Dari Santri Gontor hingga Jadi Doktor UCLA Amerika! Inilah Din Syamsuddin, Putra Sumbawa yang Namanya Harum di Markas PBB New York
- account_circle Rls/Red
- calendar_month 9 hour ago
- visibility 3
- comment 0 comment

Tegarnews.co.id-Jakarta, 22 Februari 2026| Di panggung internasional, tidak banyak tokoh Indonesia yang mampu berbicara tentang agama, perdamaian, dan politik global dengan sangat fasih sekaligus disegani oleh para pemimpin dunia. Namun, bagi masyarakat Nusa Tenggara Barat dan warga Muhammadiyah, nama Prof. Dr. Din Syamsuddin adalah bukti nyata bahwa anak daerah bisa mengguncang dunia.
Lahir di Sumbawa pada 31 Agustus 1958, pria bernama lengkap Muhammad Sirajuddin Syamsuddin ini menempuh perjalanan hidup yang luar biasa. Ia bertransformasi dari seorang santri yang lekat dengan sarung di pesantren, menjadi intelektual kelas dunia yang suaranya bergema di markas besar PBB, New York.
Pondasi Gontor dan “Gelar” Amerika
Kunci keberhasilan Din Syamsuddin terletak pada kedalaman akarnya. Ia menghabiskan masa mudanya di Pondok Modern Darussalam Gontor, tempat di mana disiplin dan kemampuan bahasa asing (Arab dan Inggris) ditempa dengan keras. Pondasi inilah yang membuatnya tak canggung saat harus terbang ke Amerika Serikat untuk menempuh studi lanjut.
Tak tanggung-tanggung, ia meraih gelar Master (M.A.) hingga Doktor (Ph.D) dari University of California, Los Angeles (UCLA), salah satu universitas papan atas di Negeri Paman Sam. Di sana, ia membedah pemikiran Islam dengan kacamata akademik global, menjadikannya sosok Muslim moderat yang mampu menjembatani perbedaan antara peradaban Barat dan Timur.
Nahkoda Muhammadiyah yang Mendunia
Kembali ke tanah air, karier Din melesat bak meteor. Ia dipercaya memimpin Muhammadiyah selama dua periode (2005–2015), organisasi Islam modernis terbesar di dunia. Di bawah kepemimpinannya, Muhammadiyah tidak hanya bergerak di bidang sosial-pendidikan, tapi juga aktif menyuarakan isu-isu kemanusiaan internasional.
Ia juga sempat mengemban amanah sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI). Kehadirannya selalu menjadi penyejuk di tengah dinamika umat, karena kemampuannya dalam berdialog dengan berbagai kelompok secara inklusif.
Diplomat Perdamaian dari Markas PBB hingga Vatikan
Dunia internasional mengenal Din Syamsuddin sebagai “Man of Dialogue”. Nama beliau harum di berbagai lembaga prestisius dunia. Ia menjabat sebagai Presiden Kehormatan World Conference on Religions for Peace (WCRP) yang berbasis di New York, hingga memimpin organisasi perdamaian lintas agama di tingkat Asia (ACRP) di Tokyo.
Namanya sering muncul dalam daftar 500 Muslim Paling Berpengaruh di Dunia
Din dikenal gigih mengampanyekan bahwa Islam adalah agama damai. Ia tak segan bertemu dengan pemimpin Gereja Katolik di Vatikan hingga berbicara di podium internasional untuk meluruskan kesalahpahaman dunia terhadap Islam.
Putra Sumbawa yang Tetap Membumi
Meskipun sudah melanglang buana dari Tokyo ke New York, Din Syamsuddin tetaplah sosok yang membumi. Ia adalah Guru Besar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang tetap berdedikasi mengajar generasi muda. Jejak kariernya yang luas—mulai dari akademisi, birokrat, hingga politisi—menunjukkan bahwa ia adalah sosok yang multifaset.
Kisah Din Syamsuddin mengajarkan kita satu hal penting: bahwa ijazah pesantren dan latar belakang anak daerah bukanlah penghalang untuk mencapai puncak dunia. Dengan modal kecerdasan, integritas, dan semangat perdamaian, putra asli Sumbawa ini berhasil membuktikan bahwa Indonesia memiliki pemimpin hebat yang diakui semesta.[]
- Author: Rls/Red
- Editor: Redaksi
- Source: Hagia Sofia (Wikipedia)



At the moment there is no comment