Breaking News
light_mode
Home » Nasional » Sejarah » Marsinah Diangkat Jadi Pahlawan Nasional, Ironi Kasusnya Tidak Pernah Selesai Hingga Kini

Marsinah Diangkat Jadi Pahlawan Nasional, Ironi Kasusnya Tidak Pernah Selesai Hingga Kini

  • account_circle Rls/Red
  • calendar_month Sab, 27 Des 2025
  • visibility 65
  • comment 0 comment

Tegarnews.co.id-Jakarta, 27 Desember 2025| Marsinah. Dia hanya seorang buruh di pabrik jam tangan di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Buruh. Pendidikannya setingkat SMA. Marsinah lahir pada 10 April, 1969 di Nganjuk Jawa Timur. Kalau ia masih hidup, sekarang umurnya 56 tahun.

Dia tidak memiliki beaya untuk sekolah. Ia pun dibesarkan oleh neneknya sekalipun dia memiliki ayah dan ibu kandung. Hal ini sangat biasa dalam masyarakat Indonesia. Kesulitan ekonomi membuat orang-orang tua harus mengasuh cucu-cucunya karena orangtuanya harus bekerja. Kadang merantau jauh.

Dengan pendidikan setingkat itu, tidak banyak pilihan untuknya. Dia menjadi buruh di kota-kota dekat tempat kelahirannya. Pertama dia menjadi buruh pabrik sepatu Bata (yang saja tutup) di Surabaya. Kemudian, dia menjadi buruh pabrik jam tangan di PT Catur Putra Surya di Sidoarjo. Pabrik jam tempat Marsinah bekerja sekarang sudah tenggelam oleh lumpur Lapindo Sidoarjo.

Saat Marsinah bekerja sebagai buruh (awal 1990an), Indonesia masih dibawah Orde Baru pimpinan Jendral Soeharto. Rejim militer ini sangat haus akan investasi setelah mengeruk habis sumber daya alam. Soeharto membuka Indonesia seluas-luasnya untuk investasi. Buruh murah diuanggap sebagai keunggulan komparatif demi bersaing dengan negara-negara lain.

Itulah sebabnya buruh sangat diawasi. Pemogokan buruh dilarang. Serikat buruh dikontrol ketat dan diafiliasikan dengan Golkar, yang saat itu tidak menjadi partai politik, tapi pura-pura berfungsi seperti partai. Serikat-serikat buruh selain yang dikontrol pemerintah dilarang.

Awalnya adalah tahun 1992, ketika Gubernur Jawa Timur, Mayjen Soelarso mengeluarkan edaran yang berupa himbauan agar para pengusaha di wilayahnya menaikkan upah harian sebesar 20% dari gaji pokok. Sebagaimana pada jaman Orde Baru, ini hanya imbauan. Bukan peraturan yang penerapannya bisa dipaksakan.

Namun itu sudah membuat buruh untuk memprotes keadaan mereka. Termasuk Marsinah. Ia adalah buruh biasa. Sebagai buruh, ia sangat merasakan bagaimana sulitnya hidup. Jam kerja yang panjang. Jaminan-jaminan sosial yang kurang. Dan, upah yang tak pernah cukup.

Marsinah kemudian menjadi aktivis buruh. Ia mengorganisir kawan-kawannya meminta perbaikan upah. Dia termasuk salah satu pemimpin buruh di pabriknya. Pada 3-4 Mei buruh PT Catur Putra Surya melakukan protes dan pemogokan. Mereka menuntut kenaikan upah minimum seperti yang dianjurkan gubernur dan menuntut pendirian serikat buruh independen.

Hari-hari sebelum protes dan pemogokan, aparat-aparat dari Koramil sudah mengintimidasi para buruh. Mereka diminta untuk tidak mogok, dan kalau mogok akan mendapat konsekuensi. Namun itu tidak dihiraukan oleh para buruh. Pada hari pemogokan, Kodim mengerahkan seluruh aparatnya untuk berjaga-jaga. Tentu intimidasi dan ancaman-ancaman juga tetap dilakukan.

Pada tanggal 5 Mei, Marsinah yang adalah salah satu pemimpin pemogokan menghilang. Pada mulanya kawan-kawannya mengira bahwa ia pulang ke Nganjuk. Namun tidak ada kabar hinggal tanggal 8 Mei, Marsinah ditemukan tewas dengan tubuh mengenaskan di sebuah gardu ronda di Dusun Jegong, Desa Wilangan, Nganjuk.

Ia disiksa secara brutal dan sadis sebelum dibunuh. Komite Solidaritas Untuk Marsinah menemukan tanda-tanda penyiksaan yang sadis termasuk patah tulang, sundutan rokok, dan bahkan kerusakan kelamin akibat dimasukkan benda keras seperti kayu/besi. Penyiksaan yang sulit dibayangkan dilakukan oleh manusia biasa.

Ketika itu, aparat menahan dan mengadili pemilik dan manajemen PT Catur Putra Surya. Namun sekalipun dihukum berat, Mahkamah Agung membebaskan mereka semua karena proses pemeriksaan yang penuh dengan rekayasa.

Komite Solidaritas Untuk Marsinah dan Komnas HAM menemukan indikasi bahwa Marsinah disiksa secara brutal dan sadis oleh aparat-aparat militer di Kodim 0816/Sidoarjo. Dugaan ini tidak pernah bisa dikonfirmasikan. Setiap usaha penyelidikan atas kematian Marsinah dihalang-halangi oleh pihak militer. Hingga saat ini tidak ada pihak yang bertanggungjawab atas kematian mengenaskan dari seorang aktivis sederhana ini.

Hari ini, barangkali Saudara mendengat bahwa Marsinah diangkat menjadi Pahlawan Nasional. Saya tidak tahu apa maksud rejim ini mengangkat Marsinah menjadi Pahlawan Nasional. Kasusnya sendiri tidak pernah diselesaikan. Tidak pernah ada niat untuk menghukum orang-orang yang terlibat dalam kematian tragis aktivis buruh ini.

Bagai menggarami luka, pengumuman Marsinah sebagai Pahlawan Nasional disandingkan dengan Jendral Soeharto. Ini persis seperti menyandingkan pembunuh dan korbannya. Militer yang diduga membunuh Marsinah beroperasi atas perintah Soeharto untuk membungkam hak-hak buruh atas hidup layak.

Tidak banyak yang diminta oleh para buruh seperti Marsinah hanya cukup makan tiga kali sehari, berpakaian pantas, dan punya kamar kos yang kadang dibagi dengan beberapa orang. Juga mungkin, kalau ada sisa, mengirim sedikit untuk nenek yang membesarkannya.

Untuk saya, sangat jelas mengapa Marsinah disandingkan dengan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional? Sebab Marsinah bisa berfungsi sebagai pemutih dan penetral kontroversi tentang Soeharto. Hei, lihat kami juga menjadikan Marsinah sebagai Pahlawan Nasional. Tidak hanya Soeharto.

Ini adalah penghinaan atas penderitaan Marsinah. Khususnya karena tidak ada orang yang bertanggungjawab atas kematiannya. Ini memperkuat asumsi “kalau kamu militer, kamu bisa berbuat apa saja” tanpa ada konsekuensi apapun. Dan bahkan kamu bisa menjadi Pahlawan Nasional.

Menghukum orang yang menyiksa secara brutal dan sadis Marsinah, jauh lebih penting daripada menjadikannya Pahlawan Nasional. Apalagi menyandingkannya dengan Soeharto.[]

  • Author: Rls/Red
  • Editor: Redaksi
  • Source: Tim/Red

Komentar (0)

At the moment there is no comment

Please write your comment

Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) are required

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tiga Wartawan AKPERSI DPC Kabupaten Bogor Diduga Dilecehkan Oknum Pelaksana Proyek Turap di Balaraja

    • calendar_month Sel, 16 Des 2025
    • account_circle HUSEN
    • visibility 82
    • 0Comment

    Tegarnews.co.id – Kabupaten Tangerang, 16 Desember 2025| Tiga orang wartawan yang tergabung dalam Asosiasi Keluarga Pers Indonesia (AKPERSI) DPC Kabupaten Bogor mengaku mengalami dugaan pelecehan oleh oknum pelaksana proyek rehabilitasi turap saluran air di wilayah Perahu Villa, Kecamatan Balaraja, Kabupaten Tangerang. Ketiga wartawan tersebut berasal dari media Afjnews.com dan CenterNusantara.com, yang saat itu tengah melakukan […]

  • Bhayangkari Jabar Gelar Bakti Sosial, Tunjukkan Kepedulian Dalam Rangkaian Memperingati Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari Ke-73

    • calendar_month Sel, 8 Jul 2025
    • account_circle Rls/Red
    • visibility 79
    • 0Comment

    Tegarnews.co.id-Bandung, Jawa Barat 8 Juli 2025 – Dalam rangka memperingati Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari ke-73 tahun 2025, Pengurus Daerah Bhayangkari Jawa Barat menggelar bakti sosial serentak di seluruh wilayah Jawa Barat. Kegiatan bertajuk “Bhayangkari Peduli” ini dipimpin langsung oleh Ny. Diana Rudi Setiawan beserta jajaran pengurus. Salah satu lokasi kegiatan terpusat di Cingised, Cisaranten, Bandung. […]

  • Ketum PPWI Nilai Polres Blora Berkolusi Dengan Mafia BBM Ilegal Memenjarakan Wartawan

    • calendar_month Sab, 31 Mei 2025
    • account_circle Rls/Red
    • visibility 131
    • 0Comment

    Tegarnews.co.id-Jakarta,1Juni 2025| Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (Ketum PPWI), Wilson Lalengke, S.Pd, M.Sc, MA, menilai Kepolisian Resor Blora, Polda Jawa Tengah, terindikasi kuat bekerjasama dengan para bandit mafia BBM illegal jenis solar di wilayah Blora. Hal itu disampaikan wartawan senior tersebut ke jejaring media se-Indonesia hari ini, Sabtu, 31 Mei 2025, merespon penangkapan tiga […]

  • Kampanye Nasional Kusta, Menkes Janjikan Insentif, Gubernur Dorong Peran Desa

    • calendar_month Rab, 23 Jul 2025
    • account_circle Husen
    • visibility 233
    • 0Comment

    Tegarnews.co.id – Bekasi– Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin bersama Gubernur Jawa Barat H. Dedi Mulyadi, S.H., M.M melakukan kunjungan kerja dalam rangka program penanggulangan kusta di Kabupaten Bekasi, Rabu (23/7/2025).   Kegiatan berlangsung di Aula Kantor Kecamatan Serang Baru dan dihadiri oleh lebih dari 300 peserta dari berbagai unsur pemerintahan dan masyarakat. Dalam […]

  • TOT Desa Watch, Dari Ballroom ke Balai Desa, Langkah Awal Revolusi Transparansi

    • calendar_month Sel, 22 Jul 2025
    • account_circle Husen
    • visibility 412
    • 0Comment

    Tegarnews.co.id – Bogor- Untuk mendukung terwujudnya tata kelola pemerintahan desa yang aman dan bersih, Masyarakat Pejuang Bogor (MPB) melalui divisi Desa Watch menggelar kegiatan Training of Trainers (TOT) yang berlangsung di Ballroom Hotel Sayaga Horison, Jalan Tegar Beriman, Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor, Selasa (22/7/2025).   Kegiatan ini digelar guna meningkatkan kompetensi dan kapasitas para anggota […]

  • Saeful Yunus SE, MM Siap Pasang Badan Bela Dua Desa Yang Belum Terima Kompensasi Bertahun-Tahun dari PT Indocement

    • calendar_month Sab, 4 Okt 2025
    • account_circle Rls/Red
    • visibility 82
    • 0Comment

    Tegarnews.co.id-Cirebon, 4 Oktober 2025| Saeful Yunus SE, MM, menyatakan sikap tegasnya untuk membela hak masyarakat di dua Desa yang selama bertahun-tahun belum juga menerima kompensasi dari PT Indocement. Menurutnya, penundaan tersebut bukan hanya kelalaian administratif, tetapi juga merupakan bentuk pengabaian kewajiban perusahaan terhadap masyarakat yang terdampak langsung oleh aktivitas industri semen. Saeful Yunus menegaskan, dasar […]

expand_less