Opsi Krisis Denny Charter: Jadikan Anggaran MBG Sebagai Penahan Lonjakan Harga Minyak
- account_circle Rls/Red
- calendar_month 1 hour ago
- visibility 3
- comment 0 comment

Tegarnews.co.id – Jakarta, 16 Maret 2026 | Eskalasi konflik di Timur Tengah yang kian memanas kini menjadi ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi domestik Indonesia. Sebagai wilayah kunci produksi dan distribusi minyak mentah dunia, ketegangan di kawasan tersebut diprediksi dapat mengerek harga minyak hingga melampaui angka $110 per barel. Kondisi ini, jika dibarengi dengan pelemahan nilai tukar Rupiah yang menembus Rp 17.000 per USD, diperkirakan akan menciptakan guncangan eksternal hebat yang menekan postur APBN serta daya beli masyarakat luas.
Menanggapi situasi tersebut, Wakil Ketua Umum Pimnas Partai Kebangkitan Nusantara (PKN), Denny Charter, menekankan perlunya langkah teknokratis yang berani dari pemerintah untuk menjaga kredibilitas fiskal. Menurutnya, pemerintah harus menyiapkan skenario terburuk jika asumsi makro dalam APBN melesat jauh dari target awal.
“Indonesia adalah net importer minyak mentah dan BBM. Jika harga minyak dunia menyentuh $110 per barel dan Rupiah terdepresiasi ke Rp 17.000, beban subsidi energi akan membengkak drastis. Dalam situasi kritis seperti ini, evaluasi atau moratorium terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi opsi paling rasional untuk menyelamatkan stabilitas negara,” ujar Denny dalam keterangan tertulisnya, Jumat (13/3).
Kalkulasi Pembengkakan Anggaran
Denny memaparkan analisis matematis berdasarkan sensitivitas APBN terhadap perubahan asumsi dasar. Dengan asumsi normal ICP di angka $82/barel dan kurs Rp 15.500/USD, maka skenario krisis akan menciptakan selisih beban yang sangat besar.
Guncangan ICP: Setiap kenaikan $1/barel menambah defisit bersih sekitar Rp 1,5 Triliun. Dengan selisih $28 dari asumsi normal, beban bertambah Rp 42 Triliun.
Guncangan Kurs: Setiap pelemahan Rp 100/USD menambah beban subsidi sekitar Rp 3,5 Triliun. Dengan pelemahan Rp 1.500, beban membengkak hingga Rp 52,5 Triliun.
“Total potensi pembengkakan anggaran energi minimal mencapai Rp 94,5 Triliun. Angka ini bahkan bisa melampaui Rp 100 Triliun jika terjadi panic buying di masyarakat,” lanjut Denny.
Menghindari Risiko Sosial dan Politik
Lebih lanjut, Denny mengingatkan bahwa menaikkan harga BBM subsidi seperti Pertalite, Solar, dan LPG 3 Kg di tengah kondisi ekonomi yang sulit adalah langkah yang sangat berisiko secara politik. Sejarah tahun 1998 dan 2022 membuktikan bahwa lonjakan harga kebutuhan dasar adalah pemicu utama kerusuhan sosial massal yang dapat menggoyang legitimasi pemerintah.
Oleh karena itu, ia mengusulkan agar dana yang dialokasikan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dijadikan sebagai buffer atau bantalan fiskal sementara.
“Menghentikan sementara atau moratorium program MBG adalah langkah yang minim risiko politis dibandingkan harus menaikkan harga BBM. Dengan mengalihkan dana tersebut untuk menahan harga energi, daya beli kelas menengah bawah tetap terlindungi, dan pemerintah tidak melanggar batas defisit 3% terhadap PDB,” tegasnya.
Denny menutup penjelasannya dengan menekankan bahwa langkah ini bukan berarti membatalkan janji politik, melainkan bentuk adaptasi pemerintah yang responsif terhadap situasi darurat demi menjaga napas perekonomian nasional.[]
- Author: Rls/Red
- Editor: Redaksi
- Source: Tim/Red





At the moment there is no comment