Monorel Jakarta Resmi Dibongkar, Sutiyoso Hadir di Samping Pramono Anung
- account_circle Rls/Red
- calendar_month Kam, 15 Jan 2026
- visibility 60
- comment 0 komentar

Foto: Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bersama mantan Gubernur Jakarta Sutiyoso (Dok Istimewa)
Tegarnews.co id-Jakarta, 16 Januari 2026| Tiang monorel yang mangkrak selama puluhan tahun di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, akhirnya resmi dibongkar. Pembongkaran secara resmi dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Wakil Gubernur Rano Karno, Rabu 14 Januari 2026.
Saat peresmian pembongkaran itu, orang yang berdiri di samping kiri Gubernur Pramono bukan Rano Karno, melainkan laki-laki sepuh berkemeja batik yang wajahnya sangat dikenal oleh warga Jakarta. Dia adalah Sutiyoso, (81) Gubernur DKI Jakarta dua perode (1997-2007).
Sutiyoso atau yang biasa disebut Bang Yos merasa lega karena akhirnya masalah mangkraknya proyek monorel ada penyelesaiannya. “Jujur saja, hari ini hati saya lega sekali dengan adanya kepastian yang dicanangkan oleh Pak Gubernur Pramono,” katanya
Bang Yos patut merasa lega karena pada masa kepemimpinannya tiang monorel itu itu berdiri. Ia adalah penggagas sisitem transportasi dengan menggunakan kereta monorel.
Bang Yos pun mengenang awal mula gagasan pembangunan monorel Jakarta yang muncul pada awal 2000-an sebagai solusi jangka panjang mengatasi kemacetan. Sutiyoso lantas menjelaskan soal gagasannya soal Monorel pada waktu dirinya menjabat Gubernur DKI.
Ia mengatakan, dari hasil kajian para pakar transportasi saat itu menyimpulkan Jakarta membutuhkan empat moda transportasi yang terintegrasi. Empat moda itu adalah “Mass Rapid Transportation” (MRT) bawah tanah, monorel di atas, busway, dan waterway.
Ia juga sempat melakukan studi banding ke sejumlah negara. Seperti Kolombia, Filipina, dan Thailand, yang menunjukkan monorel cocok untuk kota besar.
Namun, kondisi sosial ekonomi pascakerusuhan Mei 1998 membuat kepercayaan investor belum pulih. Karena itu, Sutiyoso memutuskan memulai pembangunan transportasi massal yang tidak membutuhkan investor besar, yakni busway.
“Kalau semua menunggu kondisi sempurna, sampai hari raya kuda juga enggak jadi. Maka yang bisa langsung dikerjakan ya busway,” ucapnya.
Meski demikian, proyek monorel tetap berjalan paralel. Proyek monorel secara resmi dimulai 2004. Peletakan batu pertama dilakukan pada 14 Juni 2004 oleh Presiden Megawati Soekarnoputri di Jalan Asia Afrika, Senayan, Jakarta.
Namun sayang proyek ini mulai berhenti sejak 2007 akibat sengketa hukum antara kontraktor dan pengembang. Masalah utama adalah pengembang tidak memilki dana yang cukup untuk melanjutkan proyek itu yaitu sekitar tUSD 144 juta.
Konflik antara kontraktor dan pengembang ini menjadi hambatan besar bagi kelanjutan proyek. Pada massa Gubernur Fauzi Bowo, proyek ini akhirnya resmi dihentikan tahun 2008.
Pada masa gubernur DKI selanjutnya, ada upaya untuk menghidupkan lagi proyek monorel itu, namun semua akhirnya terhenti. Melihat berbagai alternatif kelanjutan proyek monorel buntu, akhirnya Gubernur Pramono Anung memutuskan untuk membongkar tiang beton yang sudah terlanjur beridiri dari Jalan Asia Afrika, Senayan hingga Jalan Rasuna Said, Kuningan Jakarta.
Sementara itu, Gubernur Pramono Anung mengatakan terdapat 109 tiang monorel yang akan dibongkar. Nantinya, di lokasi akan ditata ulang sebagai bagian dari penataan kawasan Rasuna Said.
“Jumlah tiangnya ada 109 sampai dengan ujung Jalan Rasuna Said. Ini akan ditata rapi dan mudah-mudahan kemacetan juga akan berkurang. Target kami September sudah selesai,” ujar Pramono.[]
- Penulis: Rls/Red
- Editor: Redaksi
- Sumber: Tim/Red


Saat ini belum ada komentar