Cucu Sang “Singa Podium” Betawi! Mengenal Habib Jindan bin Novel, Ulama Sejuk yang Dakwahnya Menyentuh Hati
- account_circle Rls/Red
- calendar_month 2 hour ago
- visibility 2
- comment 0 comment

Tegarnews.co.id-Jakarta, 28 Februari 2026| Jika Anda mencari sosok ulama yang tutur katanya menenangkan jiwa dan akhlaknya mencerminkan kelembutan nabi, maka nama Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan pasti berada di daftar teratas. Lahir pada momen sakral 10 Muharram 1398 Hijriah (21 Desember 1977), beliau kini menjadi salah satu paku bumi dakwah di Jabodetabek melalui Yayasan Al Fachriyah, Tangerang.
Namun, di balik pembawaannya yang tenang, mengalir darah seorang pejuang dakwah yang sangat legendaris. Beliau adalah cucu kandung dari Habib Salim bin Ahmad bin Jindan, ulama besar Betawi yang dijuluki “Singa Podium” karena keberanian dan suaranya yang menggetarkan nusantara di masa lalu.
Nasab Mulia: Menyambung hingga Akar Kenabian
Kewibawaan Habib Jindan bukan datang tanpa alasan. Beliau merupakan keturunan langsung dari Rasulullah Muhammad ﷺ melalui garis Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fathimah Az-Zahra. Silsilah emas ini terjaga rapi melalui tokoh-tokoh besar seperti Al-Faqih Al-Muqaddam dan Asy-Syaikh Abi Bakr bin Salim. Nasab ini bukan sekadar kebanggaan, melainkan amanah besar untuk menjaga kemurnian ajaran Islam yang penuh kasih sayang.
Menimba Ilmu dari Tanah Abang hingga Lembah Tarim
Perjalanan intelektual Habib Jindan adalah bukti nyata bahwa ilmu harus dicari dengan kesungguhan. Masa mudanya dihabiskan dengan berguru kepada ulama-ulama sepuh di Jakarta, mulai dari Madrasah Jam’iyatul Khair Tanah Abang hingga mengikuti majelis Rauhah di Kwitang di bawah bimbingan Habib Muhammad bin Ali Al-Habsyi.
Haus akan sanad ilmu yang muttasil (tersambung), beliau kemudian terbang ke Darul Musthafa, Tarim, Hadramaut. Di sana, beliau menjadi salah satu murid angkatan pertama dari ulama dunia, Al-Habib Umar bin Hafidz. Di lembah para wali itulah, Habib Jindan mengasah kedalaman ilmu hadits, fiqih, dan tasawuf yang kini beliau bagikan kepada umat.
Transformasi “Singa Podium”: Dakwah yang Merangkul
Berbeda dengan sang kakek yang dikenal dengan orasi yang meledak-ledak demi membakar semangat perjuangan, Habib Jindan tampil dengan gaya yang lebih kontemporer: sejuk, santun, namun sangat dalam. Beliau memiliki kemampuan luar biasa dalam menerjemahkan kerumitan kitab-kitab klasik menjadi bahasa yang mudah dipahami oleh kaum milenial maupun orang tua.
Bagi Habib Jindan, dakwah bukan tentang siapa yang paling keras bersuara, melainkan siapa yang paling mampu menyentuh hati dengan akhlak. Beliau sering menekankan:
“Adab lebih tinggi daripada ilmu. Ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan kesombongan, sementara adab tanpa ilmu akan tersesat.”
Al Fachriyah: Benteng Ilmu di Banten
Kini, melalui Yayasan Al Fachriyah di Ciledug, Tangerang, Habib Jindan terus mencetak kader-kader dai yang moderat. Setiap pengajian yang digelar selalu dipadati oleh ribuan jamaah yang datang dari berbagai penjuru, membuktikan bahwa pesan-pesan cinta yang beliau bawa sangat relevan di tengah hiruk-pikuk dunia modern.
Mengenal Habib Jindan adalah mengenal wajah Islam yang ramah,”sebuah warisan berharga dari “Singa Podium” yang kini diteruskan dengan cara yang menyejukkan hati.[☆]
- Author: Rls/Red
- Editor: Redaksi
- Source: Hagia Sofia (Wikipedia)



At the moment there is no comment