“Bis Kota” Citra Rasa Kopi Sejati di Sudut Pasar Jatinegara Tak Pernah Berubah Sejak 1943
- account_circle Rls/ Muhamad Dekra
- calendar_month Sab, 27 Des 2025
- visibility 46
- comment 0 komentar

Tegarnews.co.id—Jakarta 27 Desember 2025| Di balik keriuhan Jatinegara, terselip sebuah aroma yang seolah menghentikan waktu di Pintu Timur Pasar Mester, Jakarta Timur. Wangi semerbak biji kopi sangrai yang bersumber dari Toko Jaya, sebuah kedai kopi legendaris yang menjadi saksi bisu denyut nadi Jakarta sejak tahun 1943.
Bagi para pencinta kopi sejati di Jakarta Timur, merek kopi ‘Bis Kota’ bukan sekadar nama, melainkan jaminan rasa yang konsisten melintasi zaman.
Siauw Sumiati (75), perempuan paruh baya kini menjadi nakhoda generasi kedua Toko Jaya, mengisahkan bagaimana toko ini bertahan. Bersama sang anak yang merupakan generasi ketiga, Siauw menjaga warisan keluarga itu agar tidak lekang oleh waktu.
“Mungkin toko kopi ini salah satu yang terlama. Sudah tiga generasi kami di sini, dan kami memutuskan untuk tidak membuka cabang di mana pun. Cuma satu toko, di sini saja,” ujar Siauw dengan nada bangga.
Kesetiaan pada satu titik lokasi ini justru menjadi magnet bagi para pelanggan setia yang datang dari berbagai penjuru, demi mendapatkan bungkus kertas cokelat ikonik bergambar bus kuno.

Hal yang paling mengagumkan dari Toko Jaya bukanlah dekorasi modern atau interior kekinian, melainkan deretan tiga mesin giling antik buatan tahun 1943. Meski usianya sudah lebih dari delapan dekade, mesin-mesin ini tetap perkasa menghaluskan biji kopi, bahkan dalam satu jam bisa menghaluskan ratusan kilo.
Toko Jaya menyediakan beragam pilihan biji kopi berkualitas yang didatangkan langsung dari Sumatra, Jawa Barat, hingga Sulawesi. Di sini juga tersedia Kopi WB, sebuah racikan rahasia khas Bis Kota yang sulit ditemukan di tempat lain.
Soal harga, kopi Bis Kota masih memasang harga standar. Untuk jenis Arabika, dikisaran Rp230.000 perkg, sementara Robusta Rp150.000 perkg.
Meski tren kedai kopi kekinian menjamur di setiap sudut Jakarta, Toko Jaya tetap berdiri tegak. Siauw mengaku omzet saat ini memang tidak menentu dan tak sefantastis masa lalu, namun baginya, usaha ini lebih dari sekadar angka di atas kertas.
“Ya, pelanggan tetap berdatangan. Kami terus berjalan,”pungkasnya sederhana.
Di tengah dunia yang bergerak serba cepat, Kopi Bis Kota jadi pengingat bahwa dedikasi, kemasan kertas cokelat yang bersahaja, dan aroma kopi yang jujur akan selalu memiliki tempat di hati orang banyak.[]
- Penulis: Rls/ Muhamad Dekra
- Editor: Redaksi
- Sumber: Adhitya Pratama


Saat ini belum ada komentar