Tegarnews.co.id – Jakarta, 1 Agustus 2026 | Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah secara tidak langsung ingin menegaskan bahwa ia bukanlah pemilik asli dari emas batangan seberat 74 kilogram yang ditemukan di kediamannya di Sentul. Melalui kuasa hukumnya, Febri Diansyah, ia justru menantang Korps Adhyaksa untuk membuktikan siapa sebenarnya pemilik sah dari logam mulia dan uang ratusan miliar tersebut.
Siapa pemilik emas 74 kilogram itu ternyata bukan hanya Febrie dan Tuhan yang tahu, patut di duga Kejaksaan Agung pun ada yang tahu. Agaknya penyidikan terjadap Febrie ini tidak akan sampai keujung, hanya akan sampai di Febrie.
Emas Berkembang biak di Rumah Orang
Sungguh sebuah fenomena supranatural yang hanya bisa terjadi di negeri kita tercinta. Bagaimana mungkin, emas murni seberat 74 kilogram—yang beratnya setara dengan satu orang dewasa—bisa “tersesat” dan bersarang dengan nyaman di dalam rumah seorang (mantan) penegak hukum tanpa diketahui siapa bapak dan ibunya?
Tantangan Febrie kepada Kejaksaan Agung ini adalah sebuah seni “buang badan” yang sangat estetik. Pesan tersiratnya sangat jelas: “Saya ini cuma menyediakan kos-kosan gratis untuk logam mulia. Kalau mau tahu siapa tuannya, ya cari sendiri dong, kan kalian yang punya seragam penyidik!”
Siapa yang Sedang Disasar?
Dengan meminta penyidik melacak pemilik asli, Febrie sebenarnya sedang melempar bom waktu ke arah panggung sirkus yang jauh lebih besar. Ada beberapa “kemungkinan jenius” tentang siapa yang sedang ia sasar secara tidak langsung:
● Para “Sultan” Pemilik Perkara: Emas sebanyak itu tentu bukan hasil patungan arisan RT. Febrie seolah sedang berbisik kepada Kejaksaan Agung bahwa emas itu adalah “monumen persahabatan” dari para pengusaha kakap atau koruptor papan atas yang pernah memakai “jasa pengamanan” perkara. Jika namanya dibuka, maka gerbong besar di belakangnya dijamin akan ikut terguling.
● Institusinya Sendiri: Ini adalah gertakan balik yang sangat rapi. Dengan menantang Kejaksaan Agung, Febrie ingin membuktikan apakah mantan koleganya itu punya cukup nyali untuk menangkap “ikan paus” yang sebenarnya, atau justru hanya berani menjadikannya sebagai tumbal tunggal demi menjaga reputasi korps.
● Tim Sukses “Kambing Hitam”: Saat nama-nama seperti swasta Don Ritto atau tersangka baru berinisial NH (Nurman Herin) mulai muncul ke permukaan, publik disuguhi plot twist komedi baru. Febrie ingin menegaskan bahwa jika penyidik cuma berhenti di level kaki tangan atau yayasan fiktif, maka drama kolosal ini hanyalah sebuah parodi hukum yang kurang latihan.
Kesimpulan
Menyimpan emas 74 kg di rumah dan mengaku tidak tahu punya siapa adalah puncak dari kedermawanan seorang pejabat publik. Mungkin besok-besok, kita semua perlu mengecek kolong tempat tidur masing-masing. Siapa tahu, ada orang kaya yang salah titip aset puluhan miliar, dan kita tinggal menantang polisi untuk mencari tahu siapa pemiliknya.(Rls/Red)
Sumber: Ajinatha













