80% Warga AS Curiga Trump Sengaja Memulai Perang demi Mengalihkan Perhatian dari Terbongkarnya Berkas Epstein
- account_circle Rls/Red
- calendar_month 9 hour ago
- visibility 5
- comment 0 comment

Tegarnews.co.id – Jakarta, 7 Maret 2026 | Sebuah jajak pendapat terbaru di Amerika Serikat mengungkap tingkat ketidakpercayaan publik yang sangat tinggi terhadap motif perang yang dipicu oleh Presiden Donald Trump.
Sebanyak 80% responden meyakini bahwa eskalasi militer terhadap Iran bukanlah semata-mata soal keamanan nasional, melainkan strategi pengalihan isu. Masyarakat curiga bahwa genderang perang ditabuh tepat saat dokumen sensitif terkait skandal Jeffrey Epstein mulai terkuak kembali ke publik.
Dokumen-dokumen terbaru tersebut dikabarkan berisi nama-nama elit Washington dan tokoh berpengaruh yang diduga terlibat dalam jaringan pr3dator s3kswal kelas atas.
Pengamat politik menilai bahwa narasi perang adalah cara paling efektif untuk membungkam pemberitaan media mengenai skandal moral yang bisa meruntuhkan karier banyak pejabat. Dengan adanya ancaman nuklir Iran, fokus masyarakat dan media secara otomatis berpindah ke isu kelangsungan hidup negara.
Ketegangan global yang meningkat tajam dalam hitungan hari membuat pengawasan terhadap kasus Epst3in seolah mendingin seketika. Namun, publik Amerika tampaknya tidak semudah itu tertipu oleh pola yang dianggap sudah sangat klasik dalam dunia politik kekuasaan. Tagar mengenai pengaitan antara ruda1 dan berkas rahasia tersebut terus menjadi tren di berbagai media sosial sebagai bentuk protes warga atas manipulasi informasi.
Hingga kini, Gedung Putih membantah keras tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa serangan ke Iran adalah murni langkah defensif. Namun, perbedaan antara retorika pemerintah dan opini publik semakin melebar, menciptakan polarisasi yang tajam di dalam negeri AS sendiri.
Pertanyaan besarnya kini adalah apakah kebenaran di balik berkas tersebut akan tetap terungkap di tengah bisingnya suara ledakan bom di Timur Tengah.[]
- Author: Rls/Red
- Editor: Redaksi
- Source: Hagia Sofia



At the moment there is no comment