Sawit Indonesia Mulai Guncang Pasar Energi Dunia, Impor Solar Resmi Akan Dihentikan
- account_circle Rls/Red
- calendar_month Kam, 11 Jun 2026
- visibility 19
- comment 0 comment

Tegarnews.co.id – Jakarta, 11 Juni 2026 | Tidak banyak negara yang berani mengambil langkah sepenting ini. Mulai 1 Juli 2026, Indonesia secara resmi menutup keran impor solar dan menggantinya sepenuhnya dengan bahan bakar nabati berbasis kelapa sawit dalam negeri.
Pernyataan bersejarah itu keluar dari mulut Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat menghadiri wisuda ke-133 program doktor, magister, dan profesi insinyur di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Minggu, 19 April 2026.
“Solar kita tidak impor lagi. Tahun 2026 pada 1 Juli kita stop, B50 masuk,” kata Amran tegas di hadapan civitas akademika ITS.
Kebijakan ini lahir dari akselerasi program mandatori biodiesel B50, yakni bahan bakar solar yang diformulasikan mengandung 50 persen campuran minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) produksi domestik. Sebelumnya Indonesia masih menjalankan program B40. Dengan beralih ke B50, pemerintah menargetkan penghentian total impor solar yang selama ini mencapai sekitar 5 juta ton per tahun. Program ini juga diklaim berpotensi menghemat devisa negara hingga Rp139,8 triliun pada 2026.
Yang membuat cerita ini semakin menarik adalah fakta bahwa sawit Indonesia ternyata tidak berhenti hanya sebagai bahan bakar diesel. Di laboratorium ITS Surabaya, sebuah terobosan lain sedang matang. Tim riset yang dipimpin Hosta Ardhyananta, dosen Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS, berhasil mengembangkan bensin berbasis sawit yang diberi nama Benwit, singkatan dari Bensin Biogasolin Sawit. Inovasi ini menghasilkan bahan bakar dengan angka oktan RON 90, setara bensin standar yang beredar di pasaran saat ini.
Prosesnya mengandalkan teknik catalytic cracking, yakni memecah molekul besar CPO menjadi hidrokarbon ringan layaknya komponen bensin. Hasilnya cukup mengejutkan: satu kali proses pengolahan mampu menghasilkan konversi biogasolin hingga 83 persen. Tim peneliti memperkirakan Benwit berpotensi menghemat konsumsi BBM nasional hingga 10 persen, jauh melampaui rata-rata penggunaan biogasolin dunia yang saat ini masih berkisar 5 persen. Untuk tahap awal, Benwit digunakan dengan metode blending atau pencampuran sekitar 10 persen ke dalam bensin konvensional, sehingga kendaraan tidak perlu modifikasi mesin apapun.
Namun di balik ambisi besar ini, tantangan nyata tetap menunggu. Indonesia sebagai produsen CPO terbesar dunia, dengan pangsa sekitar 60 persen pasar global, menghadapi tekanan dari berbagai pihak internasional yang mulai resah melihat potensi kemandirian energi Indonesia. Selain itu, tantangan hilirisasi dalam skala industri besar dan stabilitas harga bahan baku di pasar domestik masih menjadi pekerjaan rumah serius yang harus diselesaikan pemerintah sebelum mimpi energi mandiri ini benar-benar terwujud.
#KemerdekaanEnergi #B50Indonesia #SawitUntukNegeri #BiodieselIndonesia
#DPU_FYI
- Author: Rls/Red
- Editor: Redaksi
- Source: Tim/Red



At the moment there is no comment