Tegarnews.co.id – Jakarta, 20 Juli 2026 | Piala Dunia selesai. Euforia belum benar-benar turun dari langit. Warga masih sibuk bahas kehebatan Spanyol. Sebelumnya, Indonesia lewat Fajar/Fikri sukses menjuarai Japan Open. Atlet panjat tebing Indonesia berdiri gagah sebagai juara dunia. Rasanya negeri ini sedang mandi prestasi. Senyum rakyat mulai kembali merekah setelah beberapa minggu sepi wajah koruptor di monitor.
Lalu, seperti monster bangun dari tidur panjang, tutup gorong-gorong bergeser pelan. Keluarlah spesies endemik tak pernah masuk daftar satwa dilindungi, tetapi juga tak pernah benar-benar punah. Tikus got. Badannya mungkin tidak sebesar kerbau, tetapi nafsu makannya sanggup mengunyah anggaran sebesar gunung.
Senin, 20 Juli 2026, KPK kembali menggelar Operasi Tangkap Tangan di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Kali ini yang masuk jaring bukan pencuri ayam, bukan pembobol minimarket, bukan pula maling kotak amal. Yang diamankan justru Bupati Lombok Barat, Lalu Ahmad Zaini.
Ia tidak sendirian. Empat orang lainnya ikut dibawa. Total lima orang diamankan dalam OTT yang membuat suasana Gerung berubah seperti lokasi syuting film kriminal kelas blockbuster.
Pagi hari, para pegawai Pemkab Lombok Barat datang seperti biasa. Ada yang membawa map, laptop, kopi, dan harapan agar rapat tidak molor. Namun sesampainya di kantor, mereka disambut pemandangan yang membuat jantung serasa lupa berdetak. Ruang kerja bupati sudah dipasangi segel berlambang KPK. Garis penyegelan itu mendadak menjadi dekorasi paling terkenal di kantor pemerintahan hari itu.
Belum cukup sampai di situ. Ruang Kepala Dinas PUPRPKP Lombok Barat, Lalu Ratnawi, juga ikut disegel. Dua ruangan mendadak berubah status, dari tempat rapat menjadi tempat orang berbisik-bisik sambil menebak-nebak, “Sebenarnya ada apa?”
Menjelang siang, KPK mengonfirmasi, Ahmad Zaini memang ditangkap. Namun lembaga antirasuah itu belum membuka isi kotak pandoranya. Dugaan korupsi belum dirinci. Barang bukti yang disita juga belum diumumkan. Publik baru diberi cuplikan film, sementara adegan utamanya masih disimpan rapat.
Sore harinya, Ahmad Zaini bersama empat orang lainnya dijadwalkan diterbangkan ke Gedung Merah Putih KPK di Jakarta untuk menjalani pemeriksaan intensif. Sesuai KUHAP, KPK memiliki waktu 1 x 24 jam untuk menentukan status hukum para pihak yang diamankan.
Informasi awal menyebut dugaan perkara berkaitan dengan proyek APBD Kabupaten Lombok Barat. Namun hingga kini KPK belum mengumumkan konstruksi resmi kasus tersebut.
Begitulah negeri ini. Ketika rakyat sedang sibuk bertepuk tangan menyambut prestasi atlet, selalu saja ada adegan baru yang membuat telapak tangan berpindah fungsi menjadi menepuk dahi. Rasanya Indonesia memiliki dua jalur produksi. Jalur pertama melahirkan atlet-atlet yang mengibarkan Merah Putih di panggung dunia melalui latihan, disiplin, dan cucuran keringat. Jalur kedua entah bagaimana terus memproduksi kisah OTT dengan pemain yang berganti-ganti, tetapi alurnya hampir selalu sama.
Korupsi di negeri ini seperti serial tanpa episode terakhir. Pemerannya pensiun, pemain baru datang. Lubangnya berpindah, tetapi tikusnya tetap rajin berkembang biak. Mereka seolah memiliki GPS yang selalu mampu menemukan aroma proyek, aroma anggaran, dan aroma uang rakyat dari jarak bermil-mil.
Sungguh ironis. Dunia mengenal Indonesia karena prestasi para atletnya. Sementara rakyatnya berkali-kali dipaksa mengenal pejabat melalui konferensi pers KPK. Baru saja Piala Dunia usai membawa kegembiraan, negeri ini kembali diingatkan, tikus got gorong-gorong rupanya tak pernah mengenal musim libur.
Tunggu lanjutannya. Siapa sebenarnya tikus got ini, siapa partai pengusungnya, apa saja prestasinya, apa pendidikannya? Tunggu sampai ia jadi tersangka dulu. Sambil menunggu seruput Koptagul dulu, wak!(Rls/Red)
Sumber Artikel: Rosadi Jamani














