Minggu, November 8, 2026
tegarnews.co.id
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Info Demo
  • Info Desa
  • Info Korupsi
  • Info Narkoba
  • Info Publik
  • Kesehatan
  • Kisah
  • Kuliner
  • Olah Raga
  • Destinasi Wisata
  • Opini
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Perayaan
  • Peristiwa
  • Seni & Budaya
  • Seni dan Kreasi
  • TNI & Polri
  • Ucapan
No Result
View All Result
tegarnews.co.id
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Info Demo
  • Info Desa
  • Info Korupsi
  • Info Narkoba
  • Info Publik
  • Kesehatan
  • Kisah
  • Kuliner
  • Olah Raga
  • Destinasi Wisata
  • Opini
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Perayaan
  • Peristiwa
  • Seni & Budaya
  • Seni dan Kreasi
  • TNI & Polri
  • Ucapan
No Result
View All Result
tegarnews.co.id
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Info Demo
  • Info Desa
  • Info Korupsi
  • Info Narkoba
  • Info Publik
  • Kesehatan
  • Kisah
  • Kuliner
  • Olah Raga
  • Destinasi Wisata
  • Opini
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Perayaan
  • Peristiwa
  • Seni & Budaya
  • Seni dan Kreasi
  • TNI & Polri
  • Ucapan
Home Opini

“Lebih Baik Jadi Petani”: Paradoks ‘Superbody’ Polri dan Cermin Retak Reformasi

Chairul Husen by Chairul Husen
27 Januari 2026
in Opini
0
“Lebih Baik Jadi Petani”: Paradoks ‘Superbody’ Polri dan Cermin Retak Reformasi
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Share on FacebookShare on WhatsApp

Tegarnews.co.id-Jakarta, 27 Januari 2026| Suasana Rapat Kerja Komisi III DPR RI mendadak senyap. Di hadapan para wakil rakyat, Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo tidak sedang berdiplomasi. Ia sedang menarik garis batas.

“Saya menolak polisi di bawah kementerian. Kalau itu terjadi, saya lebih baik jadi petani,” tegas Sigit.

You might also like

Gegara Adik Belagu! Kepala BNPB Dicopot Prabowo, Negara Bukan Perusahaan Keluarga”Bung”

Bau Amis di Balik 105 Ribu Mesin India, Kritik Impor Kendaraan Kopdes Agus Gumiwang Dicopot

Dosa di Atas Meja Pleno: Ketika Palu DKPP Menagih Nyawa Integritas

Pernyataan ini bukan sekadar retorika emosional. Ini adalah puncak gunung es dari perdebatan ketatanegaraan yang telah berumur dua dekade sejak Reformasi memisahkan Polri dari ABRI. Di satu sisi, Polri berjuang mempertahankan fleksibilitas operasional sebagai “anak kandung” Presiden. Di sisi lain, publik dan pengamat hukum melihat hantu “Superbody”—sebuah lembaga raksasa dengan kewenangan menyidik, menindak, dan mengawasi dirinya sendiri, tanpa “kakak asuh” bernama Menteri.

Jika kita berani berkaca pada dunia, posisi Polri saat ini memang sebuah anomali. Lantas, cermin mana yang retak?

Anomali di Tengah Demokrasi Modern. Ketika Jenderal Sigit berbicara tentang ketakutan akan birokrasi yang lambat, ia punya poin valid. Namun, jika kita melihat peta kepolisian global, Indonesia berdiri di posisi yang sunyi. Hampir tidak ada negara demokrasi besar yang menempatkan polisinya langsung di bawah Presiden tanpa filter kementerian atau dewan komisi.

Mari kita bercermin pada Amerika Serikat. Di sana, FBI yang legendaris itu tidak berdiri sendiri. Ia berada di bawah Department of Justice (Kementerian Kehakiman). Logikanya sederhana: penegakan hukum (polisi) harus satu napas dengan penuntutan (jaksa). Check and balances terjadi secara natural. Polisi tidak bisa seenaknya menyidik tanpa koordinasi dengan jaksa agung yang menjadi atasan administratifnya.

Bergeser ke Perancis atau tetangga dekat kita, Malaysia. Kepolisian di sana bernaung di bawah Kementerian Dalam Negeri. Menteri mengurus anggaran, SDM, dan kebijakan makro, sementara Jenderal Polisi fokus pada strategi lapangan. Di sana, polisi adalah administrator sipil bersenjata, bukan “tentara kedua”.

Sementara di Indonesia, Polri mengurus semuanya: dari SIM, penyidikan korupsi, pengamanan presiden, hingga izin keramaian, dan bertanggung jawab langsung ke Istana. Tanpa kementerian, Presiden—yang disibukkan dengan ribuan urusan negara—secara de facto menjadi satu-satunya pengawas langsung. Pertanyaannya: Mampukah satu orang Presiden mengawasi 400.000 personel polisi?

Momok “Matahari Kembar”
Argumen Kapolri bukannya tanpa dasar. Trauma sejarah dan kultur birokrasi Indonesia yang berbelit menjadi alasan kuat penolakannya.

Sigit khawatir akan munculnya “Matahari Kembar”. Jika Polri di bawah Kementerian (misalnya Kemendagri), siapa yang memegang komando saat kerusuhan pecah? Menteri atau Kapolri? Di Indonesia, di mana ego sektoral antar-lembaga masih tinggi, dua kapten dalam satu kapal bisa berarti kapal karam.

Kapolri menginginkan kecepatan. Dalam situasi genting, garis komando “Presiden ke Kapolri” adalah jalur tercepat. Memasukkan kementerian di antaranya dianggap hanya akan menambah meja birokrasi yang harus dilewati surat perintah sebelum pasukan bergerak.

Jalan Tengah: Berkaca pada Jepang?

Namun, menolak kementerian bukan berarti harus memeluk status quo selamanya. Jika model “Kementerian” dianggap terlalu birokratis dan politis, dan model “Langsung Presiden” dianggap terlalu powerfull, Indonesia bisa melirik cermin ketiga: Jepang.

Di Negeri Sakura, National Police Agency (NPA) tidak di bawah menteri, tapi diawasi oleh National Public Safety Commission. Ini adalah badan independen yang berada di lingkup kabinet. Tujuannya elegan: memisahkan polisi dari intervensi politik praktis (agar tidak jadi alat kekuasaan) sekaligus memastikan polisi tidak menjadi monster tanpa pengawas.

Epilog: Menjaga Marwah, Bukan Hanya Kekuasaan
Penolakan keras Jenderal Sigit hari ini harus dibaca sebagai sinyal bahaya. Bukan hanya tentang penolakan struktur baru, tapi peringatan bahwa sistem birokrasi kementerian di Indonesia mungkin belum cukup “dewasa” untuk menampung lembaga sestrategis Polri tanpa mengorbankan keamanan negara.

Namun, membiarkan Polri terus menjadi Superbody tanpa pengawasan eksternal yang kuat juga menyimpan bom waktu. Cermin dari negara lain menunjukkan bahwa power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.

Pilihannya kini ada di tangan pembuat undang-undang: Apakah kita akan memaksa Polri masuk ke “kandang” kementerian dengan risiko lamban bergerak, atau kita menciptakan sistem pengawasan baru yang lebih fair—sebuah jalan tengah di mana Jenderal Sigit tidak perlu beralih profesi menjadi petani, namun rakyat tetap bisa tidur nyenyak tanpa takut pada arogansi aparat.[]

Tags: Jenderal PolKapolriListyo Sigit Prabowo
Previous Post

Tragedi Keadilan di Sleman: Ketika Melawan Penjahat Berujung Penjara

Next Post

Kapolsek Jasinga Police Line Toko Diduga Jual Obat Daftar G, Wartawan dan Pengurus GMOCT Dapat Intimidasi dari Oknum Anggota Polisi Bripka Nurdiansyah

Chairul Husen

Chairul Husen

Related Posts

Gegara Adik Belagu! Kepala BNPB Dicopot Prabowo, Negara Bukan Perusahaan Keluarga”Bung”
Opini

Gegara Adik Belagu! Kepala BNPB Dicopot Prabowo, Negara Bukan Perusahaan Keluarga”Bung”

by Tegar News
16 Oktober 2026
Bau Amis di Balik 105 Ribu Mesin India, Kritik Impor Kendaraan Kopdes Agus Gumiwang Dicopot
Opini

Bau Amis di Balik 105 Ribu Mesin India, Kritik Impor Kendaraan Kopdes Agus Gumiwang Dicopot

by Tegar News
10 Oktober 2026
Dosa di Atas Meja Pleno: Ketika Palu DKPP Menagih Nyawa Integritas
Opini

Dosa di Atas Meja Pleno: Ketika Palu DKPP Menagih Nyawa Integritas

by Tegar News
10 Oktober 2026
Dua Jam Sebelum Putusan MK, Jokowi Bertemu Prabowo “Keluarkan Kartu AS”?
Opini

Dua Jam Sebelum Putusan MK, Jokowi Bertemu Prabowo “Keluarkan Kartu AS”?

by Tegar News
8 Oktober 2026
Rekor Prabowo 150 Jabatan, Punya  26 Watimpres dan 10 Penasihat Khusus: Apa Bedanya?
Opini

Rekor Prabowo 150 Jabatan, Punya 26 Watimpres dan 10 Penasihat Khusus: Apa Bedanya?

by Tegar News
5 Oktober 2026
Next Post
Kapolsek Jasinga Police Line Toko Diduga Jual Obat Daftar G, Wartawan dan Pengurus GMOCT Dapat Intimidasi dari Oknum Anggota Polisi Bripka Nurdiansyah

Kapolsek Jasinga Police Line Toko Diduga Jual Obat Daftar G, Wartawan dan Pengurus GMOCT Dapat Intimidasi dari Oknum Anggota Polisi Bripka Nurdiansyah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Polemik Agraria di Nagan Raya, Warga Babahlung Keberatan Lahan Digarap Jadi Kebun Plasma, Pertanyakan Legalitas HGU Perusahaan

Polemik Agraria di Nagan Raya, Warga Babahlung Keberatan Lahan Digarap Jadi Kebun Plasma, Pertanyakan Legalitas HGU Perusahaan

20 September 2025
Eko Patrio Mengaku Masih Ngontrak Rumah Dipinggiran Jakarta Usai Dijarah Massa: Semua Habis

Eko Patrio Mengaku Masih Ngontrak Rumah Dipinggiran Jakarta Usai Dijarah Massa: Semua Habis

13 September 2025

Kategori

  • Bisnis
  • Destinasi Wisata
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Info Daerah
  • Info Demo
  • Info Desa
  • Info Korupsi
  • Info Narkoba
  • Info Publik
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Kisah
  • Kriminal
  • Kuliner
  • Mancanegara
  • Nasional
  • Olah Raga
  • Opini
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Perayaan
  • Peristiwa
  • Politik
  • POLRI
  • Sejarah
  • Seni & Budaya
  • Seni dan Kreasi
  • Teknologi
  • TNI
  • TNI & Polri
  • Tokoh
  • Ucapan
  • Umum

Don't miss it

Bantah Gejolak di Internal, Gde Sumarjaya Linggih: Berita Munaslub Itu Hoaks
Politik

Bantah Gejolak di Internal, Gde Sumarjaya Linggih: Berita Munaslub Itu Hoaks

7 November 2026
Konsolidasi Pembentukan SGAN Digelar di Jakarta Utara, GEMA PS Nusantara Siap Dorong Kekuatan 6,3 Juta Anggota Bergabung
Info Daerah

Konsolidasi Pembentukan SGAN Digelar di Jakarta Utara, GEMA PS Nusantara Siap Dorong Kekuatan 6,3 Juta Anggota Bergabung

7 November 2026
Asap Hitam Pembakaran Limbah Dikeluhkan Warga Bantarsari, Pemilik Akui Bakar Dua Mobil Sehari
Info Daerah

Asap Hitam Pembakaran Limbah Dikeluhkan Warga Bantarsari, Pemilik Akui Bakar Dua Mobil Sehari

7 November 2026
Diduga Ada Praktek Prostitusi Online  Berkedok Pijat Tradisional di Jati Rahayu Meresahkan Warga
Info Publik

Diduga Ada Praktek Prostitusi Online Berkedok Pijat Tradisional di Jati Rahayu Meresahkan Warga

7 November 2026
LSM TEGAR Desak Aparat Penegak Hukum Usut Tuntas Dugaan Pemufakatan Makar! Negara Tak Boleh Dikhianati dari Dalam
Hukum

LSM TEGAR Desak Aparat Penegak Hukum Usut Tuntas Dugaan Pemufakatan Makar! Negara Tak Boleh Dikhianati dari Dalam

6 November 2026
Kapolri Suyudi Bertindak Cepat! Skenario Show Of Force yang Disusun Rapi,”Ambyar”
Nasional

Kapolri Suyudi Bertindak Cepat! Skenario Show Of Force yang Disusun Rapi,”Ambyar”

6 November 2026
tegarnews.co.id

© 2026 Tegar News

Navigate Site

  • Redaksi
  • Compro TegarNews
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Info Demo
  • Info Desa
  • Info Korupsi
  • Info Narkoba
  • Info Publik
  • Kesehatan
  • Kisah
  • Kuliner
  • Olah Raga
  • Destinasi Wisata
  • Opini
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Perayaan
  • Peristiwa
  • Seni & Budaya
  • Seni dan Kreasi
  • TNI & Polri
  • Ucapan

© 2026 Tegar News