Kopdar Sahabat Potads Bogor, Hadirkan Ruang Inklusif untuk Anak Down Syndrome
- account_circle AG
- calendar_month 2 minute ago
- visibility 1
- comment 0 comment

Tegarnews.co.id – Kota Bogor, 12 April 2026 | Semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap anak-anak dengan Down Syndrome kembali digaungkan melalui kegiatan Kopdar Sahabat Potads Bogor dan Halal bi Halal yang digelar pada Minggu, 12 April 2026.
Kegiatan ini berlangsung di Poltekkes Kemenkes Prodi Keperawatan dan Kebidanan Bogor, Jl. DR. Sumeru No.116, Kota Bogor, dengan mengusung tema “Together Against Loneliness” atau bersama melawan kesepian. Acara ini turut dihadiri Yenni Avvaloki, pengurus internal Yayasan Potads Pusat.
Ketua Serasi, Haura Kansa, menjelaskan bahwa kegiatan ini berangkat dari kepedulian terhadap kelompok sosial rentan, termasuk anak-anak dengan Down Syndrome. Ia menyebut Serasi sebagai komunitas berbasis relawan yang terbuka bagi mahasiswa maupun pekerja yang ingin berkontribusi dalam kegiatan sosial.
“Kami mengajak teman-teman untuk berdonasi, kemudian dana tersebut disalurkan dalam kegiatan sosial seperti ini, mulai dari konsumsi hingga kebutuhan acara,” ujarnya.
Menurut Haura, kolaborasi dengan Potads menjadi langkah nyata dalam menghadirkan ruang yang lebih inklusif bagi anak-anak Down Syndrome, yang selama ini masih kerap dipandang sebelah mata oleh masyarakat.
“Kegiatan ini penting untuk membangun empati. Dengan terlibat langsung, masyarakat jadi lebih memahami dan memiliki kepedulian terhadap anak-anak berkebutuhan khusus,” tambahnya.

Sementara itu, Penanggung Jawab Korwil Potads Bogor, Ganiar Permata, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Down Syndrome Sedunia yang diperingati setiap 21 Maret, namun tahun ini dilaksanakan pada April karena bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri.
“Tujuan utama kegiatan ini agar anak-anak tidak merasa sendiri, mereka merasa diterima, baik secara fisik maupun mental oleh masyarakat,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa kegiatan seperti ini sangat penting karena melibatkan tidak hanya orang tua dan anak-anak Down Syndrome, tetapi juga relawan dari masyarakat luas.
“Melalui kegiatan ini, masyarakat bisa melihat langsung bahwa anak-anak istimewa ini juga memiliki kemampuan dan potensi yang sama,” jelasnya.
Namun demikian, tantangan terbesar masih terletak pada stigma masyarakat yang belum sepenuhnya memahami kondisi Down Syndrome.
“Kami terus berupaya mensosialisasikan bahwa anak-anak ini mampu dan layak mendapatkan ruang yang sama di masyarakat,” tambah Ganiar.
Yenni Avvaloki menyampaikan bahwa kehadirannya merupakan bagian dari rangkaian kegiatan nasional dalam menyambut Hari Down Syndrome Sedunia, sekaligus mempererat silaturahmi antarwilayah.
“Kegiatan ini merupakan agenda rutin Potads Pusat dalam rangka menyambut Hari Down Syndrome Sedunia serta memperkuat kebersamaan antar wilayah, khususnya di Bogor,” ujarnya.
Ia juga menyoroti tantangan besar yang masih dihadapi anak-anak dengan Down Syndrome, terutama dalam hal penerimaan sosial dan akses terhadap fasilitas.
“Tantangan terbesar masih pada penerimaan di masyarakat, serta akses terhadap fasilitas kesehatan, pendidikan, dan penunjang lainnya. Jika hal dasar ini belum terpenuhi, tentu tumbuh kembang anak belum bisa optimal,” jelasnya.

Menurutnya, meskipun berbagai upaya inklusi sudah mulai terbuka, namun kesempatan yang diberikan masih belum merata.
“Kesempatan untuk inklusi sebenarnya sudah ada, tetapi belum sepenuhnya luas. Anak-anak kita masih membutuhkan ruang yang lebih besar untuk mengembangkan potensi yang dimiliki,” tambahnya.
Ke depan, pihaknya berharap adanya peningkatan dukungan dari berbagai pihak agar anak-anak dengan Down Syndrome dapat diperlakukan setara.
“Kami berharap anak-anak ini bisa lebih diberdayakan, memiliki kepercayaan diri, dan dipandang setara tanpa diskriminasi,” ungkapnya.
Ia juga memberikan pesan kepada para orang tua agar tetap kuat dan optimis dalam mendampingi anak-anak mereka.
“Jangan pernah berputus asa. Anak-anak kita memiliki potensi yang sama, hanya perlu diasah dan diberikan stimulasi yang tepat,” tuturnya.
Salah satu orang tua Rafi, Ibu Dina, turut membagikan pengalaman harunya dalam membesarkan anak dengan Down Syndrome. Ia mengaku sempat menghadapi stigma bahwa anaknya tidak memiliki masa depan, namun seiring waktu mampu membuktikan sebaliknya.
“Sekarang anak saya bisa melukis, menari, dan melakukan berbagai kegiatan. Harapan saya, masyarakat bisa melihat kemampuan anak-anak kami, bukan keterbatasannya,” ujarnya.
Kegiatan ini diikuti puluhan peserta, dengan sekitar 80 anak yang terdaftar, meski sebagian berhalangan hadir. Selain kopdar, kegiatan seperti fashion show, pentas seni, hingga aktivitas kebersamaan lainnya turut memeriahkan acara.
Melalui kegiatan ini, diharapkan semakin banyak pihak yang tergerak untuk peduli serta membuka ruang yang lebih luas bagi anak-anak Down Syndrome agar dapat hidup setara dan bermartabat di tengah masyarakat.[]
- Author: AG
- Editor: Redaksi
- Source: AG






At the moment there is no comment