Dari Meja Korektor Menuju Panggung Perjuangan Nasional
- account_circle Rls/Red
- calendar_month Sel, 17 Feb 2026
- visibility 17
- comment 0 comment

Tegarnews.co.id-Jawa Barat, 17 Februari 2026| Bandung,18 Juni 1959 — Bangsa Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya. Abdul Muis (1883–1959), tokoh pergerakan nasional, wartawan tajam, sastrawan berjiwa api, telah berpulang di Bandung. Namun kepergiannya bukanlah akhir. Dua bulan berselang, Presiden Soekarno menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional Indonesia yang pertama, sebuah pengakuan atas dedikasi seumur hidupnya bagi kemerdekaan dan martabat bangsa. Dari rahim Minangkabau, lahir seorang pejuang yang memilih pena sebagai senjata dan kata-kata sebagai peluru.
Dari Korektor Menjadi Penggugat Kolonialisme. Perjuangan Abdul Muis bermula di ruang redaksi. Tahun 1912, Ia memasuki surat kabar Preanger Bode di Bandung sebagai korektor. Pendidikan formalnya di STOVIA memang tak selesai, namun kemahirannya berbahasa Belanda membuka jalan ke dunia pers kolonial.
Di sanalah nuraninya terusik.
Tulisan-tulisan yang merendahkan bumiputra membuat darahnya mendidih. Ia tak memilih diam. Dengan keberanian yang jarang dimiliki pribumi pada masa itu, Abdul Muis melawan bukan dengan senjata, melainkan dengan argumentasi yang tajam dan tak kenal takut.
Melalui De Express yang dipimpin tokoh-tokoh radikal seperti E.F.E. Douwes Dekker dan dr. Tjipto Mangunkusumo, ia melancarkan kritik keras terhadap kebijakan kolonial. Pena Abdul Muis menjelma suara perlawanan.
Tulisannya membongkar kepincangan sosial akibat penjajahan, menyuarakan penderitaan rakyat kecil, dan menantang superioritas semu kolonialisme.
Konflik dengan pimpinan Preanger Bode menjadi tak terelakkan. Namun justru dari sanalah karier perjuangannya melesat. Pada akhir 1914, Ia memimpin Kaum Muda, sebuah mimbar yang ia ubah menjadi medan tempur gagasan.
Sarekat Islam dan Gema Perlawanan di Volksraad. Tak puas hanya di medan pers, Abdul Muis melangkah ke gelanggang politik. Bersama Sarekat Islam (SI), Ia menggalang kekuatan rakyat.
Dalam Kongres SI tahun 1916, Ia dengan tegas mengusulkan agar pergerakan bersiap menempuh jalan radikal bila cara lunak tak lagi didengar. Suaranya menggema sebagai peringatan: kesabaran rakyat ada batasnya.
Sebagai anggota Volksraad (1917–1921), Abdul Muis memanfaatkan forum bentukan Belanda itu untuk menggugat ketidakadilan dari dalam. Ia memperjuangkan hak-hak kaum pribumi dan mendesak pendirian sekolah teknik bagi bangsa Indonesia yang kelak terwujud menjadi Technische Hooge School di Bandung, cikal bakal ITB.
Di ruang sidang kolonial, Ia berdiri bukan sebagai wakil penjajah, melainkan sebagai pembela rakyat.
Dari Aksi Massa ke Pengasingan.
Perjuangannya tak berhenti pada pidato dan tulisan. Tahun 1920, Ia memimpin Perkumpulan Buruh Pegadaian. Setahun kemudian, Ia berdiri di garis depan pemogokan buruh di Yogyakarta.
Di tanah Minangkabau, Ia menggalang penghulu adat menentang pajak kolonial yang menindas. Keberaniannya membuat pemerintah Hindia Belanda gerah. Tahun 1926, rezim kolonial menerapkan passentelsel, membatasi geraknya dan mengasingkannya ke Garut. Tiga belas tahun lamanya Ia dibelenggu ruang gerak.
Namun pengasingan tak pernah memenjarakan pikirannya.
Di Garut dan Bandung, Ia terus menulis. Ia mendirikan harian Kaum Kita dan melahirkan karya monumental “Salah Asuhan”, roman yang bukan sekadar kisah cinta tragis, melainkan cermin getir benturan identitas dan kolonialisme.
Abdul Muis wafat dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Namun warisannya tetap hidup dalam sejarah pers nasional, dalam dunia sastra, dan dalam denyut kesadaran kebangsaan.
Ia membuktikan bahwa perjuangan tak selalu bersimbah darah. Kadang ia hadir dalam kalimat yang terstruktur rapi, dalam argumen yang menggugah akal sehat, dalam keberanian menyebut ketidakadilan sebagai ketidakadilan.
Abdul Muis adalah bukti bahwa pena mampu menandingi senjata, dan kata-kata mampu mengguncang kekuasaan.
Bangsa ini mencatat namanya bukan sekadar sebagai sastrawan atau politikus, melainkan sebagai pelopor, pahlawan yang berjuang demi kehormatan bangsanya melalui medan pers dan parlemen.[☆]
Dan sejarah akan terus mengingatnya.
- Author: Rls/Red
- Editor: Redaksi
- Source: Sejarah Pahlawan Nasional



At the moment there is no comment