Tegarnews.co.id – Jakarta, 21 Agustus
2026 | Di Monas Grand Ballroom BSI Tower, Jakarta, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut sebuah angka yang membuat banyak orang diam sejenak:
1.800 ton emas. Bukan emas di tambang yang belum digali. Bukan emas cadangan Bank Indonesia. Melainkan emas yang sudah dimiliki oleh masyarakat Indonesia, tapi belum masuk ke dalam sistem keuangan mana pun, dan masih tersimpan secara pribadi.
“Emas yang ada di bawah bantal, itu ada 1.800 ton. Nah, kalau 1.800 ton, itu nilainya juga luar biasa, US$252 miliar,” kata Airlangga dalam acara peluncuran Indonesia Bullion Market Association atau IBMA.
US$252 miliar dengan kurs saat ini setara sekitar Rp4.460 triliun. Untuk konteks: itu hampir empat kali lipat total belanja APBN yang direncanakan pemerintah dalam satu tahun anggaran. Angka yang tersimpan diam di laci, dalam brankas kecil di sudut kamar, atau secara harfiah di bawah bantal.
IBMA diluncurkan Kamis itu dengan 11 anggota pendiri dari berbagai pelaku industri emas Indonesia — dari pertambangan, pemurnian, manufaktur, lembaga jasa keuangan, hingga platform investasi. Tujuannya satu: menciptakan pasar bullion yang terintegrasi, transparan, dan berstandar internasional sehingga emas yang selama ini diam di luar sistem bisa bergerak masuk.
Ini bukan gagasan baru. Sejak Bank Emas atau bullion bank diluncurkan secara resmi oleh Presiden Prabowo Subianto pada 26 Februari 2025, pemerintah sudah mengidentifikasi potensi 1.800 ton emas masyarakat ini sebagai target utama. Setahun setengah kemudian, hasilnya mulai terlihat: Pegadaian yang saat peluncuran hanya memegang 7 ton emas, kini mengelola 153 ton. BSI mengelola 24 ton. Total 177 ton — dari 0 menjadi 177 ton dalam waktu satu setengah tahun. Airlangga bahkan mengklaim nilai emas di Pegadaian saja sudah sekitar US$20 miliar, melampaui nilai ETF emas di India yang berada di kisaran US$17-18 miliar.
Tapi 177 ton baru sekitar 10 persen dari potensi 1.800 ton yang ada di luar sistem. Selebihnya masih tersimpan di tempat yang hanya pemiliknya tahu.
Airlangga menilai jika seluruh 1.800 ton itu bisa masuk ke dalam sistem bullion Indonesia, stok emas nasional akan masuk jajaran terbesar di dunia. Emas yang selama ini tidur diam bisa menjadi likuiditas, bisa menjadi underlying ETF, bisa menjadi instrumen deposito, bisa menjadi modal ekonomi yang bergerak.
Tantangannya adalah kepercayaan. Orang Indonesia menyimpan emas secara pribadi bukan karena tidak tahu cara investasi — tapi karena merasa emas yang bisa dipegang sendiri lebih aman dari sistem mana pun. Mengubah keyakinan itu, dengan menawarkan sistem yang lebih aman, lebih liquid, dan lebih menguntungkan, adalah pekerjaan yang tidak bisa diselesaikan dalam satu peluncuran asosiasi.(Rls/Red)
Sumber: HJ Hagia Sofia













