Tegarnews.co.id – Jakarta, 5 Juli 2026 | Semangat para petani di pedalaman Papua kini sedang menyala. Sabtu, 20 Juni 2026, tanam padi perdana resmi digelar di Kampung Perabaga, Distrik Piramid, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan, menandai langkah besar Kementerian Pertanian dalam mempercepat program cetak sawah di wilayah pegunungan tengah Papua.
Target tahun ini terbilang ambisius, yakni mencetak sawah baru seluas 1.910 hektare, yang jika digabung dengan 90 hektare yang sudah lebih dulu rampung, totalnya genap menjadi 2.000 hektare. Bukan target asal tempel, ini adalah kelanjutan dari fondasi yang sudah dibangun sebelumnya, sebuah bukti bahwa program ini benar-benar berjalan, bukan sekadar wacana di atas kertas.
Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementerian Pertanian, Hermanto, yang turun langsung menghadiri acara tanam perdana di Wamena, mengungkapkan rasa kagumnya melihat semangat warga setempat mengelola sawah mereka sendiri. Ia bahkan menegaskan bahwa Papua Pegunungan menjadi prioritas khusus, sampai-sampai ia sudah dua kali datang ke lokasi dalam sebulan terakhir.
Yang menarik, program ini tidak dijalankan dengan asal serobot lahan. Hermanto menegaskan bahwa seluruh proses dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan masyarakat adat, dan hak ulayat tetap dihormati penuh. Semua kesepakatan dibangun bersama tokoh adat, masyarakat, dan petani, tanpa ada perampasan sepihak.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebelumnya juga menegaskan bahwa pengembangan sawah di Papua merupakan bagian dari visi besar pemerintah mewujudkan kemandirian pangan di seluruh penjuru Indonesia. Harapannya, setiap pulau bisa berdaulat atas pangannya sendiri, sehingga tidak perlu lagi mengangkut beras antarpulau yang justru menambah beban biaya distribusi.
Untuk mendukung keberlanjutan usaha tani warga, Kementerian Pertanian juga menyiapkan paket bantuan lengkap, mulai dari benih padi unggul, pupuk dolomit, alat dan mesin pertanian, hingga subsidi bahan bakar minyak bagi petani penggarap. Harapannya, lahan yang sudah dibuka ini bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan, bukan hanya untuk generasi sekarang tapi juga anak cucu di Papua Pegunungan kelak.(Rls/Red)














