Rekor Tertua & Terhebat! Inilah K.H. Ma’ruf Amin, Ulama ‘Sarungan’ yang Berhasil Tembus Istana Wakil Presiden Indonesia
- account_circle Rls/Red
- calendar_month 10 hour ago
- visibility 4
- comment 0 comment

Tegarnews.co.id-Jakarta, 22 Februari 2026| Sejarah baru tercipta di panggung politik Indonesia saat seorang ulama kharismatik melangkah tegap menuju Istana Merdeka dengan ciri khas yang tak pernah berubah: sarung. Beliau adalah K.H. Ma’ruf Amin, sosok yang membuktikan bahwa identitas santri bukan sekadar simbol agama, melainkan kekuatan intelektual yang mampu memimpin bangsa.
Dilantik pada usia 76 tahun, Kiai Ma’ruf mencatatkan namanya sebagai Wakil Presiden tertua dalam sejarah Republik Indonesia. Namun, lebih dari sekadar angka, kehadirannya di kursi RI-2 adalah puncak dari pengabdian panjang seorang “maestro” fatwa dan ekonomi syariah.
Darah Ulama Besar Makkah dan Gemblengan Tebuireng
Lahir di Tangerang pada 11 Maret 1943, Kiai Ma’ruf membawa warisan spiritual yang luar biasa. Ia adalah keturunan langsung dari Syekh Nawawi al-Bantani, ulama legendaris asal Banten yang pernah menjadi Imam Besar di Masjidil Haram, Makkah.
Pendidikan agamanya tidak tanggung-tanggung. Ia digembleng di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, pusat intelektual Islam yang didirikan oleh K.H. Hasyim Asy’ari. Di sana, ia mengasah ketajaman ilmu fikih dan filsafat Islam, yang kelak menjadikannya rujukan utama bagi umat di Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Nahdlatul Ulama (NU).
Politisi Veteran Sejak Usia Muda
Banyak yang terkejut saat beliau terpilih mendampingi Presiden Joko Widodo pada 2019, namun bagi pengamat politik, Kiai Ma’ruf adalah pemain lama yang sangat berpengalaman. Di usia 28 tahun, ia sudah mencicipi kursi legislatif sebagai anggota DPRD DKI Jakarta (1971).
Karier politiknya membentang luas, mulai dari anggota DPR RI, penasihat Presiden Gus Dur, hingga menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di era SBY. Beliau adalah sedikit dari tokoh bangsa yang mampu menjaga keseimbangan antara kewibawaan sebagai ulama dan kecakapan sebagai birokrat.
Sang Penyelamat Ekonomi Syariah
Dunia perbankan dan keuangan Indonesia berhutang budi pada pemikiran beliau. Kiai Ma’ruf Amin adalah otak di balik berkembangnya Ekonomi Syariah di tanah air. Sebagai Ketua Dewan Syariah Nasional, ia adalah arsitek yang merumuskan aturan agar ekonomi berbasis syariah bisa tumbuh subur di Indonesia.
Gagasannya tentang “Arus Baru Ekonomi Indonesia” menjadi fondasi penting untuk memperkuat ekonomi rakyat kecil (UMKM). Beliau percaya bahwa ekonomi tidak boleh hanya menumpuk di atas, tapi harus mengalir deras hingga ke lapisan masyarakat paling bawah.
Filosofi “Sarung” di Kursi Kekuasaan
Salah satu yang paling ikonik dari Kiai Ma’ruf adalah konsistensinya memakai sarung dalam berbagai acara kenegaraan. Bagi beliau, sarung adalah simbol martabat, kesederhanaan, dan kebanggaan atas akar budaya Muslim Nusantara.
Meskipun menyandang jabatan sebagai Wakil Presiden, beliau tidak kehilangan jati diri sebagai seorang guru dan kiai. Di balik jabatannya, ia memikul tanggung jawab besar dalam penanggulangan kemiskinan dan moderasi beragama, memastikan Indonesia tetap rukun di tengah keberagaman.
Warisan untuk Generasi Santri
Kisah K.H. Ma’ruf Amin adalah pesan kuat bagi seluruh santri di pelosok negeri: bahwa dengan ilmu yang dalam dan integritas yang kokoh, kursi tertinggi negara bisa diraih tanpa harus kehilangan identitas. Beliau adalah bukti hidup bahwa pengabdian tidak mengenal batas usia, dan “kaum sarungan” memiliki tempat terhormat di panggung dunia.[]
- Author: Rls/Red
- Editor: Redaksi
- Source: Hagia Sofia (Wikipedia)



At the moment there is no comment