“Presiden Pantai Gading Berbaring di Tanah Saat Haji
- account_circle Rls/Red
- calendar_month 0 minute ago
- visibility 1
- comment 0 comment

Tegarnews.co.id – Indonesia, 29 Mei 2026 | Di tengah jutaan jamaah haji yang memadati tanah suci, tampak seorang pria lanjut usia berbaring sederhana di atas tanah tanpa kemewahan, tanpa sekat pengamanan berlapis, tanpa hiruk-pikuk pengawalan pejabat. Sosok itu adalah Presiden Republik Pantai Gading, Alassane Ouattara.
Beliau datang untuk menunaikan ibadah haji dengan biaya pribadi. Bahkan dikabarkan menolak berbagai fasilitas mewah dan pelayanan protokoler kenegaraan yang biasa disiapkan pemerintah Arab Saudi bagi kepala negara. Tidak ada rombongan berlebihan. Tidak ada pencitraan murahan. Tidak ada jarak dengan rakyat biasa.
Lalu publik pun bertanya:
“Di mana pengawalnya?”
Pertanyaan itu justru menjadi tamparan keras bagi banyak pemimpin di negeri-negeri yang mengaku besar, tetapi dipenuhi pejabat haus penghormatan dan kemewahan dari uang rakyat.
Seorang pemimpin yang benar-benar dicintai rakyatnya tidak perlu hidup di balik pagar besi dan pasukan pengawal berlapis. Rasa aman lahir dari keadilan. Ketenteraman lahir dari kejujuran. Pemimpin yang tidak menzalimi rakyatnya akan berjalan tanpa ketakutan.
Selama memimpin Pantai Gading, negaranya mengalami stabilitas keamanan, pertumbuhan ekonomi, dan pembangunan yang signifikan. Kehidupan rakyat membaik. Negara menjadi lebih aman dan tertata. Karena itulah rakyat menghormatinya, bukan karena pencitraan, tetapi karena hasil nyata.
Pemandangan ini menjadi pengingat bahwa di hadapan Allah SWT, jabatan hanyalah titipan sementara. Kemewahan dunia tidak ada nilainya jika diperoleh dari keserakahan dan penderitaan rakyat.
Sungguh berbeda dengan realita yang selama ini dipertontonkan banyak pejabat di Indonesia. Negeri yang kaya raya ini justru dipenuhi pertunjukan kemunafikan kekuasaan. Rakyat diminta hidup sederhana, tetapi para pejabat hidup bermewah-mewahan dengan fasilitas negara. Mereka berbicara soal pengabdian, namun gemar menikmati uang rakyat lewat APBN, perjalanan dinas, fasilitas mewah, hingga pencitraan agama yang dipamerkan ke publik.
Ironisnya, ada pejabat yang berangkat haji, umrah, bahkan berkurban sambil membangun citra seolah semuanya memakai uang pribadi, padahal rakyat semakin curiga karena budaya penyalahgunaan anggaran sudah terlalu mengakar di negeri ini. Rakyat dipaksa percaya pada sandiwara kesalehan, sementara korupsi, ketimpangan, dan penderitaan terus tumbuh di depan mata.
Kerusakan moral kekuasaan di Indonesia hari ini bukan terjadi secara tiba-tiba. Rakyat sudah menyaksikan bagaimana budaya pencitraan, kebohongan politik, dan permainan oligarki tumbuh subur sejak era pemerintahan sebelumnya dan kini dianggap terus diwariskan dalam bentuk yang lebih terang-terangan. Janji perubahan berubah menjadi omon-omon politik. Yang kaya makin kaya, yang berkuasa makin nyaman, sementara rakyat kecil terus dihantam kesulitan ekonomi, bencana sosial, hukum yang tajam ke bawah, dan masa depan yang makin tidak pasti.
Rakyat Indonesia sesungguhnya tidak membutuhkan pemimpin yang pandai pidato atau sibuk membangun citra religius di depan kamera. Rakyat membutuhkan pemimpin yang takut kepada Tuhan, malu memakai uang rakyat untuk kemewahan pribadi, serta benar-benar hadir menyelamatkan kehidupan rakyatnya.
Karena pemimpin sejati bukan yang paling banyak pengawal, melainkan yang paling sedikit ditakuti rakyatnya.
By, Kritik tajam dan pedas rakyat NKRI
- Author: Rls/Red
- Editor: Redaksi
- Source: Opini Publik




At the moment there is no comment