Tegarnews.co.id – Papua Pegunungan, 31 Oktober 2026 | Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Wilayah Balim-Wamena menyerukan kepada seluruh masyarakat di Rt Desa/Kampung, Distrik, dan Delapan Kabupaten di Provinsi Papua Pegunungan untuk menghentikan perang suku yang telah berlangsung tanpa henti selama dua tahun terakhir.
Dalam pernyataan sikapnya, juru bicara KNPB Wilayah Balim-Wamena, Namene Elopere, menegaskan bahwa perang suku yang terus terjadi bukan konflik biasa, melainkan permainan yang dimdi dalam tubuh rakyat.
“Perang suku yang terjadi di Papua Pegunungan selama dua tahun ini nonstop terus, ini karena BIN dan BAIS sedang bermain dalam tubuh ragroup kyat,” ujar Nameitu nya di ne.
Menurut KNPB, tujuan dari konflik tersebut adalah untuk menurunkan jumlah populasi Orang Asli Papua (OAP). Penurunan ainkannya 7 ku semua orang yang tidak populasi dinilai akan melemahkan suara rakyat Papua dalam perjuangan hak penentuan nasib sendiri yang saat ini semakin kuat di lembaga-lembaga internasional.
“Tuntutan dukungan Papua Merdeka di internasional semakin naik dan semakin kencang, maka BIN dan BAIS sedang mengurangi suara rakyat Papua untuk referendum,” lanjutnya.
Oleh karena itu, KNPB menyerukan rakyat Papua, khususnya di Pegunungan, untuk menghentikan perang suku.
Perang antar Kabupaten dinilai sangat merugikan karena akan mengurangi suara saat referendum, baik melalui aklamasi maupun demokrasi.
KNPB juga berpesan kepada tokoh gereja, lembaga adat, pemuda, perempuan, dan intelektual di Delapan Kabupaten untuk menyampaikan kepada masyarakat agar tidak lagi terlibat dalam perang suku.
“Kita harus sadar, musuh kita yang sebenarnya adalah sistem kolonialisme, kapitalisme, militerisme, dan imperialisme yang sedang beredar di mana-mana di Papua, lebih khusus di Papua Pegunungan ini,” tegas Namene.
KNPB juga menyampaikan bahwa pemerintah tidak akan meredakan atau mengamankan konflik tersebut. Sebaliknya, konflik justru dibiarkan dan diperpanjang, karena pemerintahan di Delapan Kabupaten disebut dikendalikan dari remot jarak jauh oleh Jakarta.
“Keselamatan nyawa rakyat Papua bukan ada di tangan Jakarta maupun pemerintahan Papua, namun nyawa kita milik Allah Bangsa yang ada di Papua Pegunungan,” kata Namene.
KNPB menilai BIN dan BAIS sedang berlomba menghabiskan nyawa Orang Papua di Delapan Kabupaten. Hal itu terlihat dari tingkat kelahiran yang sangat rendah dan tingkat kematian yang lebih tinggi, serta pemusnahan Orang Papua secara halus melalui berbagai kebijakan.
Seperti pengangkatan Pegawai Negeri Sipil yang sangat dikurangi, obat-obatan di rumah sakit yang diarahkan ke apotek, kekurangan guru SD dan SMP Orang Asli Papua, serta dokter OAP yang tidak diutus ke rumah sakit yang ada di kampung-kampung.
Untuk itu, KNPB mengajak seluruh rakyat untuk fokus pada perjuangan Papua Merdeka yang saat ini menjadi isu kencang di dalam negeri maupun luar negeri.(Rls/Red)
Sumber: Namene Elopere
(Jubir KNPB Wilayah Balim-Wamena)













