Tegarnews.co.id – Jakarta, 8 Juli 2026 | Senin pagi, 6 Juli 2026, pasukan kehormatan sudah berdiri tegak di sepanjang koridor Istana Merdeka ketika iring-iringan kendaraan membawa Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong memasuki halaman istana. Prabowo Subianto sudah menunggu di Serambi Barat, mengenakan jas hitam dengan kopiah dan dasi biru muda. Mereka berjabat tangan, dan kedua lagu kebangsaan dikumandangkan – momen sederhana yang menjadi pembuka satu hari pertemuan intensif yang akhirnya menghasilkan 26 kesepakatan konkret di hampir semua sektor yang bisa dibayangkan.
Ini bukan kunjungan biasa. Ini adalah Leaders’ Retreat Indonesia–Singapura yang kedua bagi dua pemimpin ini. Pertemuan pertama berlangsung di Singapura pada Juni 2025, menghasilkan 19 kesepakatan. Setahun kemudian, giliran Jakarta yang menjadi tuan rumah, dan angkanya melonjak jadi 26 – terdiri dari 18 kesepakatan antarpemerintah (G2G) dan 8 kesepakatan antarpelaku usaha (B2B).
Wong datang dengan rombongan menteri yang lengkap. Mendampinginya adalah Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Perdagangan dan Industri Gan Kim Yong, Menteri Koordinator Pelayanan Publik sekaligus Menteri Pertahanan Chan Chun Sing, Menteri Luar Negeri Vivian Balakrishnan, Menteri Pembangunan Sosial dan Keluarga Masagos Zulkifli, serta Menteri Tenaga Kerja merangkap Menteri Energi dan Sains & Teknologi Tan See Leng. Di sisi Indonesia, Prabowo didampingi antara lain Menteri Luar Negeri Sugiono, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Rosan Roeslani, Mensesneg Prasetyo Hadi, dan Seskab Teddy Indra Wijaya.
Pertemuan diawali dengan sesi tete -a-tete – dua pemimpin berbicara empat mata tanpa notulen – lalu dilanjutkan dengan rapat yang disertai makan siang kerja sebelum ditutup pernyataan pers bersama. Dari dalam ruang kredensial itulah rangkaian kesepakatan disaksikan dan ditandatangani.
Dalam keterangan pers bersama, Prabowo merangkum suasana pertemuan dengan satu frasa yang cukup menggambarkan: “dari hati ke hati.” Ia menyebut diskusi berlangsung intensif, produktif, dan terbuka, termasuk soal bagaimana dua negara tetangga ini akan menyelesaikan perbedaan pandangan bila muncul di masa depan. “Kita sepakat bahwa apabila ada salah paham atau salah persepsi, kita akan menyelesaikannya sebagai sahabat, secara terbuka,” kata Prabowo.
Di antara 26 kesepakatan itu, sejumlah hal menonjol. Indonesia secara resmi menunjuk Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) untuk mengawal implementasi perdagangan listrik lintas batas dengan Singapura – sebuah langkah yang menandai babak baru konektivitas energi regional. Dua perusahaan energi Singapura, Keppel Electric dan Sembcorp Utilities, masing-masing menandatangani MoU pembelian listrik dengan Danantara. Proyek pembangkit listrik tenaga surya skala besar di Sulawesi Tengah juga masuk dalam daftar, melibatkan Sembcorp, Sumber Energi Surya Nusantara, dan Indonesia Investment Authority.
Di bidang keuangan digital, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Monetary Authority of Singapore (MAS) menandatangani MoU kerja sama fintech. Singapore Business Federation dan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) juga bersepakat soal fasilitasi perdagangan berbasis kecerdasan buatan (AI) khusus untuk pelaku UMKM. Kawasan Industri Kendal masuk dalam daftar dengan penandatanganan perluasan Fase II yang sekaligus menjadi peringatan hari jadi ke-10 kawasan industri yang menjadi salah satu ikon kerja sama bilateral itu.
Kerja sama pertahanan juga diperbarui. Kedua negara menegaskan komitmen untuk terus mengimplementasikan perjanjian pertahanan yang telah ada, sementara sebuah proyek percontohan produksi bio-metanol pertama di Indonesia dirancang untuk berdiri di Sumatra Utara, melibatkan CRecTech dan Pertamina New & Renewable Energy.
Prabowo menyebut semua ini sebagai cerminan dari hubungan yang sudah 59 tahun berjalan dan semakin matang. Tahun depan, tepatnya 2027, Indonesia dan Singapura akan memperingati 60 tahun hubungan diplomatik – sebuah momentum yang oleh kedua negara sudah mulai dipersiapkan melalui inisiatif bertajuk “Rising 60.” Bagi Prabowo, apa yang diselesaikan di Istana Merdeka hari ini adalah bekal menuju peringatan itu. “Kita melihat hubungan ini harus terus langgeng pada masa-masa yang akan datang,” katanya.
Lawrence Wong, di sisi lain, memberikan sinyal bahwa minat investor Singapura terhadap Indonesia tetap kuat. Ia secara khusus menyebut kawasan Batam, Bintan, dan Karimun yang menurutnya telah berkembang menjadi pusat ekonomi digital yang berhasil menarik perusahaan global. Itu pula yang membuat kerangka kolaborasi antara Singapore Manufacturing Federation dan Himpunan Kawasan Industri Indonesia menjadi salah satu kesepakatan yang dinilai strategis oleh kedua delegasi.
Sore harinya, Prabowo mengantarkan Wong berjalan dari Ruang Kredensial menuju serambi barat istana. Keduanya berbincang santai, sesekali tertawa, sebelum iring-iringan membawa PM Wong kembali ke Singapura. Di belakang mereka, 26 dokumen sudah ditandatangani.(Rls/Red)













