Tegarnews.co.id – Kalimantan, 22 Agustus 2026 | Pemandangan tidak biasa terjadi di Sungai Barito, salah satu sungai terpanjang di Indonesia. Di tengah kondisi cuaca yang semakin kering, debit air Sungai Barito dilaporkan menyusut drastis hingga sebagian dasar sungai dapat dilalui dengan berjalan kaki.
Kondisi tersebut terlihat di sekitar Jembatan Kalahiyen, wilayah Sungai Barito Utara, Kalimantan. Foto dan video mengenai kondisi sungai yang mengering itu dibagikan oleh klimatolog BRIN, Prof. Dr. Erma Yulihastin, melalui akun X pada 8 Agustus 2026.
“Sungai Barito kering imbas El Nino? Jembatan Kalahiyen, Sungai Barito Utara, Kalimantan, ini mengering hingga membuat dasar sungainya bisa dilewati orang untuk menyeberang,” tulis Erma, sembari menyebut foto tersebut dikirim oleh Sandi Widjaja dan tim.
Surutnya air bahkan membuat bagian pondasi jembatan yang biasanya berada di sekitar aliran sungai terlihat lebih jelas. Di sejumlah titik, hamparan pasir dan lumpur yang sebelumnya tertutup air tampak membentuk daratan baru.
Debit Air Menyusut
Fenomena tersebut tidak lepas dari kondisi hidrologis di wilayah hulu. Penurunan curah hujan secara signifikan menyebabkan pasokan air yang mengalir menuju bagian hilir Sungai Barito ikut berkurang.
Kondisi kekeringan kemudian semakin terlihat ketika permukaan air terus menyusut. Sedimentasi juga dapat memperparah tampilan sungai yang mengering. Lumpur dan pasir yang terbawa arus ketika musim hujan dapat mengendap di dasar sungai dan membentuk gundukan atau “pulau pasir” ketika debit air turun.
Namun, kondisi tersebut perlu dibedakan antara fenomena kekeringan meteorologis, hidrologis, dan pengaruh langsung El Niño. El Niño dapat meningkatkan risiko kondisi lebih kering di sejumlah wilayah Indonesia, tetapi penyebab spesifik menyusutnya debit sungai perlu dilihat berdasarkan data curah hujan, debit sungai, kondisi DAS, serta faktor penggunaan lahan.
Sungai yang Menjadi Nadi Kehidupan
Sungai Barito memiliki panjang sekitar 1.090 kilometer dan termasuk salah satu sungai terpanjang di Indonesia. Alirannya melintasi wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan sebelum bermuara ke Laut Jawa.
Hulu sungai berada di kawasan Pegunungan Muller. Dari wilayah hulu, aliran Barito bergerak ke arah selatan dan menjadi bagian penting dari sistem kehidupan masyarakat di sepanjang daerah alirannya.
Sejak dahulu, Sungai Barito berfungsi sebagai jalur transportasi dan perdagangan. Sampai sekarang, masyarakat yang tinggal di bantaran sungai masih menggantungkan berbagai aktivitas kehidupannya pada keberadaan sungai tersebut.
Kawasan seperti Alalak dan Kuin di Kalimantan Selatan juga dikenal memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan sungai. Aktivitas ekonomi, transportasi, hingga tradisi pasar terapung berkembang di kawasan ini.
Karena itu, menyusutnya debit Barito bukan sekadar persoalan pemandangan sungai yang berubah menjadi hamparan pasir. Jika berlangsung lama dan meluas, kekeringan dapat berdampak terhadap transportasi sungai, kebutuhan air masyarakat, aktivitas ekonomi, perikanan, hingga ekosistem sungai.
Pemandangan dasar Sungai Barito yang sampai dapat diseberangi dengan berjalan kaki menjadi pengingat bahwa perubahan kondisi iklim dan cuaca ekstrem bukan lagi sekadar persoalan angka dalam laporan klimatologi.
Ketika sungai yang selama berabad-abad menjadi nadi kehidupan mulai kehilangan airnya, masyarakat di sepanjang alirannya menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.(Rls/Red)














