Tegarnews.co.id – Jakarta, 29 Agustus 2026 | Pemadam api berbahan kulit singkong ternyata bukan inovasi yang baru muncul belakangan. Jauh sebelum kembali menjadi sorotan, warga Kabupaten Cirebon, Aryanto Misel, telah mengembangkan alat pemadam api berbahan kulit singkong dan memasarkannya.
Rekam jejaknya tercatat jelas dalam pemberitaan detikJabar pada 14 Mei 2022. Saat itu, Aryanto yang merupakan warga Lemahabang, Kabupaten Cirebon, memperkenalkan inovasinya bernama Annaro Fire Stop. Ia menyebut APAR berbahan kulit singkong buatannya telah terjual sekitar 6.000 unit.
Jumlah tersebut terdiri dari sekitar 4.000 unit model tabung, masing-masing 2.000 unit ukuran besar dan kecil, serta sekitar 2.000 unit model bulat. Pada saat itu, APAR tabung 1 kilogram dijual sekitar Rp150 ribu, sedangkan model bulat dibanderol Rp225 ribu.
Yang lebih jauh lagi, Aryanto mengatakan dirinya sudah mulai membuat alat pemadam api tersebut sekitar 2003. Ide itu muncul setelah ia melihat kebakaran di kawasan permukiman padat di Jakarta. Ia kemudian ingin membuat APAR berbahan organik yang menurutnya lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan kimia tertentu.
Penemuan kulit singkong sebagai bahan pemadam api juga berawal dari eksperimen Aryanto ketika meneliti bahan antikarat untuk rantai sepeda motor. Ia mengaku salah satu bahan yang dibuang ke tempat pembakaran sampah ternyata membuat api padam. Dari pengalaman tersebut, ia kemudian meneliti kandungan potassium sitrat pada umbi-umbian dan mengembangkan kulit singkong sebagai bahan pemadam.
Produk yang dibuat Aryanto memiliki dua bentuk. Pertama, model tabung yang berisi bahan berbasis kulit singkong dan menggunakan nitrogen dengan tekanan sekitar 11–12 bar. Kedua, model berbentuk bola yang digunakan dengan cara dilempar ke sumber api. Klaim mengenai kemampuan pemadaman dan kandungan bahan tersebut merupakan keterangan dari Aryanto dalam pemberitaan 2022.
Bahkan, dokumen Cirebon Katon edisi Mei 2022 mencatat klaim Aryanto bahwa alat pemadam berbahan kulit singkong tersebut telah dijual ke Jepang sejak 2010. Dokumen itu juga menyebut Aryanto membuat dua model, yakni berbentuk bola dan menyerupai APAR.
Fakta-fakta tersebut membuat sejarah inovasi ini menjadi penting ketika teknologi pemadam berbahan kulit singkong kembali diperbincangkan. Sebab, setidaknya berdasarkan arsip pemberitaan yang tersedia, Aryanto Misel sudah mengembangkan dan menjual produk tersebut jauh sebelum 2022.
Karena itu, narasi mengenai siapa pencetus atau pengembang awal teknologi pemadam berbahan kulit singkong seharusnya tidak dilepaskan dari rekam jejak Aryanto. Data tahun 2022 menunjukkan inovasi tersebut bukan sekadar gagasan di atas kertas: saat itu produknya disebut sudah dipasarkan dan telah terjual ribuan unit.
Namun, untuk menyatakan secara definitif bahwa negara mengabaikan temuan Aryanto atau bahwa inovasi yang muncul sekarang merupakan hasil mengambil ide Aryanto, masih diperlukan bukti tambahan mengenai hubungan antar-inovasi, hak kekayaan intelektual, paten, serta siapa pengembang masing-masing produk.
Yang tidak terbantahkan dari arsip pemberitaan adalah satu hal: pada Mei 2022, publik sudah mengetahui adanya APAR berbahan kulit singkong karya warga Cirebon, Aryanto Misel, dan saat itu ia mengaku produknya telah terjual sekitar 6.000 unit.(Rls/Red)














