Mengenal Hassan Wirajuda: Diplomat Kebanggaan Betawi yang Disegani Dunia, Otak di Balik Damai Aceh dan Reformasi Kemenlu
- account_circle Rls/Red
- calendar_month 1 hour ago
- visibility 2
- comment 0 comment

Tegarnews.co.id-Jakarta, 24 Februari 2026| Nama Dr. Noer Hassan Wirajuda mungkin identik dengan setelan jas rapi dan meja perundingan tingkat tinggi di PBB. Namun, di balik profilnya yang tenang dan intelek, ia adalah seorang putra asli Pinang, Tangerang, yang membawa nilai-nilai keberanian budaya Betawi ke panggung diplomasi dunia.
Lahir pada 9 Juli 1948, Hassan tumbuh di lingkungan yang kental dengan nilai-nilai tradisional. Ayahnya, Djiran Bahrudji, adalah tokoh masyarakat Betawi yang disegani. Siapa sangka, berawal dari sebuah perkampungan di Tangerang, Hassan melesat menembus tembok universitas terbaik dunia seperti Oxford, Harvard, hingga Yale, demi satu tujuan: memperjuangkan kepentingan Indonesia.
Juru Damai Bertangan Dingin
Dunia internasional mengenal Hassan Wirajuda sebagai diplomat dengan “tangan dingin” dalam meredam konflik. Salah satu pencapaian terbesarnya yang tercatat dalam sejarah adalah perannya sebagai juru runding utama dalam perdamaian Aceh.
Di tengah ketegangan yang sudah berlangsung selama puluhan tahun, Hassan mampu menavigasi pembicaraan rumit dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Ketekunannya berujung pada penandatanganan kesepakatan damai pada 15 Agustus 2005 di Helsinki. Tidak hanya di dalam negeri, ia juga menjadi aktor kunci dalam mendamaikan Pemerintah Filipina dengan Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF) pada tahun 1996.
Arsitek Modernisasi Pejambon
Selama menjabat sebagai Menteri Luar Negeri dalam dua kabinet (2001–2009), Hassan tidak hanya duduk manis di belakang meja. Ia melakukan “bedah total” di Kementerian Luar Negeri. Ia adalah otak di balik perubahan struktur kementerian yang kini lebih modern dan responsif terhadap isu-isu kewilayahan.
Hassan juga dikenal sebagai sosok yang sangat peduli pada rakyat kecil di luar negeri. Ia memprakarsai pembentukan Direktorat Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia. Baginya, kedaulatan negara bukan hanya soal batas wilayah, tapi juga tentang kehadiran negara saat seorang buruh migran atau mahasiswa Indonesia mengalami masalah di negeri orang.
Misi Berbahaya: Menjemput Nyawa di Tengah Revolusi
Integritas seorang Hassan Wirajuda teruji justru saat ia sudah tidak lagi menjabat sebagai menteri. Pada tahun 2011, ketika revolusi “Arab Spring” pecah di Mesir dan Libya, ia dipanggil kembali oleh negara untuk memimpin Satgas evakuasi.
Tanpa ragu, ia berangkat ke medan yang sedang membara. Berbekal pengalamannya sebagai mantan Duta Besar di Kairo, Hassan memimpin operasi evakuasi udara yang dramatis, berhasil memulangkan lebih dari 2.400 WNI dengan selamat ke tanah air. Operasi ini menjadi salah satu misi kemanusiaan terbesar dan tersukses dalam sejarah diplomasi Indonesia.
Dari Dunia Global Kembali ke Pendidikan
Kini, setelah melanglang buana dari Jenewa hingga New York, Hassan Wirajuda memilih mengabdikan dirinya di dunia pendidikan sebagai Rektor Universitas Prasetiya Mulya. Ia ingin mencetak
“Hassan-Hassan baru” yang mampu berpikir global namun tetap rendah hati dan menjunjung nilai-nilai keindonesiaan.
Hassan Wirajuda adalah bukti nyata bahwa seorang “Bocah Betawi” dengan pendidikan yang tepat dan keteguhan prinsip mampu menjadi kompas moral dan diplomat yang disegani di mata dunia.[☆]
- Author: Rls/Red
- Editor: Redaksi
- Source: Hagia Sofia (Wikipedia)



At the moment there is no comment