Tegarnews.co.id – Jakarta, 4 September 2026 | Keresahan publik terkait nominal gaji yang dianggap otomatis mendorong seseorang masuk ke kelompok “super kaya” dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) akhirnya mendapat pelurusan. Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menegaskan bahwa besaran penghasilan bulanan bukanlah satu-satunya penentu status ekonomi seseorang. Realitas ekonomi masyarakat jauh lebih kompleks dari sekadar angka di slip gaji, sebab faktor seperti jumlah tanggungan keluarga, kondisi hunian, hingga kepemilikan aset sangat memengaruhi tingkat kesejahteraan riil.
Otoritas penuh dalam menentukan pemeringkatan desil ini berada di tangan Badan Pusat Statistik (BPS). Gus Ipul menyampaikan bahwa Kemensos tidak sekadar melihat angka penghasilan, melainkan menyerahkan penilaian mendalam kepada BPS yang memiliki instrumen pengukuran komprehensif. BPS bekerja menggunakan puluhan indikator terukur dan variabel yang diolah secara terpadu, mencakup kondisi fisik rumah (seperti jenis lantai dan dinding), akses air bersih dan listrik, kepemilikan aset, pola konsumsi harian, hingga akses terhadap layanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan.
Melalui pendataan yang holistik tersebut, BPS memperingkatkan individu maupun keluarga mulai dari Desil 1 (kelompok termiskin) hingga Desil 10 (kelompok terkaya). Skema kompleks ini diterapkan dengan tujuan mendasar: memastikan seluruh data penyaluran bantuan sosial dan perumusan kebijakan publik benar-benar akurat, adil, serta tepat sasaran tanpa menyederhanakan kondisi kesejahteraan seseorang hanya dari nominal pendapatan semata.(Rls/Red)














