Tegarnews.co.id – Jakarta, 23 Oktober 2026 | Presiden Prabowo Subianto sadar betul dia tidak punya banyak waktu. Kalau dia tidak menghentikan pengaruh bekas presiden, Joko Widodo (Jokowi), maka dialah yang akan dijegal oleh ketua Geng Solo itu.
Tersiar video yang menunjukkan Nusron Wahid (NW), menteri ATR/Kepala BPN, sedang digiring ke mobil dan dibawa pergi. Belum jelas apakah ini penahanan atau peristiwa lain. NW beberapa hari pergi ke Malaysia. Tidak jelas apa tujuan dia menyeberang ke negara tetangga. Andaikata mencoba kabur, bodoh sekali. Cepat atau lambat pasti akan tertangkap juga. Kalau ada urusan lain yang terkait dengan hasil korupsi, misalnya, bisa dipahami.
Jika kita fokus ke upaya pembersihan kabinet dari orang-orang Jokowi, sebetulnya penyingkiran NW relatif mudah dilakukan. Sebab, bukti korupsi dia sangat keras. Tak terbahtahkan.
Pola penyingkiran seperti ini sangat efektif. Jokowi dan gerombolan pendukungnya tidak bisa bilang apa-apa. Cara ini bisa diperluas ke figur-figur titipan Jokowi lainnya yang masih duduk di kursi menteri.
Rata-rata titipan Jokowi di kabinet Prabowo punya masalah hukum. Tinggal memberi lampu hijau saja ke KPK, Kejaksaan maupun Kepolisian. Dan kelihatannya lembaga antirasuah sudah mendapatkan itu.
Kita telusuri beberapa menteri lain yang pernah berkasus dan kasus-kasus itu masih bisa diaktifkan kembali. Sebagai contoh adalah Zulkifli Hasan yang berposisi sebagai menko. Dia diduga kuat menerima suap dalam proses alih fungsi hutan di Riau menjadi lahan sawit. Kasus ini berlangsung pada 2014 semasa pemerintahan Presiden SBY.
Terpidana kasus ini, yaitu gubernur Riau waktu itu, Annas Maamun, menyebut nama Zulhas di persidangan. Namun di era Jokowi kasus Zulhas tidak berlanjut. Hari ini, kalau Prabowo mau, kasus Zulhas bisa dihidupkan lagi dan sangat berpotensi masuk penjara. Dengan begini Prabowo mudah menyingkirkan si Jokower garis keras ini.
Kemudian Tito Karnavian —menteri dalam negeri. Beliau ini memang “kelas berat”. Tapi jika Prabowo benar-benar bertekad kuat, pasti gol. Kasus dugaan korupsi-gratifikasi Tito sangat kuat. Terkenal dengan perobekan “buku berwarna merah” yang berisi catatan pengeluaran uang sogok satu perusahaan. Waktu itu kasus Tito dijuluki dengan “buku merah”.
Buku itu mencatat aliran dana dari Basuki Hariman (CV Sumber Laut Perkasa) kepada sejumlah pihak termasuk dugaan adanya nama Tito yang waktu itu masih menjadi petinggi Polri.
Pada 7 April 2017, dalam laporan investigasi “IndonesiaLeaks”, terungkap rekaman CCTV di kantor penyidik KPK yang memperlihatkan dua penyidik KPK asal Polri (yaitu Harun dan Roland Ronaldy) diduga kuat merobek lembaran “Buku Merah” yang di situ tertera nama Tito Karnavian.
Sebelum itu penyidik KPK, Novel Baswedan, membicarakan soal buku tersebut kepada Tito. Tak lama kemudian Novel kena siram air keras yang menyebabkan matanya buta.
Mungkin saja berat bagi Prabowo untuk membuka kembali kasus “Buku Merah” itu. Tetapi, kalau Prabowo hari ini bertekad menyingkirkan jokower garis keras, maka sudah saatnya dia membuang Tito Karnavian yang berposisi sangat penting sebagai menteri dalam negeri.
Selanjutnya Bahlil Lahadalia. Orang ini juga sangat mengganggu bagi Prabowo. Sebaiknya jangan membiarkan dia terlalu lama bercokol di kabinet. Kalau soal posisi dia di Golkar sebagai Ketum, tidak perlu dikhawatirkan. Sebab, di kalangan Golkar pun si Bahlil tidak disukai. Berbagai sumber mengatakan Bahlil disuruh Jokowi mengambil alih Beringin.
Tiga figur penting ini bisa disingkirkan oleh Prabowo jika dia mau. Tidak akan terjadi pemberontakan di kabinet. Banyak eleman di PAN yang senang Zulhas digantikan sebagai ketum. Tito tidak punya partai. Bahlil juga banyak musuh di Golkar. Partai Beringin tidak akan melawan Prabowo.
Jadi, jika Prabowo mau, semua titipan Jokowi bisa disingkirkan. Toh hari ini sudah genap dua tahun mereka menjadi kerikil yang bisa menyebabkan Presiden tersungkur.[]
20 Oktober 2026
(Wartawan Senior Freedom News)














