Spanduk Pedas di Balai Kota Bogor, JANGKAR Sentil “2 Minggu Hilang Tanpa Kabar” dan Isu WIL
- account_circle AG
- calendar_month 3 hour ago
- visibility 8
- comment 0 comment

Tegarnews.co.id – Bogor, 11 Maret 2026 | Aksi simbolik bernada keras terjadi di depan pagar Balai Kota Bogor. Massa dari Jaringan Koalisi Rakyat (JANGKAR) Kota Bogor memasang spanduk kritik tajam dan membakar ban sebagai bentuk protes atas polemik ketidakhadiran Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin yang disebut sudah hampir dua pekan tidak terlihat menjalankan aktivitas kedinasan. Senin, 9 Maret 2026.
Tanpa orasi dan tanpa kerumunan besar, aksi tersebut justru menyampaikan pesan keras melalui tulisan yang terpampang di pagar Balai Kota. Dalam spanduk itu tertulis kalimat “2 Minggu Hilang Tanpa Kabar”, disusul sindiran tajam “Sehat Pencitraan, Sakit Hilang Kabar Bullshit!”.
Tak berhenti di situ, spanduk lain juga memuat tulisan “Ada Apa dengan WIL?!!” serta “Bungkam WIL? M ?” yang secara terang-terangan mempertanyakan isu yang belakangan ramai diperbincangkan di ruang publik.
Sebelumnya, Pemerintah Kota Bogor melalui Wali Kota menyampaikan bahwa Wakil Wali Kota sedang dalam kondisi sakit. Namun bagi pihak pengkritik, penjelasan tersebut dinilai tidak cukup dan justru memunculkan lebih banyak tanda tanya.
Mereka menilai, sebagai pejabat publik, Jenal Mutaqin seharusnya tampil langsung memberikan klarifikasi kepada masyarakat, bukan hanya melalui pernyataan pihak lain. Apalagi jika alasan ketidakhadiran adalah sakit, publik menilai seharusnya ada penjelasan terbuka yang disertai keterangan resmi.
Tulisan dalam spanduk yang menyinggung isu WIL juga menjadi sorotan, karena hingga kini belum ada penjelasan ataupun bantahan yang jelas dari pihak terkait. Kondisi tersebut dinilai membuat ruang spekulasi semakin liar di tengah masyarakat.
Aksi tersebut berlangsung singkat. Massa hanya memasang spanduk di pagar Balai Kota Bogor, menyalakan api dari ban bekas sebagai simbol kemarahan, lalu meninggalkan lokasi tanpa menyampaikan orasi. Namun pesan yang ditinggalkan di spanduk-spanduk itu jelas: publik menuntut kejelasan, bukan sekadar penjelasan setengah hati.[]
- Author: AG
- Editor: Redaksi
- Source: AG



At the moment there is no comment