Mengenal M. Qodari: Dari Maestro Data ke Menara Istana
- account_circle Rls/Red
- calendar_month Jum, 9 Jan 2026
- visibility 91
- comment 0 komentar

Foto: Muhamad Qodari Kepala Kantor Staf Presiden (KSP)
Tegarnews.co.id-Jakarta, 10 Januari 2026| Nama Muhammad Qodari kini resmi menjadi nakhoda baru di Kantor Staf Kepresidenan (KSP). Pria yang selama dua dekade terakhir dikenal publik sebagai pengamat politik yang lincah dan kontroversial ini, kini berada di pusat lingkar kekuasaan sebagai Kepala Staf Kepresidenan, menggantikan Letjen TNI (Purn) AM Putranto.
Perjalanan karir Qodari mencerminkan pergeseran menarik: dari seorang akademisi yang membedah data pemilu, menjadi aktor yang ikut merumuskan kebijakan di balik gerbang Istana.
*Jejak Akademis dan “Kawah Candradimuka” Riset*
Lahir di Palembang, 15 Oktober 1973, Qodari menempa fondasi intelektualnya di bidang psikologi sosial di Universitas Indonesia (UI). Ketertarikannya pada perilaku pemilih membawanya terbang ke Inggris untuk mendalami Political Behaviour di University of Essex.
Sebelum dikenal sebagai bos Indo Barometer, Qodari melewati masa “magang” di berbagai lembaga bergengsi. Ia tercatat pernah menjadi peneliti di Institut Studi Arus Informasi (ISAI), lalu pindah ke Centre for Strategic and International Studies (CSIS). Namanya mulai melambung saat menjabat sebagai Direktur Riset Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada 2003-2005, sebelum akhirnya mendirikan Indo Barometer pada tahun 2006.
*Kontroversi “Jokpro” dan Tiga Periode*
Kami mencatat, nama Qodari sempat memicu kegaduhan nasional saat ia secara terbuka menggagas gerakan “Jokowi-Prabowo 2024” (Jokpro). Ide yang mendorong perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode ini menuai kritik tajam dari aktivis demokrasi dan akademisi.
Meski dihujani polemik, Qodari tetap bergeming. Baginya, stabilitas politik adalah kunci, dan penyatuan dua rival besar—Jokowi dan Prabowo—adalah solusi polarisasi. Prediksinya mengenai “rekonsiliasi” akhirnya terwujud nyata saat Prabowo Subianto memenangkan Pilpres 2024 dan merangkul gerbong pemerintahan sebelumnya.
*Puncak Karir di Pemerintahan*
Loyalitas dan kedekatannya dengan garis politik Presiden Prabowo Subianto berbuah manis. Pada 21 Oktober 2024, ia mula-mula dilantik sebagai Wakil Kepala KSP. Tak butuh waktu lama bagi Qodari untuk naik pangkat. Pada September 2025, dalam sebuah reshuffle strategis, Prabowo mempercayakannya posisi Kepala KSP.
Tak hanya di pemerintahan, gurita peran Qodari juga merambah sektor korporasi negara. Sejak Juli 2025, ia juga tercatat menjabat sebagai Komisaris PT Pertamina Hulu Energi (PHE).
Berdasarkan laporan LHKPN terbaru, Qodari memiliki kekayaan mencapai Rp 261 miliar, sebuah angka yang mencerminkan kesuksesannya di dunia bisnis riset dan properti sebelum masuk ke birokrasi.
*Tantangan di KSP*
Sebagai Kepala KSP, tugas Qodari tidaklah ringan. Ia harus memastikan program-program prioritas Presiden, seperti makan bergizi gratis dan ketahanan energi, berjalan tanpa hambatan birokrasi. KSP yang merupakan “mata dan telinga” Presiden kini dipimpin oleh sosok yang sangat paham cara membaca data dan opini publik.
Kini, publik menunggu: apakah kemampuan analisis datanya yang tajam dapat diterjemahkan menjadi solusi nyata bagi masyarakat, ataukah ia tetap akan menjadi “sang pengamat” di tengah arus kekuasaan?
Profil Singkat
• Muhammad Qodari
Tempat/Tanggal Lahir: Palembang, 15 Oktober 1973
• Pendidikan:
S1 Psikologi Sosial (UI)
S2 Political Behaviour (University of Essex, Inggris)
S3 Ilmu Politik (UGM)
• Karir:
Direktur Eksekutif Indo Barometer (2006–sekarang)
Komisaris PT Pertamina Hulu Energi (Juli 2025–sekarang)
Wakil Kepala Staf Kepresidenan (2024–2025)
Kepala Staf Kepresidenan (September 2025–sekarang).
- Penulis: Rls/Red
- Editor: Redaksi
- Sumber: Tim/Red


Saat ini belum ada komentar