Dulu Kalah Dua Kali, Kini Jadi Gubernur Dua Periode! Inilah Kisah Pantang Menyerah Khofifah Indar Parawansa di Jawa Timur
- account_circle Rls/Red
- calendar_month 15 hour ago
- visibility 6
- comment 0 comment

Tegarnews.co.id-Jakarta, 20 Februari 2026| Dalam politik, kekalahan sering kali dianggap sebagai akhir dari perjalanan. Namun bagi Khofifah Indar Parawansa, kekalahan hanyalah jeda untuk menyusun kekuatan yang lebih besar. Kisah hidupnya di Jawa Timur adalah sebuah pelajaran berharga tentang apa arti sesungguhnya dari kata “pantang menyerah”.
Kini, saat ia kembali mengemban amanah sebagai Gubernur Jawa Timur untuk periode 2025–2030, dunia melihatnya bukan hanya sebagai pemenang, melainkan sebagai pejuang yang berhasil menaklukkan nasibnya sendiri.
Ujian Kesabaran: Pahitnya Kegagalan 2008 dan 2013
Mundur ke belakang, publik Jawa Timur tentu ingat betapa terjal jalan yang harus dilalui Khofifah. Pada Pilgub 2008 dan 2013, ia harus menelan pil pahit kekalahan secara berturut-turut. Saat itu, banyak pengamat yang memprediksi bahwa nama Khofifah akan meredup dan sulit untuk kembali bertarung di Jawa Timur.
Namun, alih-alih menyerah, Khofifah memilih untuk tetap mengabdi. Ia menjaga hubungan erat dengan akar rumput, terutama melalui perannya sebagai Ketua Umum Muslimat NU. Di sana, ia terus merawat harapan jutaan perempuan di desa-desa, membuktikan bahwa dedikasinya tidak bergantung pada jabatan.
“Rebound” Luar Biasa: Murid Gus Dur yang Mendunia
Kedekatan ideologisnya dengan almarhum Gus Dur menempa Khofifah menjadi politisi yang tahan banting. Setelah membuktikan kapasitasnya sebagai Menteri Sosial di era Presiden Jokowi (2014–2018), ia kembali ke Jawa Timur pada 2018 dengan kesiapan penuh.
Hasilnya luar biasa. Ia berhasil memenangkan hati rakyat dan menjadi gubernur perempuan pertama dalam sejarah Jawa Timur. Kemenangan itu seolah membayar tuntas semua tetes keringat dan air mata di masa lalu.
Kemenangan Mutlak di Periode Kedua
Kepercayaan masyarakat Jawa Timur mencapai puncaknya pada Pilgub 2024. Kembali berpasangan dengan Emil Elestianto Dardak, Khofifah berhasil meraih kemenangan mutlak dengan lebih dari 12 juta suara (58,81%).
Pencapaian ini bukan sekadar soal angka, melainkan bukti nyata bahwa rakyat puas dengan kinerjanya selama periode pertama. Mulai dari penurunan angka kemiskinan ekstrem, pengembangan desa wisata, hingga ketangguhannya membawa Jatim melewati badai pandemi COVID-19.
Memimpin dengan Hati, Bekerja dengan Data
Gaya kepemimpinan Khofifah dikenal unik. Ia bisa tampil sangat formal di pertemuan internasional, namun di saat yang sama tak ragu untuk lesehan bersama warga atau menggendong anak kecil di pelosok desa. Bagi Khofifah, memimpin Jawa Timur yang luas adalah soal “belanja masalah”—turun langsung ke lapangan untuk mendengar keluhan rakyat secara nyata.
Penutup: Pesan untuk Generasi Muda
Kisah Khofifah Indar Parawansa adalah bukti bahwa “Kekalahan tidak akan mematikanmu, kecuali jika kamu memutuskan untuk berhenti.” Dari seorang menteri termuda di era Gus Dur hingga menjadi Srikandi Jawa Timur yang menjabat dua periode, ia memberikan pesan kuat bagi siapa pun yang sedang berjuang:
“Teruslah bergerak, teruslah mengabdi. Karena kemenangan yang paling manis adalah kemenangan yang diraih setelah melewati rentetan kegagalan.”[]
- Author: Rls/Red
- Editor: Redaksi
- Source: Wikipedia



At the moment there is no comment