Abah Elang Mangkubumi Dewan Khos PP PSNU Pagar Nusa: “Selamatkan NU dari Agenda Pemecah Belah!”
- account_circle Rls/Egi
- calendar_month Ming, 23 Nov 2025
- visibility 192
- comment 0 komentar

Tegarnews.co.id-Jakarta,23 November 2025| Nahdlatul Ulama bukan sekadar organisasi. NU adalah amanah perjuangan para wali, hasil jerih payah para muassis, dan warisan spiritual yang mengajarkan keseimbangan antara agama, kebangsaan, dan akhlaq. Karena itu, setiap gejolak yang menyentuh pucuk pimpinan jam’iyah bukan hanya persoalan struktural, tetapi persoalan marwah, adab, dan kelangsungan dakwah Ahlussunnah wal Jamaah.
Hari ini, ketika dinamika antara Rais Aam KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU Gus Yahya menjadi sorotan publik, kita melihat dengan mata terang bahwa ada pihak-pihak yang mencoba menunggangi situasi ini. Mereka menggoreng perbedaan menjadi pertentangan, memecah jamaah, dan mencederai khidmah ulama.
Padahal Rasulullah ﷺ telah mengingatkan:
“Inna hadzihil ummah lan tastaqîmu illâ bil-jamâ‘ah.”
“Umat ini tidak akan tegak kecuali dengan persatuan.”
Karena itu, sikap kita hari ini bukan sekadar reaksi politik, tetapi tanggung jawab agama untuk menjaga jam’iyah agar tidak terpecah oleh agenda-agenda yang disusupkan.
Ada yang ingin NU retak. Dan itu tidak boleh terjadi.
Mereka memperuncing perbedaan, memotong pernyataan ulama, dan menjadikan dinamika Syuriyah–Tanfidziyah sebagai bahan adu domba.
Padahal dalam tradisi NU, ulama berbeda pendapat bukan untuk diadu, tetapi untuk disatukan oleh hikmah dan adab.
Allah SWT berfirman:
“Wa aṭî‘ullâha wa rasûlâhu wa lâ tanâza‘û fa tafshalû wa tadh-haba rîhukum.”
“Taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian berselisih, karena itu akan membuat kalian lemah dan hilang wibawa kalian.” (QS. Al-Anfal: 46)
Ayat ini adalah peringatan yang sangat nyata bagi kondisi kita sekarang.
Ketika NU berselisih, maka hilanglah rih—kekuatan ruhani dan kewibawaannya.
Oleh karena itu, sebagai Dewan Khos Pagar Nusa, saya menyatakan dengan tegas:
1. NU harus dijaga dari infiltrasi politik yang meniupkan fitnah dan memecah ukhuwah.
Mereka yang menjadikan NU sebagai alat kepentingan kekuasaan telah melampaui batas amanah agama.
2. Hentikan provokasi terhadap Rais Aam maupun Ketua Umum.
Menjatuhkan wibawa ulama berarti merusak rantai sanad kepemimpinan yang diwariskan para wali.
3. Warga NU wajib kembali kepada adab: ta’dzim kepada kiai, patuh pada keputusan syuriyah, dan tidak ikut memperkeruh keadaan.
Di dalam NU, kekuatan bukan pada gaduhnya jamaah, tetapi pada tenangnya adab.
4. Semua urusan pimpinan harus kembali kepada mekanisme jam’iyah, bukan tekanan politik dan bukan opini liar.
NU telah lama menjaga diri dengan kaidah: “Qararul ulama mu‘tamad.”
“Keputusan ulama adalah rujukan tertinggi.”
Pagar Nusa berdiri bukan hanya untuk menjaga ulama secara fisik, tetapi juga untuk menjaga kehormatan dan wibawa mereka dari fitnah dan pembusukan narasi. Dan hari ini, kehormatan itu sedang diserang oleh tangan-tangan yang ingin memecah NU agar mudah dikendalikan.
Kita tidak boleh lengah.
Kita tidak boleh diam.
Kita tidak boleh membiarkan NU diseret ke jurang perpecahan.
Karena kita yakin:
Jika NU pecah, umat akan hilang arah.
Jika NU kuat, Indonesia akan tetap kokoh.
Maka dengan ketegasan moral dan niat lillahi ta‘ala, saya menyerukan:
Selamatkan NU.
Selamatkan jam’iyah.
Selamatkan umat dari agenda perpecahan.
Semoga Allah meneguhkan hati kita, menuntun para kiai dalam setiap keputusan, dan menjaga NU dari segala fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi. “Amin ya Rabbal ‘alamin”.[]
- Penulis: Rls/Egi
- Editor: Redaksi
- Sumber: Abah Elang Mangkubumi


Saat ini belum ada komentar