Tegarnews.co.id – Jakarta, 3 Juli 2026 | Industri kelapa sawit adalah salah satu andalan ekspor Indonesia, tapi ada fakta menarik yang jarang disadari banyak orang. Sebagian besar perusahaan raksasa yang mengelola kebun-kebun sawit di tanah air justru mencatatkan sahamnya dan berkantor pusat di Singapura, bukan di Indonesia.
First Resources Group menjadi salah satu contohnya. Perusahaan yang dikendalikan keluarga Fangiono ini mengelola lahan sawit seluas 215.128 hektare di Indonesia per akhir 2024, tersebar di Riau, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur. Anak usahanya, PT Ciliandra Perkasa yang berdiri sejak 1992, menjadi salah satu pilar bisnis grup ini.
Lebih besar lagi adalah Wilmar International, yang tercatat sebagai salah satu pemilik lahan sawit terluas di dunia dengan total area tanam 234.334 hektare per akhir 2025. Sekitar 66 persen dari lahan itu berada di Indonesia, tersebar di Sumatra, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah. Menariknya, Wilmar bersama Musim Mas Group saat ini justru sedang menjadi sorotan karena diselidiki pemerintah Indonesia atas dugaan praktik under-invoicing dalam ekspor minyak sawit.
Golden Agri Resources, pilar agribisnis dari Sinar Mas Group, tak kalah besar. Perusahaan yang tercatat di Bursa Singapura ini mengelola lahan sawit lebih dari setengah juta hektare di Indonesia, dengan komposisi sekitar 78 persen kebun inti milik perusahaan dan 22 persen kebun plasma milik petani mitra. Golden Agri menaungi PT SMART Tbk, salah satu perusahaan sawit besar yang sudah lama dikenal publik Indonesia.
Musim Mas Group, yang dirintis oleh Anwar Karim dan kini dikelola generasi keduanya, Bachtiar Karim bersama adik-adiknya, juga punya jejak besar di industri ini. Grup yang terintegrasi dari hulu sampai hilir ini mengelola perkebunan sawit ratusan ribu hektare yang tersebar di Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, dan Kalimantan.
Ada pula Bumitama Agri, yang justru sudah berdiri sejak 1996 sebagai bagian dari Harita Group sebelum akhirnya melantai di Bursa Singapura tahun 2012. Hingga 2025, Bumitama mengelola lahan sawit seluas 184.467 hektare di Kalimantan dan Riau, dengan sekitar 33,6 persen dialokasikan untuk petani kecil.
Terakhir, Asian Agri yang berada di bawah payung Royal Golden Eagle milik Sukanto Tanoto. Asian Agri mengelola sekitar 100.000 hektare kebun inti di Sumatra Utara, Riau, dan Jambi, ditambah sekitar 60.000 hektare lagi yang dikembangkan lewat skema inti-plasma bersama lebih dari 30.000 petani mitra, sehingga total areanya mencapai sekitar 160.000 hektare.
Dari keenam raksasa ini, perusahaan mana yang menurut Anda paling berpengaruh terhadap arah industri sawit Indonesia ke depan?.(Rls/Red)














