Pagar Balaikota Jebol, Mahasiswa Paksa Pemerintah Keluar Hadapi Rakyat
- account_circle AG
- calendar_month 1 menit yang lalu
- visibility 2
- comment 0 komentar

Tegarnews.co.id-Kota Bogor, 13 Februari 2026| Aksi unjuk rasa Aliansi BEM Se Bogor Raya berlangsung tegang di depan Balaikota Bogor. Puluhan massa memadati gerbang utama sambil membentangkan spanduk tuntutan dan menyampaikan kritik terbuka terhadap kebijakan pemerintah daerah.
Deru orasi, teriakan kritik, dan dorongan puluhan mahasiswa membuat pagar besi kantor pemerintahan tersebut roboh. Bunyi dentuman logam menghantam tanah menjadi penanda kesabaran mahasiswa habis.
Puluhan massa Aliansi BEM Se-Bogor Raya datang bukan untuk seremoni. Mereka membawa daftar tuntutan dan kekecewaan atas satu tahun kinerja Pemerintah Kota Bogor yang dinilai jauh dari janji kampanye.
Sejak awal, aksi berlangsung panas. Mobil komando terparkir tepat di depan gerbang. Spanduk kritik dibentangkan. Orasi dilontarkan tanpa kompromi.

Isu tenaga kerja lokal, pengangguran, sampah, drainase, ruang terbuka hijau, hingga dugaan ketertutupan anggaran RSUD Kota Bogor menjadi sasaran utama.
Namun, ketika tak satu pun perwakilan pemerintah segera menemui massa, kemarahan meledak.
Dorongan terjadi. Pagar diguncang berulang kali. Beberapa detik kemudian jebol.
Besi yang seharusnya menjadi pembatas antara penguasa dan warga justru runtuh oleh tekanan rakyat sendiri. Bagi mahasiswa, itu bukan sekadar pagar roboh, tapi simbol runtuhnya kepercayaan publik terhadap birokrasi.

Di atas mobil komando, Korlap Azis berteriak lantang.
“Kalau pintu dialog ditutup, jangan salahkan kami masuk paksa. Kami datang menagih tanggung jawab. Uang rakyat harus jelas ke mana arahnya. Rumah sakit harus transparan. Tenaga kerja lokal harus dilindungi. Kalau pemerintah diam, kami yang bergerak.”
Nada orasi keras, nyaris menggugat. Tak ada lagi bahasa diplomatis.
Tekanan tersebut akhirnya memaksa pemerintah turun. Wakil Wali Kota Bogor, Zaenal Mutaqin, didampingi Sekretaris Daerah, keluar menemui massa untuk audiensi.
Meski dialog berlangsung, mahasiswa menilai jawaban pemerintah masih normatif dan defensif. Bagi mereka, persoalan kota bukan kekurangan alasan, melainkan kekurangan tindakan.
Menjelang sore, massa membubarkan diri. Situasi kembali kondusif. Namun ancaman aksi lanjutan disampaikan tegas, jika tidak ada langkah konkret dalam waktu dekat, Balaikota akan kembali dipenuhi gelombang massa yang lebih besar.
Karena bagi mahasiswa, ketika pagar pemerintah roboh, yang tersisa hanya satu hal: rakyat menuntut didengar.[]
- Penulis: AG
- Editor: Redaksi
- Sumber: AG


Saat ini belum ada komentar