Dari Aktivis 98 hingga Menjadi Menko: Inilah Perjalanan Gus Imin, Sang Nakhoda PKB yang Selalu Relevan di Setiap Era
- account_circle Rls/Red
- calendar_month 6 hour ago
- visibility 2
- comment 0 comment

Tegarnews.co.id-Jakarta, 22 Februari 2026| Di panggung politik Indonesia, sedikit sosok yang memiliki kelincahan seperti Abdul Muhaimin Iskandar. Pria yang akrab disapa Gus Imin atau Cak Imin ini bukan sekadar politikus biasa; ia adalah penyintas berbagai badai politik yang selalu berhasil menemukan jalan menuju episentrum kekuasaan.
Kini, dengan jabatan barunya sebagai Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Gus Imin membuktikan bahwa nakhoda Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini tetap menjadi tokoh kunci yang relevan, melintasi berbagai rezim pemerintahan.
Akar Tradisi dan Mentorship Gus Dur
Lahir di Jombang pada 24 September 1966, Muhaimin adalah bangsawan pesantren. Sebagai cicit dari pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Bisri Syamsuri, darah perjuangan ulama mengalir deras dalam nadinya. Namun, pendidikan formalnya di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Indonesia (UI) menempanya menjadi aktivis yang kritis.
Karier politiknya tak bisa dilepaskan dari sosok KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dari Gus Dur, ia belajar tentang politik kemanusiaan dan keberanian. Dimulai dari kepemimpinannya di PMII hingga menjadi salah satu tim pembentuk PKB, Muhaimin telah menunjukkan bakat kepemimpinan sejak usia muda.
Rekor Pimpinan Parlemen Termuda
Dunia politik nasional pertama kali terperangah saat Muhaimin menduduki kursi Wakil Ketua DPR RI pada tahun 1999. Saat itu, usianya baru 33 tahun—menjadikannya salah satu pimpinan parlemen termuda dalam sejarah Republik Indonesia.
Kemampuannya dalam bernegosiasi dan menjaga stabilitas partai membuatnya bertahan di kursi pimpinan legislatif dalam berbagai periode (1999–2009 dan 2019–2024). Ia bukan hanya mewakili suara santri, tapi juga menjadi jembatan bagi berbagai kepentingan politik di Senayan.
Dari Kabinet SBY hingga Menko di Era Prabowo
Muhaimin adalah politikus yang “kenyang” pengalaman eksekutif. Di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), ia dipercaya menjadi Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (2009–2014). Di sana, ia bergulat dengan isu-isu buruh dan perlindungan PMI di luar negeri.
Meski sempat menempuh jalan berbeda dalam kontestasi Pilpres 2024 sebagai Calon Wakil Presiden pendamping Anies Baswedan, magnet politik Muhaimin tak meredup. Pasca-Pilpres, ia kembali dipanggil untuk memperkuat pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sebagai Menteri Koordinator. Posisi ini sangat strategis, karena ia bertugas mengoordinasikan pemberdayaan masyarakat—sektor yang menjadi urat nadi konstituennya.
Nahkoda Tangguh bagi PKB
Prestasi yang paling sulit dibantah adalah keberhasilannya menjaga PKB. Di bawah kepemimpinannya sejak 2005, PKB bertransformasi menjadi partai modern yang suaranya terus meningkat melampaui raihan awal saat partai didirikan. Ia berhasil membawa PKB keluar dari berbagai konflik internal dan menjadikannya partai yang selalu diperhitungkan dalam setiap koalisi pemenang.
Menjaga Relevansi di Tengah Perubahan
Mengapa Gus Imin selalu relevan? Jawabannya terletak pada kombinasinya antara basis massa religius yang kuat (kaum nahdliyin) dan gaya politik yang fleksibel serta pragmatis namun tetap terukur. Ia memahami kapan harus bertarung dan kapan harus merangkul.
Bagi Muhaimin Iskandar, politik adalah seni kemungkinan. Dari jalanan sebagai aktivis 98 hingga ruang rapat koordinasi menteri, perjalanannya adalah bukti bahwa konsistensi dan adaptabilitas adalah kunci untuk terus bertahan di puncak kekuasaan demi mengabdi pada rakyat.[]
- Author: Rls/Red
- Editor: Redaksi
- Source: Hagia Sofia (Wukipedia)



At the moment there is no comment