Istana Bogor Diguncang Aksi Mahasiswa, HMI Hantam Keras Sikap Pemerintah RI
- account_circle AG
- calendar_month 25 minute ago
- visibility 4
- comment 0 comment

Tegarnews.co.id – Kota Bogor, 5 Maret 2026 | Gelombang kemarahan mahasiswa mengguncang depan gerbang Istana Bogor, Kamis (5/2/2026). Puluhan massa dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kota Bogor turun ke jalan dan membakar ban tepat di depan gerbang istana sebagai simbol perlawanan terhadap agresi militer yang dinilai semakin brutal dan mengancam perdamaian dunia.
Aksi yang berlangsung di Jalan Jenderal Sudirman itu sempat memanas. Asap hitam dari ban yang terbakar mengepul di depan gerbang istana, menjadi penanda kemarahan mahasiswa terhadap situasi geopolitik global yang dinilai sarat arogansi kekuatan militer dan kepentingan politik negara-negara besar.
Massa aksi membawa berbagai spanduk kecaman keras terhadap agresi militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Mahasiswa menilai serangan tersebut berpotensi menyeret dunia ke konflik yang lebih luas serta mengorbankan rakyat sipil yang tidak bersalah.
Ketua Umum HMI Cabang Kota Bogor, Moeltazam, dalam orasinya melontarkan kritik tajam terhadap sikap pemerintah yang dinilai terlalu lunak bahkan cenderung membisu di tengah memanasnya konflik global.
“Pembakaran ban ini adalah simbol kemarahan mahasiswa. Ketika dunia dipertontonkan arogansi kekuatan militer, Indonesia tidak boleh sekadar menonton dari kejauhan. Diamnya pemerintah terhadap agresi militer adalah bentuk kegagalan moral dalam membela kemanusiaan,” tegas Moeltazam dengan nada tinggi di hadapan massa aksi.
Menurutnya, bangsa yang besar tidak boleh takut bersuara ketika hukum internasional dilanggar secara terang-terangan.

Dalam pernyataan sikapnya, HMI Cabang Kota Bogor mengecam keras segala bentuk agresi militer yang melanggar kedaulatan negara dan mengancam keselamatan rakyat sipil. Mahasiswa juga mendesak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa agar tidak terus menjadi penonton dan segera mengeluarkan resolusi gencatan senjata tanpa syarat.
Selain itu, massa aksi juga menuntut Pemerintah Republik Indonesia untuk segera mengambil langkah nyata dalam melindungi serta mengevakuasi Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di wilayah konflik.
Tak hanya itu, mahasiswa juga mendesak Presiden Republik Indonesia untuk menunjukkan sikap politik luar negeri yang tegas dan tidak tunduk pada tekanan kekuatan global. Prinsip bebas aktif, menurut mereka, tidak boleh berubah menjadi sikap pasif ketika tragedi kemanusiaan terjadi di depan mata dunia.
Moeltazam menegaskan bahwa aksi ini adalah peringatan keras dari mahasiswa kepada negara agar tidak larut dalam diplomasi yang tumpul ketika rakyat sipil menjadi korban perang.
“Jika dunia terus dikuasai oleh logika perang dan kekuatan militer, maka kemanusiaan akan dikubur hidup-hidup. Indonesia harus berdiri di barisan yang benar, bukan menjadi penonton yang hanya pandai berbicara tentang perdamaian tanpa keberanian bersikap,” tegasnya.
Aksi sempat memanas ketika ban dibakar di depan gerbang istana sebagai simbol kemarahan mahasiswa terhadap ketidakadilan global. Setelah menyampaikan tuntutan dan orasi secara bergantian, massa akhirnya membubarkan diri dengan tertib di bawah pengawalan aparat.[]
- Author: AG
- Editor: Redaksi
- Source: AG



At the moment there is no comment