Tegarnews.co.id – Jakarta, 10 Juli 2026 | Kalau kemarin publik begadang menunggu kelanjutan drama Brankas Cipete, sekarang serialnya pindah lokasi. Bukan lagi Jakarta. Sutradaranya seolah memindahkan syuting ke Jawa Tengah. Penonton pun langsung gelar tikar lagi. Koptagul diseruput pelan-pelan. Laga Prancis versus Maroko pukul 03.00 nanti boleh tetap ditonton, tapi duel satu ini jauh lebih bikin jantung naik turun.
Kick-off babak baru dimulai ketika beredar surat dari Bidpropam Polda Jawa Tengah yang isinya langsung membuat grup WA aparat dan netizen mendidih seperti warga Mesir marah pada FIFA.
Instruksinya tegas. Personel Polri diminta tidak memenuhi panggilan Kejaksaan Negeri tanpa prosedur pendampingan yang sah. Kalau memang pemeriksaan harus dilakukan, silakan… tetapi di Mapolres, didampingi Bidpropam, Itwasda, dan Bidkum.
Kalau diterjemahkan ke bahasa sepak bola, pelatih Cokelat Muda sedang berteriak dari pinggir lapangan. “Jangan ada pemain keluar lapangan sendirian! Kalau dipanggil lawan, tunggu ofisial datang!”
Belum cukup sampai di situ. Surat itu juga meminta pendataan kembali seluruh pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dikelola anggota Polri maupun keluarganya. Bahkan bila ada yang dipanggil penyidik kejaksaan, materi pertanyaannya pun diminta ikut dilaporkan. Ruang pelayanan publik Polri juga diperintahkan dijaga Provos agar tidak terjadi operasi tangkap tangan oleh pihak yang tidak berkepentingan.
Netizen langsung berdiri dari tikarnya. “Waduh… pertandingan mulai keras.”
Kabid Humas Polda Jawa Tengah Kombes Pol Artanto mengonfirmasi surat tersebut memang benar. Namun, ia menegaskan, isinya hanyalah pengingat agar seluruh anggota tertib administrasi dan mengikuti prosedur. Polda tetap mendukung proses pemeriksaan oleh institusi mana pun. Tidak ada larangan terhadap penegakan hukum, hanya penekanan agar mekanismenya sesuai aturan.
Secara resmi, penjelasan itu selesai. Secara netizen, pertandingan baru dimulai.
Sebab momentum keluarnya surat itu dianggap terlalu menarik untuk diabaikan. Di satu sisi, Kejaksaan Agung sedang mengusut dugaan korupsi program Makan Bergizi Gratis di Badan Gizi Nasional. Sudah tujuh tersangka, termasuk dua purnawirawan Polri, yakni Irjen (Purn) Sony Sonjaya dan Brigjen Lalu Muhammad Iwan.
Di sisi lain, Polri sedang menjadi sorotan setelah membongkar rangkaian penggeledahan spektakuler terkait dugaan korupsi dan TPPU dalam perkara PLN batu bara, Asabri, dan Krakatau Steel.
Akhirnya publik merasa sedang menyaksikan dua klub raksasa yang sama-sama bermain menyerang. Yang satu sibuk menetapkan tersangka. Yang satu lagi sibuk membongkar brankas.
Media sosial pun berubah menjadi studio analisis pertandingan. Ada menghitung penguasaan bola, penguasaan barang bukti, bahkan ada bercanda kalau papan skor sekarang bukan lagi 1-0 atau 2-1, melainkan “Brankas 2, Surat Edaran 1.”
Tentu, semua itu hanyalah metafora. Secara kelembagaan, Polri dan Kejaksaan sama-sama menyatakan bekerja sesuai kewenangan dan koridor hukum masing-masing. Belum ada pernyataan resmi menyebut adanya konflik antarlembaga.
Namun, publik telanjur menikmati dramanya. Sebagai kilas balik, episode Brankas Cipete memang masih menggantung. Penggeledahan di Cipete dan Sentul menghasilkan penyitaan uang, emas, valuta asing, dokumen, dan barang bukti lain dengan nilai ratusan miliar rupiah. Hingga kini penyidik masih melakukan pendalaman dan belum mengumumkan tersangka dari rangkaian penggeledahan tersebut.
So, kalau Prancis melawan Maroko nanti ditentukan oleh siapa paling banyak mencetak gol, Derby Cokelat Muda versus Cokelat Tua tampaknya akan ditentukan oleh siapa yang lebih dulu memberi kejutan berikutnya. Rakyat tinggal menambah stok koptagul, karena serial ini sepertinya masih jauh dari tulisan “Tamat.”
Ups, ada ketinggalan, info terbaru, Presiden Prabowo minta Jampidsus Febrie Ardiansyah mengundurkan diri. Wah, Cokelat Muda berada di atas angin ni. Tunggu lanjutannya, wak!.(Rls/Red)
Sumber: Rosadi Jamani
(Ketua Satu Pena Kalbar)
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa. #JYM














