Bukan Sekadar Ledakan: Ini 4 Alasan Mengapa AS “Gemetar” Jika Iran Punya Nuklir
- account_circle Rls/Red
- calendar_month Kam, 5 Feb 2026
- visibility 18
- comment 0 komentar

Tegarnews.co.id-Jakarta, 5 Februari 2026| Sikap Washington yang mati-matian menjegal program nuklir Iran sering kali terlihat obsesif, bahkan berlebihan. Publik mungkin bertanya-tanya: Kenapa AS begitu takut? Bukankah mereka punya ribuan hulu ledak nuklir sendiri?
Jika kita membedahnya menggunakan kacamata militer, ketakutan itu ternyata sangat rasional. Ini bukan sekadar soal potensi ledakan bom, melainkan mimpi buruk terbesar bagi negara adidaya: Hilangnya Kendali (Hegemoni) di Timur Tengah.
Secara teknologi, militer AS memang jauh di atas angin. Namun, satu hulu ledak nuklir di tangan Teheran dinilai cukup untuk meruntuhkan dominasi AS secara permanen. Berikut adalah bedah analisis mengapa Pentagon “alergi berat” melihat Iran menjadi negara nuklir:
1. Nuklir adalah “Tameng Kekebalan” Mutlak
Alasan pertama dan terbesar adalah konsep absolute deterrence. Dalam doktrin militer, negara yang memiliki senjata nuklir masuk ke dalam kategori “mustahil diinvasi”. Jika Teheran sukses mengembangkan nuklir, opsi intervensi militer—baik oleh AS maupun Israel—menjadi nihil. Risiko serangan balasan terlalu katastrofik. Dengan “tameng” ini, Iran akan memiliki keleluasaan luar biasa. Mereka bisa lebih agresif menyokong kelompok proksi seperti Hizbullah dan Houthi tanpa rasa takut bahwa tanah air mereka akan diserang balik oleh pasukan asing.

2. Memicu Efek Domino (Perlombaan Senjata)
Washington sangat ngeri membayangkan skenario “Efek Domino” di kawasan Teluk. Jika Iran mendeklarasikan diri sebagai negara nuklir, tetangga-tetangganya tidak akan tinggal diam. Kekuatan regional lain seperti Arab Saudi, Turki, hingga Mesir diprediksi akan merasa terdesak untuk memiliki mainan yang sama demi menjaga harga diri dan keseimbangan kekuatan. Hasilnya? Timur Tengah—yang merupakan lumbung energi dunia—akan berubah menjadi zona paling tidak stabil dengan banyak negara memegang tombol nuklir.
3. Sandera di Selat Hormuz
Ini adalah soal perut ekonomi dunia. Secara geografis, Iran menguasai sisi utara Selat Hormuz, jalur sempit di mana hampir 20% pasokan minyak dunia melintas. Saat ini saja Iran punya posisi tawar yang kuat. Bayangkan jika posisi itu dipayungi oleh senjata nuklir. Teheran bisa menggunakan selat ini sebagai senjata politik yang jauh lebih mematikan. Mereka bisa mendikte harga minyak atau mengancam blokade dengan percaya diri, membuat ekonomi negara-negara Barat berguncang hebat.
4. Trauma Skenario Korea Utara
Para analis di Pentagon sedang berusaha keras mencegah terulangnya “Mimpi Buruk Pyongyang.” AS telah belajar dari pengalaman pahit dengan Korea Utara. Begitu sebuah negara memiliki nuklir, mereka berubah menjadi entitas yang kebal: tidak bisa ditekan, sulit didikte, dan mustahil diatur secara diplomatik. AS tidak ingin Iran mencapai status “tak tersentuh” serupa, yang secara otomatis akan mengakhiri era di mana AS bisa menjadi “polisi” yang mengatur keamanan di kawasan Teluk.
Kesimpulan. Langkah AS menahan laju nuklir Iran bukanlah paranoia semata, melainkan kalkulasi dingin untuk mempertahankan status quo. Bagi AS, Iran dengan nuklir bukan hanya ancaman keamanan, tapi tanda berakhirnya era dominasi Amerika di Timur Tengah.[]
- Penulis: Rls/Red
- Editor: Redaksi
- Sumber: Hagia Sofia



Saat ini belum ada komentar