Tegarnews.co.id – Bogor, 15 Agustus 2026 | Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok Arutal 150 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berupaya menjadikan masa pengabdian di tengah masyarakat bukan sekadar agenda seremonial. Berbagai program digulirkan dengan menyasar sektor pendidikan, sosial, lingkungan, hukum hingga penguatan ketahanan pangan Desa.
Wakil Ketua Kelompok Arutal 150, Ubayd Tsaqiif Thufayl, mengatakan mahasiswa terlebih dahulu memetakan kebutuhan masyarakat melalui komunikasi dengan perangkat Desa, RT, RW serta warga. Dari proses tersebut, mahasiswa kemudian menyesuaikan program agar manfaatnya dapat dirasakan langsung masyarakat.
“Kami ingin memaksimalkan momentum KKN ini untuk benar-benar turun dan membantu warga dari berbagai sisi,” ujar Ubayd saat diwawancarai, Sabtu (15/8/2026).
Salah satu program yang tengah dipersiapkan adalah penyuluhan hukum dengan menggandeng lembaga hukum dari Cibinong. Program tersebut masih dalam tahap koordinasi dengan pemerintah Desa, termasuk terkait kesiapan waktu dan teknis pelaksanaan.
Di bidang pendidikan, mahasiswa Arutal 150 juga turun langsung ke sekolah untuk memberikan pembelajaran. Selain kegiatan belajar mengajar di SDN 07 Ciomas dan MI Arafiyah, mahasiswa menyisipkan sejumlah materi yang dinilai dekat dengan kehidupan anak-anak.
Edukasi mengenai bullying menjadi salah satu materi yang telah diberikan. Mahasiswa juga memperkenalkan kegiatan hasta karya dengan memanfaatkan barang bekas serta mengajarkan pemilahan sampah organik dan nonorganik.
“Kami tidak hanya sekadar mengajar. Ada beberapa tema yang kami berikan kepada anak-anak, mulai dari bullying, hasta karya dengan memanfaatkan barang bekas, sampai pemilahan sampah,” jelasnya.
Di sektor lingkungan, mahasiswa sempat menggagas pembangunan bank sampah. Namun setelah berkoordinasi dengan RT dan RW, rencana tersebut tidak menjadi prioritas karena sistem pengangkutan sampah di lingkungan tersebut telah berjalan secara rutin.
Mahasiswa kemudian mengarahkan perhatian pada potensi lain yang dinilai memiliki peluang ekonomi, yakni ketahanan pangan Desa.
Salah satu program desa yang menjadi perhatian adalah peternakan ayam petelur yang dikelola melalui BUMDes. Melihat potensi tersebut, mahasiswa Arutal 150 tidak hanya melihat dari sisi produksi, tetapi juga berupaya mendorong penguatan pemasaran melalui platform digital.
Mahasiswa membantu pengelola membuat konten, mendokumentasikan kegiatan serta mengembangkan media sosial. Edukasi mengenai pembuatan konten dan pemasaran digital juga diberikan agar potensi usaha Desa dapat menjangkau konsumen secara lebih luas.
“Sekarang sudah masuk ranah digital. Kami membantu membuat konten, mengelola media sosial, sekaligus mengajarkan bagaimana produk bisa mendapatkan pemasaran melalui media sosial,” kata Ubayd.
Menurutnya, digitalisasi tersebut diharapkan tidak berhenti setelah mahasiswa menyelesaikan KKN. Pengelola BUMDes diharapkan mampu meneruskan pengetahuan yang telah diberikan dan mengembangkan pemasaran secara mandiri.
Respons masyarakat terhadap keberadaan mahasiswa juga dinilai positif. Selama sekitar dua hingga tiga pekan berada di tengah warga, mahasiswa melihat antusiasme masyarakat dalam berbagai kegiatan, termasuk kerja bakti dan agenda sosial.
“Alhamdulillah sejauh ini berjalan lancar. Antusias warga cukup tinggi. Bisa dilihat dari kegiatan kerja bakti, banyak warga yang ikut ambil bagian,” ungkap Ubayd.
Bagi kelompok Arutal 150, keberhasilan KKN bukan diukur dari banyaknya program yang tercantum dalam agenda. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana program tersebut berjalan dan mendapatkan keterlibatan masyarakat.
“Banyak program yang dibuat, tetapi kalau masyarakat tidak antusias dan tidak hadir, menurut kami itu bukan ukuran keberhasilan. Keberhasilan bisa dilihat dari respons dan keterlibatan masyarakat terhadap program yang kami jalankan,” tegasnya.
Kelompok Arutal 150 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berharap berbagai program yang telah dimulai dapat diteruskan setelah masa KKN berakhir. Terutama penguatan ketahanan pangan, pendidikan anak, literasi lingkungan serta pemanfaatan media digital untuk membuka peluang ekonomi Desa.
Bagi mahasiswa, KKN bukan tentang seberapa banyak kegiatan yang dilakukan selama berada di Desa, melainkan tentang apa yang bisa ditinggalkan dan dilanjutkan masyarakat setelah mereka kembali ke kampus.(Rls/Inel)
Surya SP













