Tegarnews.co.id – Banda Aceh, 19 Agustus 2026 | Dua puluh empat jam setelah halaman Masjid Raya Baiturrahman menjadi arena yang tidak ada seorang pun menginginkannya, suasana di sekitar masjid kebanggaan Aceh itu perlahan berubah. Bukan karena ketegangan hilang begitu saja, tapi karena ada yang memilih datang dan melakukan sesuatu yang konkret.
Pagi itu, personel gabungan dari Kodim 0101/Kota Banda Aceh, Yonif Raider 112/Dharma Jaya, Yon Zipur 16/Dhika Anoraga, dan Yon Armed 17/Rencong Cakti berkumpul di halaman masjid. Mereka membawa bendera. Bukan untuk konfrontasi — tapi untuk pengibaran.
Dipimpin langsung oleh Kepala Staf Kodim 0101/Kota Banda Aceh, Letkol Inf Muhsin, mereka pertama-tama menggelar upacara pengibaran Merah Putih di tiang utama Masjid Raya Baiturrahman. Setelah itu, satu per satu, bendera dan umbul-umbul Merah Putih kembali dipasang di titik-titik yang sehari sebelumnya dikosongkan atau dirusak massa. Total: 250 lembar bendera.
Hadir menyaksikan upacara itu Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Ir Jalaluddin dan Kepala UPTD Masjid Raya Baiturrahman Aprilizar. Kehadiran mereka bukan hanya simbolis, ini adalah pesan bahwa pemerintah daerah dan TNI memilih menyelesaikan hari itu dengan tindakan, bukan sekadar pernyataan.
“Saat ini ada 250 lembar bendera dipasang di Masjid Raya Baiturrahman, nanti ditambah oleh UPTD Masjid Raya Baiturrahman. Juga nanti kita akan sisir terus, akan kita tambah di mana yang kurang,” kata Letkol Muhsin.
Sekda Jalaluddin menyatakan situasi Banda Aceh sudah kondusif. Pasar buka, warung berjalan, dan warga sudah beraktivitas seperti biasa. “Kita imbau kepada masyarakat untuk menyaring informasi, jangan mudah percaya dengan informasi yang tak jelas,” katanya.
Kapuspen TNI Mayjen Muhammad Nas juga menyampaikan pernyataan dari Mabes TNI: “Sangat kita sayangkan kejadian ini, TNI mengimbau mari kita hormati simbol negara dan kepada seluruh pihak agar sama-sama menjaga ketertiban serta tidak melakukan tindakan yang dapat memicu konflik dan mengganggu suasana damai.”
Baiturrahman bukan sekadar bangunan. Masjid ini sudah berdiri sejak abad ke-17, selamat dari tsunami 2004, dan menyaksikan lebih banyak sejarah Aceh daripada yang bisa diceritakan dalam satu artikel. Ketika 250 Merah Putih kembali berkibar di halamannya sehari sebelum 17 Agustus, itu bukan kemenangan satu pihak. Itu adalah pilihan untuk tidak membiarkan ketegangan menjadi warisan.(Rls/Red)
Sumber: Mata Rakyat














