Sungguh Ironis: “Kakek Lapar Diadili, Koruptor Malah Bebas: Hukum NKRI Tajam ke Rakyat Kecil? Di Mana Nurani Penegakan Hukum NKRI?”
- account_circle Rls/Red
- calendar_month 11 hour ago
- visibility 5
- comment 0 comment

Tegarnews.co.id – Indonesia, 22 Mei 2026 | Sungguh miris melihat wajah penegakan hukum di negeri ini. Seorang kakek 72 tahun bernama Mujiran di Lampung Selatan harus duduk di kursi terdakwa hanya karena diduga mencuri getah karet demi membeli beras untuk istri dan cucunya yang kelaparan. Ia tidak mencuri miliaran rupiah. Ia tidak merampok uang negara. Ia hanya seorang rakyat miskin yang terdesak oleh lapar dan kemiskinan.
Namun ironisnya, ketika rakyat kecil terpaksa melanggar hukum demi bertahan hidup, negara bergerak cepat menghukum. Sementara para koruptor yang merusak ekonomi bangsa dan merampok uang rakyat hingga triliunan rupiah justru sering terlihat santai, mendapat fasilitas, bahkan hukuman ringan.
Inilah yang membuat rakyat kecewa dan marah. Hukum di Indonesia semakin dianggap tajam ke bawah namun tumpul ke atas. Yang lemah mudah diinjak, sementara yang punya jabatan dan uang seolah lebih mudah lolos dari rasa keadilan.
Kasus Kakek Mujiran bukan sekadar pencurian getah karet. Ini adalah tamparan keras bagi pemerintah dan penegak hukum bahwa kemiskinan masih nyata, rakyat kecil masih banyak yang lapar, dan hati nurani keadilan terasa semakin hilang.
Rakyat tidak membenarkan pencurian. Tetapi rakyat juga masih punya nurani untuk membedakan antara orang miskin yang mencuri karena lapar dengan koruptor rakus yang mencuri demi kemewahan.
Kalau hukum hanya berani keras kepada rakyat kecil, tapi lemah terhadap koruptor, maka jangan salahkan jika kepercayaan rakyat terhadap keadilan di negeri ini semakin runtuh.[]
Wallahu A’lam Bishawab.
By, Kritik Pedas, Tajam Rakyat Indonesia Kepada Pejabat NKRI ini Yang Semakin Hari Semakin Tak Berprikemanusiaan
- Author: Rls/Red
- Editor: Redaksi
- Source: Opini Publik






At the moment there is no comment