Kawasan Industri Pupuk Fakfak Dinilai Perkuat Ekonomi Papua Barat
- account_circle Rls/Red
- calendar_month Kam, 22 Jan 2026
- visibility 53
- comment 0 komentar

Foto : Polres Fakfak dan Petani Saat Panen Raya Jagung
Tegarnews.co.id-Papua Barat, 23 Januari 2026| Pembangunan Kawasan Industri Pupuk (KIP) Fakfak di Papua Barat dinilai sebagai langkah strategis untuk mendorong transformasi ekonomi Indonesia Timur. Proyek ini diyakini mampu menciptakan efek domino positif yang berkelanjutan melalui penguatan sektor hulu, hilir, serta aktivitas ekonomi lokal.
Peneliti dan Pengajar Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) Universitas Indonesia, Mohamad Dian Revindo, menilai industri pupuk di Fakfak sejalan dengan agenda pembangunan ekonomi yang lebih berkeadilan. Selama ini, struktur ekonomi Papua masih didominasi sektor ekstraktif dengan nilai tambah yang relatif rendah.
“Rencana pemerintah membangun industri pupuk di Fakfak dapat dipandang sebagai langkah strategis dalam mendorong pembangunan ekonomi yang lebih berkeadilan, melalui penguatan backward linkage ke sektor hulu dan forward linkage ke sektor hilir,” ujar Revindo dalam keterangan pers, (21/1).
Dari sisi hulu, Revindo mengatakan, industri pupuk berpotensi menyerap berbagai sumber daya lokal, mulai dari pemanfaatan gas alam sebagai bahan baku, hingga keterlibatan sektor pendukung seperti jasa konstruksi, logistik, energi, serta tenaga kerja lokal.
Keunggulan geografis Fakfak yang berada dekat jalur maritim kawasan timur Indonesia juga menjadi nilai tambah tersendiri. Posisi ini dinilai mampu menekan biaya distribusi pupuk dibandingkan jika seluruh pasokan dikirim dari wilayah barat Indonesia, sekaligus meningkatkan daya saing industri.
Menurut Revindo, pengembangan industri pengolahan berbasis sumber daya lokal menjadi kunci untuk memperluas basis ekonomi daerah dan mengurangi ketergantungan Papua pada eksploitasi sumber daya primer.
Namun, ia menekankan bahwa manfaat Kawasan Industri Pupuk Fakfak harus dapat dirasakan langsung oleh masyarakat lokal. Keberadaan kawasan industri tidak cukup hanya menyerap tenaga kerja di dalam kawasan, tetapi juga harus mendorong tumbuhnya usaha pendukung di luar kawasan.
“Pengalaman di Indonesia menunjukkan kawasan industri dapat menjadi pengungkit ekonomi daerah apabila terintegrasi dengan ekonomi lokal,” katanya
Dari sisi hilir, Revindo mengatakan, kehadiran industri pupuk di Fakfak berpotensi memperkuat basis produksi komoditas pertanian dan perkebunan di Papua serta kawasan timur Indonesia. Dampak lanjutannya adalah terciptanya efek pengganda bagi sektor transportasi, perdagangan, dan jasa penunjang
Revindo menilai, hilirisasi sumber daya alam di Papua merupakan agenda penting untuk menciptakan nilai tambah ekonomi yang selama ini lebih banyak dinikmati wilayah lain. Lebih jauh, pengembangan industri pengolahan di Papua, termasuk industri pupuk di Fakfak, tidak hanya berfungsi sebagai strategi pertumbuhan ekonomi, tetapi juga sebagai upaya pengendalian biaya hidup dan penguatan ketahanan ekonomi wilayah.
Arah kebijakan ini sejalan dengan perencanaan nasional. Bappenas menegaskan bahwa industrialisasi berbasis wilayah di kawasan timur Indonesia, termasuk Papua, menjadi prasyarat penting untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang lebih seimbang, berkelanjutan, dan berkeadilan secara spasial.
“Urgensi percepatan pembangunan ekonomi di Papua bukan semata mengejar pertumbuhan, tetapi harus diarahkan pada diversifikasi ekonomi, penciptaan lapangan kerja lokal, serta penguatan sektor produktif non-ekstraktif agar manfaat pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat,” tuturnya
Meski demikian, Revindo mengingatkan adanya sejumlah prasyarat agar pembangunan kawasan industri di Papua memberikan manfaat berkelanjutan. Di antaranya adalah pengakuan dan perlindungan hak masyarakat adat, prioritas penyerapan serta pelatihan tenaga kerja lokal, penguatan UMKM Papua dalam rantai pasok industri, serta penerapan standar lingkungan yang ketat.
“Manfaat tersebut tidak bersifat otomatis. Diperlukan pendekatan pembangunan yang inklusif, khususnya di daerah dengan karakter sosial dan budaya yang khas seperti Papua. Tanpa pendekatan sosial-budaya yang kontekstual, manfaat industrialisasi berisiko tidak optimal,” ucap Revindo.[]
- Penulis: Rls/Red
- Editor: Redaksi
- Sumber: Tim/Red



Saat ini belum ada komentar