Breaking News
light_mode
Home » Opini » Pidato Wilson Lalengke, Momentum Meningkatkan Peran PBB Atas Krisis Kemanusiaan Global

Pidato Wilson Lalengke, Momentum Meningkatkan Peran PBB Atas Krisis Kemanusiaan Global

  • account_circle Rls/Red
  • calendar_month Ming, 2 Nov 2025
  • visibility 83
  • comment 0 comment

Tegarnews.co.id-Jakarta, 2 Nopember 2025| Suara Indonesia menggema di PBB. Dunia pun bersorak, kagum dan bangga kepada Indonesia.

Negara-negara yang hadir di markas besar PBB New York tersebut bangga bukan karena sebuah resolusi yang disahkan — melainkan bangga karena suara lantang yang datang dari Indonesia;  suara nurani yang menembus sekat diplomasi global.

Di podium gedung PBB yang ikonik itu, 8 Oktober 2025, Wilson Lalengke, Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI), berdiri tegak. Dengan tenang namun berapi-api, ia menyerukan pesan universal: “Hak untuk hidup adalah hak yang tidak bisa ditawar.”

Sekitar 400 delegasi dunia menyimak dalam keheningan. Setiap kata yang meluncur dari alumnus Universitas Riau itu menjadi tamparan moral bagi dunia yang terlalu lama bersembunyi di balik kata “netralitas”, sementara darah dan air mata terus mengalir di tanah-tanah konflik — dari Gaza hingga Sudan, dari Myanmar hingga Ukraina.

“Diam berarti turut bersalah terhadap berbagai pelanggaran hak asasi manusia!” tegas Wilson.
Kalimat itu menggetarkan ruang sidang, menembus batas politik dan bahasa, dan menegaskan kembali makna keberanian moral di tengah kebisuan dunia.

*Krisis Kemanusiaan dan Kehancuran Nurani*

Tahun 2025 menjadi saksi suram bagi kemanusiaan. PBB mencatat lebih dari 350 juta jiwa hidup dalam krisis kemanusiaan — angka tertinggi sejak Perang Dunia II.

Konflik bersenjata, kemiskinan ekstrem, bencana iklim, dan represi politik telah menciptakan penderitaan lintas benua. Di Gaza, anak-anak tumbuh tanpa sekolah dan tanpa rasa aman. Di Sudan, kelaparan menelan korban ribuan setiap bulan. Di Myanmar, eksodus etnis minoritas tak kunjung berhenti. Sementara di Ukraina, musim dingin  “mengigit warga” yang rumahnya hancur dilindas mesin perang.

Namun di tengah perhatian dunia terhadap konflik besar itu, ada tragedi yang jarang disorot media global: nasib pengungsi di Tindouf, Maroko bagian barat daya.

Selama hampir setengah abad, ribuan warga Sahara Barat hidup di kamp pengungsian di tengah gurun pasir, menanti kejelasan status politik dan kemerdekaan yang tak kunjung datang.

Bertahun-tahun mereka hidup dalam kondisi serba terbatas — kekurangan air bersih, pangan, dan layanan kesehatan. Anak-anak lahir, tumbuh, dan menua di kamp yang tak diakui sebagai negara.
Menurut laporan lembaga kemanusiaan internasional, lebih dari 170.000 pengungsi kini masih menggantungkan hidupnya pada bantuan pangan yang semakin berkurang akibat krisis global.

Wilson Lalengke menyinggung hal ini dalam pidatonya sebagai simbol “krisis kemanusiaan yang terlupakan” tersebut “Tidak ada konflik yang kecil jika menyangkut penderitaan manusia,” ujarnya.

“Pengungsi Tindouf sama berharganya dengan korban perang di Gaza atau Ukraina. Dunia harus berhenti memandang manusia berdasarkan kepentingan politik.”

Beberapa jam setelah pidatonya, dunia dikejutkan. Media internasional seperti CNN dan Al Jazeera menyiarkan kabar bahwa Israel dan Palestina mencapai kesepakatan damai awal. Hamas mengumumkan pembebasan sandera terakhir pada 14 Oktober, sementara kabinet Israel segera membahas kerangka perdamaian baru.

Apakah ini kebetulan? Entah. Namun banyak yang meyakini bahwa suara Wilson menjadi percikan moral yang menggugah kesadaran dunia.

Seorang diplomat Skandinavia berkomentar: “Pidato itu membangunkan nurani yang lama tertidur di ruang-ruang kekuasaan.” Gelombang dukungan terhadap perbaikannya kemanusiaan dan keadilan global meluas.

Tagar #VoiceForHumanity mendunia. Dari Jakarta hingga Jenin (Tepi Barat Palestina) , dari Tindouf (Aljazair) ) hingga New York, jutaan orang berbicara tentang satu hal: kemanusiaan masih hidup.

Wilson Lalengke, seorang pewarta dari Indonesia, telah membuktikan bahwa satu suara kebenaran bisa lebih keras dari seribu peluru.

*PBB di Persimpangan Jalan*

Euforia moral jelas tidak cukup untuk mengatasi krisis kemanusuaan. Dunia  menuntut tindakan nyata. PBB, sebagai lembaga internasional tertinggi, kini menghadapi ujian berat.

Mekanisme hak veto kerap membuat keputusan kemanusiaan terhenti di meja Dewan Keamanan PBB. Negara-negara besar masih menempatkan kepentingan politik di atas penderitaan manusia.

Sedangkan lembaga-lembaga kemanusiaan seperti WFP, UNHCR, dan UNICEF kekurangan dana hingga miliaran dolar. Program bantuan untuk pengungsi Tindouf dan wilayah konflik lainnya terpaksa dikurangi.

Banyak pihak menilai, tanpa reformasi mendalam, PBB akan kehilangan kepercayaan dunia.
Pidato Wilson menjadi refleksi sekaligus kritik tajam: “PBB harus kembali pada jati dirinya — sebagai penjaga martabat manusia, bukan sekadar panggung diplomasi.”

Kehadiran Wilson Lalengke di podium PBB menjadi bukti bahwa kekuatan moral dapat melampaui batas kekuasaan. Ia hadir bukan sebagai utusan negara, bukan pula dibiayai pemerintah, melainkan sebagai perwakilan masyarakat sipil global. Langkahnya membuktikan bahwa perjuangan kemanusiaan tidak memerlukan mandat politik, tetapi membutuhkan keberanian nurani.

Dampaknya terasa cepat. Sejumlah tokoh dunia — dari jurnalis internasional hingga pejabat PBB — menyampaikan apresiasi. Beberapa organisasi kemanusiaan bahkan mengundangnya berbicara tentang grassroots journalism dan diplomasi moral ala Indonesia.

“Ini bukan tentang saya,” katanya kemudian. “Ini tentang kita — manusia yang menolak diam di hadapan ketidakadilan.”

Dunia kini berada di persimpangan sejarah. Lebih dari 700 juta orang hidup dalam kemiskinan ekstrem. Puluhan juta mengungsi akibat perang dan perubahan iklim. Sementara itu, ketimpangan ekonomi global semakin tajam: 1% populasi dunia menguasai hampir setengah kekayaan bumi.
Krisis kemanusiaan di Gaza, Sudan, Ukraina, Myanmar, dan Tindouf hanyalah wajah berbeda dari penderitaan yang sama: ketidakadilan struktural dan kepicikan politik.

Dalam konteks itu, PBB perlu memperluas partisipasi masyarakat sipil, memperkuat sistem perlindungan HAM, dan memastikan distribusi bantuan kemanusiaan yang transparan. Dunia memerlukan reformasi moral, bukan hanya struktural. Sebagaimana diserukan Wilson Lalengke: “Damai tidak selalu lahir dari meja perundingan. Kadang, damai lahir dari satu suara yang jujur dan satu hati yang berani.”

*Harapan dari Timur*

Pidato Wilson kini dikenang sebagai momen langka di panggung PBB — ketika suara dari Timur mengguncang nurani global. Ia menunjukkan bahwa kekuatan sejati bangsa bukan terletak pada senjata, melainkan pada keteguhan moral dan empati.

Jelas, di tengah kegelapan konflik dan kemiskinan, dunia sangat membutuhkan orang seperti “Wilson”. Yaitu mereka yang berani berbicara tanpa takut kehilangan apa pun kecuali kemanusiaan itu sendiri.

Sebelum meninggalkan New York, Wilson menulis satu kalimat pendek di catatan pribadinya: “Aku tidak membawa nama negara, tetapi aku membawa suara manusia.”

Kalimat itu kini menjadi pengingat: bahwa perubahan dunia bisa dimulai dari suara seorang pewarta, dari ruang sidang di PBB, dari hati yang menolak diam di tengah penderitaan umat manusia.

Dari Gaza ke Tindouf, dari Sudan hingga Jakarta, dunia masih mencari arti kemanusiaan sejati.
Namun sore itu, di ruang sidang PBB, seberkas cahaya muncul — bukan dari resolusi atau kekuasaan, melainkan dari keberanian moral seorang anak bangsa. Dan sejarah mencatat: suara yang lahir dari nurani bisa lebih abadi daripada gema senjata.

Selamat untuk Wilson Lalengke yang telah menyadarkan dunia untuk terus berjuang memperbaiki krisis kemanusiaan global.

“A lifelong struggle to improve humanity” harus kita gemakan tanpa henti di muka bumi. [*]

_Oleh: Syaefudin Simon (Kolumnis/Penulis Satupena)_

_Penulis adalah wartawan senior, mantan redaktur Surat Kabar Harian Republika_

Komentar (0)

At the moment there is no comment

Please write your comment

Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) are required

Rekomendasi Untuk Anda

  • Merespons Klarifikasi Bupati Bogor, Ahmad Rohani: Kami Tak Memelintir Fakta, Tapi Minta Bukti Nyata Penertiban Tambang

    • calendar_month Jum, 15 Mei 2026
    • account_circle Rls/Red
    • visibility 17
    • 0Comment

    Tegarnews.co.id – Kabupaten Bogor, 15 Mei 2026 | Polemik kebijakan pertambangan di Kabupaten Bogor Melalui pesan tertulis yang beredar di Grup Whatsap Media Bongkar Dengan SS yang diduga Penyampaian Bupati Bogor, Rudy Suswanto memberikan klarifikasi dan menegaskan bahwa permohonan yang ia sampaikan saat bertemu massa di Cibinong pekan lalu adalah meminta pembukaan kembali hanya untuk […]

  • Merajut Persaudaraan, Membangun Ekonomi: Ketua DPD GMOCT Jateng Dampingi Ketua KSP Makmur Mandiri di Acara Adat Batak Semarang

    • calendar_month Sab, 12 Jul 2025
    • account_circle Tim/Red
    • visibility 137
    • 0Comment

    Tegarnews.co.id-Semarang, 13 Juli 2025| (GMOCT)-Ketua KSP Makmur Mandiri, Drs. Tumbur Naibaho, MM, turut serta dalam acara adat Batak Mangain Boru, Marhata Sinamot dohot Maria Raja di Sopo Godang HKBP Kertanegara, Semarang. Acara adat yang merupakan rangkaian pernikahan Doinus Hilarius Hot Raja Girsang, BA dan Dinda Sri Estu br. Tumanggor, S. Hub. Int. (yang akan dilangsungkan […]

  • Polres Serang Tangkap 3 Anggota Geng Motor Pelaku Pengeroyokan Remaja

    • calendar_month Sab, 24 Jan 2026
    • account_circle Rls/Red
    • visibility 121
    • 0Comment

    Tegarnews.co.id-Serang, 25 Januari 2026| Petugas gabungan dari Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Serang dan Unit Reskrim Polsek Kopo menangkap tiga anggota geng motor yang diduga mengeroyok seorang remaja hingga mengalami luka serius di bagian kepala. Penangkapan dilakukan pada Selasa malam, 20 Januari 2026. Kapolres Serang AKBP Andri Kurniawan mengatakan, ketiga pelaku yang ditangkap di Desa […]

  • Perkuat Layanan Rehabilitasi, Petugas Yayasan ULTRA Addiction Center Tingkatkan Kapasitas SDM dalam Krisis Intervensi

    • calendar_month Sen, 22 Des 2025
    • account_circle Rls/Red
    • visibility 80
    • 0Comment

    Tegarnews.co.id-Jakarta, 22 Desember 2025| Dalam upaya meningkatkan kualitas layanan rehabilitasi Narkoba, Psikotropika, dan Zat Adiktif Lainnya (Napza), Yayasan ULTRA Addiction Center telah menyelenggarakan kegiatan Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) dengan fokus pada tema Krisis Intervensi. Kegiatan ini diikuti oleh para konselor dan asisten konselor yang terlibat langsung dalam proses pemulihan klien. Peningkatan kapasitas ini […]

  • Kapolres Bogor Dan Forkopimda Hadiri Pesta Rakyat Dalam Rangka Hari Bhayangkara Ke 79 Di Lapangan Tegar Beriman

    • calendar_month Rab, 2 Jul 2025
    • account_circle Rls/Red
    • visibility 109
    • 0Comment

    Tegarnews.co.id-Bogor| Dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-79, Polres Bogor menggelar Pesta Rakyat yang berlangsung meriah di Lapangan Tegar Beriman, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, pada Selasa malam (1/7). Kegiatan ini mengusung tema “Polisi untuk Masyarakat” dan menjadi ajang silaturahmi antara kepolisian dengan masyarakat, serta memperkuat sinergi lintas instansi di wilayah Kabupaten Bogor. Acara dimulai pukul 19.30 […]

  • TNI

    Wujudkan Asta Cita Presiden Prabowo, TNI Bangun Jembatan Merah Putih untuk Warga Pebayuran

    • calendar_month Kam, 4 Jun 2026
    • account_circle Husen
    • visibility 37
    • 0Comment

    Tegarnews.co.id – Kabupaten Bekasi, 4 Juni 2026 – Jajaran TNI bersama pemerintah daerah dan masyarakat memulai pembangunan Jembatan Merah Putih dengan menggelar peletakan batu pertama di Kampung Kobak Rengas RT 02/RW 03, Desa Karangjaya, Kecamatan Pebayuran, Kabupaten Bekasi, Rabu (3/6/2026). Pembangunan jembatan tersebut menjadi langkah nyata dalam memperkuat konektivitas desa sekaligus mendukung pemerataan pembangunan yang […]

expand_less