Barang AS 0% – Barang Kita 19% “To Read Between The Line” Membaca Di Antara Dua Garis
- account_circle Rls/Red
- calendar_month 1 hour ago
- visibility 4
- comment 0 comment

Tegarnews.co.id-Jakarta, 28 Februari 2026| Presiden kita, Pak Prabowo ke Amerika lagi Ketemu Donald Trump untuk nego tarif dagang. Hasilnya, barang masuk dari AS 0%. Sementara barang dari kita, dikenakan tarif 19%. Negara super power dilawan.
Yang harus disadari oleh presiden Prabowo dalam menghadapi Trump terkait kenaikan tarif, mengantisipasi modus yang diterapkan Trump dengan menggunakan tekanan kenaikan tarif secara bercabang.
Satu soal katakanlah sudah deal, oke sepakat ya. Terus bikin perjanjian. Tapi nanti ada hal lain yang sebetulnya di luar soal kenaikan tarif, misalnya soal gas, soal mineral jarang, lalu yang sudah disepakati jadi 10 persen itu, lalu dinaikkan lagi. Jadinya terpaksa bikin deal lagi seakan-akan dari awal lagi. Dan seterusnya.
Dalam perjanjian di meja perundingan yang sejatinya juga perang nonmiliter, sebenarnya wajar saja kalau kemudian terjadi quit pro qua atau timbal-balik kesepakatan dalam hal memberi dan menerima. Tapi kalau kemudian modusnya didasari pemerasan dan tekanan yang bersifat kasus per kasus, pada perkembangannya Trum sama saja dengan para presiden Neolib sebelumnya. Hanya saja Trump lebih vulgar.
Sisi lain, publik memang berhak tahu kalaupun ada deal quit pro quo dalam sebuah perjanjian seperti soal tarif ini. Namun publik, termasuk media massa, bukan cuma berhak tahu. Namun secara proaktif harus mencari tahu melalui berbagai cara. Baik yang ada dibenak Trump maupun Prabowo. Buka saja, asalkan berasal dari sumber-sumber yang valid dan teruji.
Misalnya dalam agreement yang tercantum dalam kesepakatan Trump-Prabowo, benarkah kewajiban untuk mengirim data ke Amerika, kita tidak meminta quit pro quo sebagai imbalan yang seimbang. Kalau tak ada ya berarti kalah total dong kita di meja perundingan. Tapi apa iya begitu? Di sinilah para jurnalis menyebut perlunya To Read between the Line. Membaca di antara dua garis. Membaca halaman kosong itu penting karena sebetulnya ada isinya juga. Nah yang ini malah nggak dibaca.
Intinya jangan buru buru dulu menghakimi, namun membaca dan mengamati secara cermat. Saya kira inilah yang paling rawan di era digital. Malas untuk deep reading. Kedua, lebih senang membaca atau mendengar yang memang ingin dia baca atau dengar. Konfirmasi Bias.
Mungkin para orang tua kita dulu, termasuk saya, sampai kurun waktu tertentu, kemakan petuah mereka dulu. “Jangan dengar radio musuh.” Padahal, mendengar radio musuh itulah kita dapat mengenali maksud tujuan musuh.[]
- Author: Rls/Red
- Editor: Redaksi
- Source: Opini Publik



At the moment there is no comment