Lebih dari 70 Ribu Warga Palestina Tewas di Jalur Gaza “Kini Muncul Fakata Baru!
- account_circle Rls/Red
- calendar_month Jum, 30 Jan 2026
- visibility 100
- comment 0 comment

Tegarnews.co.id-Jakarta, 31 Januari 2026| Lebih dari 70.000 warga Palestina dilaporkan tewas di Jalur Gaza sejak perang pecah pada 7 Oktober 2023. Angka ini selama berbulan-bulan dibantah dan diragukan, namun kini muncul fakta baru.
Media Israel Haaretz melaporkan bahwa militer Israel secara internal mengakui angka korban yang dirilis Kementerian Kesehatan Gaza sesuai dengan perhitungan mereka sendiri, menurut pernyataan seorang pejabat senior keamanan.
Kantor berita internasional Reuters juga mengonfirmasi laporan tersebut. Dalam beritanya, Reuters menyebut pejabat militer Israel memperkirakan jumlah korban tewas di Gaza berada di kisaran 70.000 orang, meskipun belum diumumkan secara resmi dalam pernyataan publik pemerintah.

Selama konflik berlangsung, Israel kerap menyebut data korban dari Gaza “tidak dapat diverifikasi”. Namun laporan terbaru ini menunjukkan bahwa angka yang sebelumnya diperdebatkan kini dinilai kredibel secara internal.
Di sisi lain, United Nations melalui badan kemanusiaannya berulang kali memperingatkan bahwa angka resmi kemungkinan masih lebih rendah dari kenyataan. Ribuan orang diyakini masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan, sementara keterbatasan akses medis dan evakuasi membuat proses pendataan tidak maksimal.
Pejabat kemanusiaan PBB menyebut, jika korban yang hilang dan belum ditemukan turut diperhitungkan, jumlah kematian berpotensi mendekati 100.000 jiwa. Namun angka tersebut masih merupakan estimasi, bukan data final yang terverifikasi penuh.
Konflik di Gaza hingga kini terus memicu krisis kemanusiaan besar, dengan kehancuran infrastruktur, rumah sakit, dan kawasan pemukiman padat penduduk. Proses verifikasi menyeluruh terhadap jumlah korban diperkirakan baru dapat dilakukan setelah akses kemanusiaan terbuka sepenuhnya dan konflik berakhir.[]
“Ini bukan sekadar angka
Ini tentang nyawa manusia.”
- Author: Rls/Red
- Editor: Redaksi
- Source: Haaretz/ Reuters/ (PBB)






At the moment there is no comment