Prabowo Canangkan ‘Gentengisasi’ Nasional: Atap Seng Berkarat Diganti Genteng demi Estetika dan Kenyamanan
- account_circle Rls/Red
- calendar_month Sel, 3 Feb 2026
- visibility 9
- comment 0 komentar

Tegarnews.co.id-Bogor, 3 Februari 2026| Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, secara resmi memperkenalkan gagasan proyek nasional bertajuk “Gentengisasi” dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2/2026). Program ini menargetkan penggantian atap rumah warga yang berbahan seng menjadi genteng tanah liat atau material komposit.
Dalam pidato arahannya di hadapan ribuan kepala daerah dan unsur Forkopimda, Prabowo menyoroti penggunaan atap seng yang dinilai tidak lagi layak, baik dari segi kenyamanan maupun estetika tata kota dan desa. Menurut Presiden, atap seng menyebabkan suhu di dalam rumah menjadi panas, berbeda dengan rumah tradisional Indonesia terdahulu yang menggunakan rumbia atau ijuk yang sejuk.
“Kita ingin rakyat kita hidup nyaman. Seng itu panas. Kalau kita lihat dari udara, seng-seng yang berkarat itu merusak pemandangan. Karat itu lambang degenerasi, bukan lambang kebangkitan,” tegas Prabowo dalam pidatonya.
Presiden menekankan bahwa aspek visual ini sangat krusial bagi sektor pariwisata. Pemandangan atap berkarat dinilai kontradiktif dengan keindahan alam Indonesia yang ingin ditonjolkan kepada wisatawan mancanegara.
Secara teknis, Prabowo menginstruksikan agar pelaksanaan program ini melibatkan Koperasi Merah Putih di tingkat desa. Ia juga menyarankan inovasi bahan baku genteng yang tidak hanya mengandalkan tanah liat murni, tetapi bisa memanfaatkan campuran limbah batu bara atau fly ash.
“Koperasi-koperasi desa kita kasih pabrik genteng. Bisa pakai teknologi campuran tanah dan fly ash, hasilnya kuat tapi ringan,” imbuhnya.
Merespons arahan tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan kesiapan pemerintah untuk mendukung program ini. Airlangga menyebut “Gentengisasi” sebagai low hanging fruit atau langkah cepat yang berdampak langsung pada pembenahan destinasi wisata. Terkait anggaran, Airlangga mengonfirmasi bahwa pembiayaan program ini kemungkinan besar akan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Rakornas 2026 ini menjadi momentum konsolidasi pemerintah pusat dan daerah untuk menyamakan visi pembangunan di tahun kedua pemerintahan, dengan fokus pada peningkatan kualitas hidup masyarakat dan infrastruktur pendukung ekonomi.[☆]
- Penulis: Rls/Red
- Editor: Redaksi
- Sumber: Hagia Sofia


Saat ini belum ada komentar