Tegarnews.co.id – Jakarta, 4 Oktober 2026 | “Ngumpulake Sakabehing Arah” mengumpulkan semua arah. Bukan untuk menyatukan kebenaran. Tapi untuk menutup semua pintu kritik.
Sobat… mari kita bedah pola pengrekrutan ini :
Kategori pertama: “The Controversial Fixer” mereka yang memiliki masa lalu kontroversial, tetapi tetap diangkat. Anwar Usman adalah contoh sempurna. Ia pernah dicopot dari jabatan Ketua MK karena pelanggaran etik berat. Ia tercatat tidak hadir sebanyak 81 kali dalam sidang pleno dan 32 kali dalam sidang panel . Tapi hari ini, ia duduk di kursi Wantimpres.
Mengapa? Dalam ilmu politik, ini disebut “debt-based loyalty” loyalitas berbasis utang. Ketika seseorang punya rekam jejak yang bisa digunakan sebagai alat kontrol, ia menjadi aset yang paling setia. Karena ia tahu: jika ia tidak setia, masa lalunya akan dibuka.
Kategori kedua: “The Co-opted Critic” mereka yang dulunya kritis, kini masuk lingkaran kekuasaan. Rocky Gerung adalah contoh sempurna. Ia pernah menyindir Prabowo soal kegagalan program MBG. Ia pernah menyebut “republik ketakutan”. Ia pernah mengkritik Bahlil Lahadalia sebagai “penjilat” . Tapi hari ini, ia duduk di kursi Wantimpres.
Dalam ilmu komunikasi politik, ini disebut “symbolic co-optation” penyerapan simbolik oposisi. Ketika kritik masuk ke dalam sistem, kritik itu kehilangan gigi. Ia tidak lagi menggigit, karena sudah dibeli . Dalam analisis framing, kehadiran Rocky bisa dimaknai sebagai upaya “menjinakkan” oposisi secara halus .
Dan ilmu sepuh, ini disebut “Nguntal Woh Kanthi Kulit” menelan buah berikut kulitnya. Artinya: bukan hanya kritiknya yang diserap, tapi seluruh wibawa kritikusnya ikut diserap. Ia tidak lagi menjadi suara di luar. Ia menjadi suara di dalam, suara yang tidak bisa didengar karena dinding istana terlalu tebal.
Kategori ketiga: “The Strategic Accommodation” mereka yang mewakili konstituensi politik tertentu. Bambang Soesatyo mewakili Golkar. Said Aqil Siradj dan Yahya Cholil Staquf mewakili NU. Anwar Iskandar mewakili MUI. Chairul Tanjung mewakili dunia usaha. Jusuf Wanandi mewakili CSIS.
Dalam strategi komunikasi politik, ini disebut “constituency buy-in” memastikan setiap konstituensi memiliki perwakilan di dalam, bukan suara di luar. Ketika setiap kelompok punya kursi, tidak ada yang punya alasan untuk protes.
Ketika semua spektrum dari mantan hakim MK yang kontroversial, pengkritik pemerintah, ulama senior, pengusaha, hingga politikus, duduk di satu meja yang sama, itu bukan kekayaan perspektif. Itu penyeragaman pandangan.
Dalam ilmu Niteni Serat Diri, angka 26, jumlah anggota Wantimpres yang dilantik, jika dihitung: 2+6 = 8. “Wolu” delapan. Delapan adalah “Arah” penjuru. Semua penjuru. Artinya: semua arah telah ditarik ke satu titik. Dan titik itu adalah Istana.Ini disebut “Kabeh Wis Ana Ing Tangan”, semua sudah ada di tangan. Bukan karena semua setuju. Tapi karena semua sudah masuk.
Apakah ini berhubungan dengan tanggal 5-6 Oktober , hasil putusan MK?
“Sing bisa maca tandha, bakal slamet; sing ora bisa maca tandha, bakal keteter.” Eling lan Waspada. Memayu hayuning bawana.(Rls/Red)
Oleh Ridwan Sank (Founder Niteni Serat Diri)














