Tegarnews.co.id – Jakarta, 9 Agustus 2026 | Anggota dewan di Alor dan pejabat di Kabupaten lain bisa belajar dari Adriano Padama sebab argumen yang disampaikan oleh Adriano Padama memang sangat kuat secara substansi karena memenuhi standar komunikasi yang berbasis pada data faktual dan realitas risiko di lapangan.
Pertama, Adriano tidak hanya melontarkan keluhan umum seperti “harga beras mahal”, melainkan membedah angka secara rinci berdasarkan wilayah tempat tinggalnya. Ia menyebutkan disparitas harga yang jelas: Rp13.000–Rp15.000 di kota, naik menjadi Rp17.000– Rp18.000 di pedalaman, hingga mencapai titik kritis Rp25.000– Rp30.000 per kilogram. Penyebutan angka yang spesifik ini membuat argumennya sulit terbantahkan.
Kedua, adriano Padama mampu menjelaskan mengapa harga bisa melambung tinggi, yakni karena faktor geografis wilayah Alor sebagai daerah kepulauan terpencil yang sangat bergantung pada cuaca. Ia mengangkat risiko musiman (musim hujan dan cuaca ekstrem) yang menghambat jalur distribusi laut, yang secara langsung mengancam krisis pangan bagi masyarakat di daerah pedalaman.
Ketiga , Argumen Adriano tidak lagi sekadar membahas mahalnya barang dagangan, melainkan mengarah pada ancaman nyata terhadap masa depan anak-anak bangsa. Ketika anak-anak terpaksa meninggalkan pangan pokok dan beralih ke umbi-umbian secara terus-menerus dalam situasi darurat, hal itu langsung beririsan dengan risiko kesehatan serius dan ancaman gizi buruk. Narasi yang disampaikan Adriano tersebut menggambarkan akibat kesehatan konkret yang disaksikan langsung di kampung halamannya bahwa pola konsumsi darurat tersebut membuat perut anak-anak membesar karena gas dan menimbulkan penderitaan fisik. Deskripsi visual yang kuat ini langsung memukul nuransi siapa saja yang mendengarnya.
Kisah Adriano Padama di hadapan Menteri Pertanian bukan sekadar momen viral biasa, melainkan sebuah tamparan keras sekaligus teladan bagi para pemangku kebijakan di daerah, baik anggota DPRD maupun eksekutif di tingkat kabupaten. Apa yang ditunjukkan Adriano membuktikan bahwa penyampaian aspirasi atau kritik merupaka narasi yang dibangun atas tiga pilar utama: data faktual yang presisi (membedah disparitas angka hingga ke tingkat pedalaman), analisis akar masalah yang komprehensif (memetakan hambatan geografis dan risiko logistik musiman), serta dampak kemanusiaan yang konkret (mengangkat ancaman nyata gizi buruk dan penderitaan fisik anak-anak akibat keterpaksaan mengonsumsi umbi-umbian).
Sudah saatnya anggota dewan dan pejabat daerah berhenti sekadar duduk di ruang sidang. Mereka harus belajar dari Adriano bagaimana cara berbicara dengan realitas yaitu menguasai data lapangan, memahami penderitaan rakyatnya, dan mencari solusi kebijakan yang cepat, tepat sasaran, dan berpihak pada keselamatan masyarakat.(Rls/Red)














