Lalu ketika SPK turun, dipotong lagi 5% untuk memperkuat tali silaturahmi yang lebih mahal dari harga pernikahan seleb. Sisa tinggal Rp18,81 miliar. Setelah itu baru ilmu teknik terapan bekerja, volume material dikurangi 20%. Dari Rp18,81 miliar, nilai real di lapangan jatuh ke Rp15,048 miliar. Maka resmi sudah, dari proyek Rp22 miliar, yang benar-benar berubah menjadi bangunan hanya sekitar Rp15 miliar lebih sedikit. Sisanya sebesar Rp7 miliar bukan hilang, dia hanya berpindah tempat, dari kas daerah ke “kantong-kantong berlapis moralitas”.

Kenapa uang itu lenyap begitu cepat? Karena biaya politik di negeri ini lebih mahal dari biaya membangun tiga ballroom hotel. Kepala daerah untuk menang pilkada bukan hanya butuh visi, tapi visi dengan stempel, tanda tangan, perahu parpol, saksi yang doyan makan, tim sukses yang doyan kuota, baliho yang harus berdiri tegap meski diterpa angin gosip, dan money politic yang mengalir lebih deras dari debit Sungai Kapuas di musim hujan. Modal kampanye bisa tembus belasan miliar. Maka begitu berkuasa, proyek berubah menjadi jalan tol untuk balik modal. Fee 10%, fee 5%, jatah koordinasi, jatah meja, jatah bangku tengah, semuanya adalah “strategi pengembalian investasi demokrasi”.

Di lapangan, kontraktor yang sudah terpotong sana-sini harus tetap kreatif. Aspal dibuat lebih tipis dari martabak telur hemat, semen dicampur lebih encer dari air mata mantan, batu pecah diganti batu lokal yang setengah pecah setengah pasrah, drainase dipasang sepenuh hati tapi tidak sepenuh anggaran. Karena yang terpenting bukan kualitas bangunan, melainkan kualitas dokumentasi. Auditor nanti tidak menginjak aspal, dia menginjak berkas. Kalau foto serah terima ada, laporan progres warna-warni ada, tanda tangan basah ada, selesai, proyek “memenuhi syarat”. Jalan boleh patah dua, tapi dokumen pantang retak.

Di tengah semua kekacauan ilmiah ini, kepala daerah tahu betul bagaimana memperbaiki citra. Ia tiba-tiba berubah menjadi malaikat berkaki dua, membagikan sembako, memberikan sumbangan ke Ormas, media-media lokal dijatah iklan atau kontrak kerja sama,  menyalurkan bantuan untuk musala, masjid, gereja, menyisihkan sumbangan bencana, semua dilakukan dengan cinta kasih… dan lima kamera wartawan dari tiga sudut berbeda. Lengkap dengan video sinematik, slow motion, dan suara musik sedih yang bikin orang lupa, jalan menuju lokasi acara itu baru dibangun dua bulan tapi sudah berlubang. Sumbangan itu bukan sedekah, tapi bagian dari manajemen persepsi, agar publik melihat sisi malaikatnya, sementara sisi setannya sedang mengurus proyek Rp22 miliar yang tinggal Rp15 miliar karena dikuliti dari atas sampai bawah.

Maka rakyat bertanya polos, “Kenapa jalan cepat rusak?” Jawaban dinas tetap fenomenal, “Cuacanya ekstrem.” Padahal yang ekstrem itu bukan cuaca, tapi potongan komitmen yang bertingkat-tingkat seperti tangga surga versi birokrat.

Sementara itu, kepala daerah bisa liburan ke Bali, punya villa di Puncak, apartemen di Jakarta, dan rumah singgah di kota-kota yang AC-nya dingin sampai menusuk iman. Semua dari “komitmen” yang katanya dilakukan demi pembangunan.

Namun setiap tahun, ritual ini lahir kembali. APBD baru, proyek baru, komitmen fee baru, pengurangan volume baru, sedekah berjamaah berkamerakan HD terbaru, dan pembangunan absurd yang tetap sama. Korupsi di negeri ini tidak pernah mati, dia hanya ganti parfum, ganti pencahayaan, dan kadang ganti slogan.

Kita, rakyat setia penonton drama anggaran, hanya bisa mengelus dada sambil tersenyum getir, berharap suatu hari APBD benar-benar kembali ke makna aslinya, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, bukan Anggaran Pendapatan Buat Diri Anda.[]

Oleh: Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

#camanewak

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bamsoet: Indonesia Punya Peran Strategis Sebagai Presiden Dewan HAM PBB

    • calendar_month Rab, 14 Jan 2026
    • account_circle Rls/Red
    • visibility 7
    • 0Komentar

    Tegarnews.co.id-Jakarta, 15 Januari 2026| Anggota DPR-RI Bambang Soesatyo, menilai posisi Indonesia sebagai Presiden Dewan HAM PBB akan diuji melalui kontribusinya dalam isu-isu kemanusiaan global. Mengingat Dewan HAM PBB, berfungsi sebagai ruang advokasi, konsensus, dan perhatian internasional terhadap berbagai persoalan HAM dunia. Menurutnya Indonesia harus bisa memanfaatkan presidensinya untuk memainkan peran substantif dalam isu-isu global, terutama […]

  • Penetapan Tersangka Dirut PT SMU Dinilai Prematur, Kuasa Hukum Soroti Abaikan Fakta Hukum dan Regulasi Aset Daerah

    • calendar_month Sen, 20 Okt 2025
    • account_circle Rls/Red
    • visibility 127
    • 0Komentar

    Tegarnews.co.id-Majalengka, 20 Oktober 2025| Penetapan Dede Sutisna sebagai tersangka oleh Kejaksaan Negeri Majalengka menuai kritik tajam dari kuasa hukumnya, DR (C) Nofal Habibi, S.H., M.H., M.P. Ia menilai langkah aparat penegak hukum melanggar asas profesionalitas dan kehati- hatian yang menjadi ruh KUHAP. Menurutnya, akar persoalan justru berasal dari tindakan sejumlah pejabat internal perusahaan, seperti Direktur […]

  • Curanmor Marak, Motor Jurnalis Koran Cirebon Raib di Area CFD Bima

    • calendar_month Sen, 24 Nov 2025
    • account_circle Rls/Red
    • visibility 40
    • 0Komentar

    Tegarnews.co.id-Cirebon, 24 November (GMOCT)| Aksi pencurian kendaraan bermotor (curanmor) kembali meresahkan warga Cirebon. Kali ini, menimpa seorang jurnalis Koran Cirebon, Firda Asih, yang kehilangan motor Scoopy merah hitam miliknya saat bertugas meliput kegiatan Car Free Day (CFD) di kawasan Stadion Bima, Kota Cirebon, Minggu (23/11). Gabungan Media Online dan Cetak Ternama (GMOCT) mendapatkan informasi terkait […]

  • Inkonsistensi Pelaporan Pencatutan Nama Camat Dan Kasi Pemerintahan Gajahmungkur, Ragu? Ataukah Udang Dibalik Mungkur?

    • calendar_month Sel, 15 Jul 2025
    • account_circle Tim/Red
    • visibility 70
    • 0Komentar

    Tegarnews.co.id-Semarang, 15 Juli 2025| Pernyataan Camat dan Kasi Pemerintahan Kecamatan Gajahmungkur, Kabupaten Semarang, yang sebelumnya akan melaporkan individu yang mengaku sebagai Didik Ari Widianto (Kasi Pemerintahan) ke polisi, kini menuai kontroversi. Pernyataan tersebut disampaikan pada 9 Juli 2025, setelah tim liputan khusus GMOCT (Gabungan Media Online dan Cetak Ternama) berhasil merekam percakapan telepon seseorang yang […]

  • Masyarakat Cabangbungin, Rencana Aksi Damai Demo RSUD Jilid 2 Sedang Kami Kaji

    • calendar_month Rab, 20 Agu 2025
    • account_circle HUSEN
    • visibility 218
    • 0Komentar

    Tegarnews.co.id – Kabupaten Bekasi] 20 Agustus 2025- Permasalahan sosial masyarakat dalam pelayanan publik RSUD Cabangbungin, semakin tanpa arah dan tak menemukan jawaban yang jelas. Baik bagi para korban malapraktik, pelecehan, konflik dengan pekerja lokal, dll secara khusus dan masalah buruk nya pelayanan kesehatan terhadap masyarakat secara umum. Belum lagi masalah-masalah di internal rumah sakit itu […]

  • Warga Desa Patalagan Laporkan Kasus Penggadaian Sertifikat PTSL Ke Polres Kuningan

    • calendar_month Kam, 22 Mei 2025
    • account_circle Tim/Red
    • visibility 102
    • 0Komentar

    Tegarnews.co.id-Kuningan, KabarSBI| (GMOCT)-Kasus hilangnya sejumlah sertifikat tanah warga Desa Patalagan, Kecamatan Pancalang, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, yang merupakan hasil program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) tahun 2020, memasuki babak baru.  Setelah melakukan pertemuan dengan pihak Desa Patalagan dan Kecamatan Pancalang pada 20 Mei 2025, warga akhirnya melaporkan kasus tersebut ke Polres Kuningan pada Rabu, 21 […]

expand_less