Breaking News
light_mode
Home » Opini » Membongkar Praktik Komitmen Fee yang Membuat Kepala Daerah Bergelimang Harta

Membongkar Praktik Komitmen Fee yang Membuat Kepala Daerah Bergelimang Harta

  • account_circle Rls/Red
  • calendar_month Sab, 13 Des 2025
  • visibility 348
  • comment 0 comment

Tegarnews.co.id-Jakarta, 13 Desember 2025| Kalian pasti sering mendengar istilah komitmen fee, atau bahasa warkopnya, jatah preman. Di kehidupan nyata istilah itu bukan fiksi, nyata adanya. Komitmen fee inilah yang membuat kepala daerah di mana pun bergelimang harta benda, posisi politiknya kuat. Mari kita bongkar praktik yang sudah mendarah daging ini sambil seruput Koptagul, wak!

Begitu musim pembahasan APBD tiba, negeri ini berubah seperti laboratorium raksasa tempat para pejabat sedang bereksperimen menciptakan rumus korupsi paling ilmiah sepanjang sejarah peradaban Nusantara. Draft APBD baru saja jatuh ke meja dewan, gedebuk! aroma uang langsung naik seperti uap kopi tubruk, dan kalkulator-kalkulator tak kasat mata dalam kepala para pejabat hidup seperti kuntilanak yang baru dipanggil.

Misalnya proyek Rp22 miliar. Secara teori akademik, anggaran ini harus berubah menjadi aspal tebal, jembatan kokoh, dan drainase yang mengalirkan air, bukan mengalirkan aib. Tapi begitu proyek diketok, ritual kuno bernama “komitmen fee” mulai menari dengan lincah. Pertama, dipotong 10% di depan sebagai mahar hubungan harmonis antara kepala daerah dan kontraktor. Dari Rp22 miliar, hilang Rp2,2 miliar secepat kedipan mata. Sisa Rp19,8 miliar. Lalu ketika SPK turun, dipotong lagi 5% untuk memperkuat tali silaturahmi yang lebih mahal dari harga pernikahan seleb. Sisa tinggal Rp18,81 miliar. Setelah itu baru ilmu teknik terapan bekerja, volume material dikurangi 20%. Dari Rp18,81 miliar, nilai real di lapangan jatuh ke Rp15,048 miliar. Maka resmi sudah, dari proyek Rp22 miliar, yang benar-benar berubah menjadi bangunan hanya sekitar Rp15 miliar lebih sedikit. Sisanya sebesar Rp7 miliar bukan hilang, dia hanya berpindah tempat, dari kas daerah ke “kantong-kantong berlapis moralitas”.

Kenapa uang itu lenyap begitu cepat? Karena biaya politik di negeri ini lebih mahal dari biaya membangun tiga ballroom hotel. Kepala daerah untuk menang pilkada bukan hanya butuh visi, tapi visi dengan stempel, tanda tangan, perahu parpol, saksi yang doyan makan, tim sukses yang doyan kuota, baliho yang harus berdiri tegap meski diterpa angin gosip, dan money politic yang mengalir lebih deras dari debit Sungai Kapuas di musim hujan. Modal kampanye bisa tembus belasan miliar. Maka begitu berkuasa, proyek berubah menjadi jalan tol untuk balik modal. Fee 10%, fee 5%, jatah koordinasi, jatah meja, jatah bangku tengah, semuanya adalah “strategi pengembalian investasi demokrasi”.

Di lapangan, kontraktor yang sudah terpotong sana-sini harus tetap kreatif. Aspal dibuat lebih tipis dari martabak telur hemat, semen dicampur lebih encer dari air mata mantan, batu pecah diganti batu lokal yang setengah pecah setengah pasrah, drainase dipasang sepenuh hati tapi tidak sepenuh anggaran. Karena yang terpenting bukan kualitas bangunan, melainkan kualitas dokumentasi. Auditor nanti tidak menginjak aspal, dia menginjak berkas. Kalau foto serah terima ada, laporan progres warna-warni ada, tanda tangan basah ada, selesai, proyek “memenuhi syarat”. Jalan boleh patah dua, tapi dokumen pantang retak.

Di tengah semua kekacauan ilmiah ini, kepala daerah tahu betul bagaimana memperbaiki citra. Ia tiba-tiba berubah menjadi malaikat berkaki dua, membagikan sembako, memberikan sumbangan ke Ormas, media-media lokal dijatah iklan atau kontrak kerja sama,  menyalurkan bantuan untuk musala, masjid, gereja, menyisihkan sumbangan bencana, semua dilakukan dengan cinta kasih… dan lima kamera wartawan dari tiga sudut berbeda. Lengkap dengan video sinematik, slow motion, dan suara musik sedih yang bikin orang lupa, jalan menuju lokasi acara itu baru dibangun dua bulan tapi sudah berlubang. Sumbangan itu bukan sedekah, tapi bagian dari manajemen persepsi, agar publik melihat sisi malaikatnya, sementara sisi setannya sedang mengurus proyek Rp22 miliar yang tinggal Rp15 miliar karena dikuliti dari atas sampai bawah.

Maka rakyat bertanya polos, “Kenapa jalan cepat rusak?” Jawaban dinas tetap fenomenal, “Cuacanya ekstrem.” Padahal yang ekstrem itu bukan cuaca, tapi potongan komitmen yang bertingkat-tingkat seperti tangga surga versi birokrat.

Sementara itu, kepala daerah bisa liburan ke Bali, punya villa di Puncak, apartemen di Jakarta, dan rumah singgah di kota-kota yang AC-nya dingin sampai menusuk iman. Semua dari “komitmen” yang katanya dilakukan demi pembangunan.

Namun setiap tahun, ritual ini lahir kembali. APBD baru, proyek baru, komitmen fee baru, pengurangan volume baru, sedekah berjamaah berkamerakan HD terbaru, dan pembangunan absurd yang tetap sama. Korupsi di negeri ini tidak pernah mati, dia hanya ganti parfum, ganti pencahayaan, dan kadang ganti slogan.

Kita, rakyat setia penonton drama anggaran, hanya bisa mengelus dada sambil tersenyum getir, berharap suatu hari APBD benar-benar kembali ke makna aslinya, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, bukan Anggaran Pendapatan Buat Diri Anda.[]

Oleh: Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

#camanewak

Komentar (0)

At the moment there is no comment

Please write your comment

Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) are required

Rekomendasi Untuk Anda

  • Apresiasi Kapolri Jenderal Sigit Soal Ketahanan Pangan, Haidar Alwi: Tidak Hanya Menjaga Negara Tapi Juga Menanam Masa Depan Bangsa

    • calendar_month Ming, 10 Agu 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 103
    • 0Comment

    Tegarnews.co.id-Jakarta, 10 Agustus 2025| Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI), R Haidar Alwi kembali menyampaikan apresiasi tulus kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo atas perannya dalam mendukung dan mewujudkan program ketahanan pangan nasional Presiden Prabowo Subianto. Hal itu disampaikan Haidar menanggapi pernyataan Prabowo dalam pembukaan Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan Jakarta, (6/8). “Beliau tidak hanya […]

  • Pernyataan Sikap Koalisi Advokat Sulawesi Selatan

    • calendar_month Kam, 29 Mei 2025
    • account_circle Tim/Red
    • visibility 162
    • 0Comment

    Tegarnews.co.id–Makassar| Kriminalisasi terhadap advokat yang menjalankan tugas profesinya adalah masalah serius yang merugikan sistem hukum dan dapat mengancam penggiat profesi lainnya. Advokat memiliki perlindungan hukum, termasuk imunitas, yang menjamin tidak dapat dituntut secara perdata maupun pidana dalam menjalankan tugas profesinya dengan itikad baik berdasarkan Undang-Undang Advokat Nomor 18 Tahun 2003. Jum’at, (30/05/2025) Banyak advokat yang […]

  • Dugaan Premanisme Warnai Sengketa Rumah Di Kota Wisata, Kepastian Hukum Dipertanyakan

    • calendar_month Rab, 18 Feb 2026
    • account_circle Rls/Red
    • visibility 66
    • 0Comment

    Tegarnews.co.id-Bogor, 18 Februari 2026| Sebuah rumah di kawasan elite Perumahan Kota Wisata Cibubur, Cluster Florence Blok H1 No. 19, berubah menjadi pusat ketegangan setelah penghuninya mengaku mengalami tekanan intens, intimidasi, hingga dugaan upaya penguasaan paksa oleh sekelompok orang yang diduga terkait pihak yang mengklaim sebagai pemilik baru. Ironisnya, semua itu terjadi saat penghuni masih sah […]

  • Pengeroyokan Wartawan di Minahasa Tenggara: Cermin Buram Penegakan Hukum dan Arogansi Mafia BBM

    • calendar_month Sab, 7 Mar 2026
    • account_circle Rls/Red
    • visibility 35
    • 0Comment

    Tegarnews.co.id – Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, 8 Maret 2026| Kasus pengeroyokan terhadap wartawan berinisial O alias Onal di SPBU Tababo, Kecamatan Belang, Kabupaten Minahasa Tenggara, pada Selsasa, 03 Maret 2026, lalu kembali membuka luka lama tentang lemahnya penegakan hukum terhadap mafia BBM bersubsidi. Insiden ini terjadi ketika sang wartawan tengah melakukan pemantauan dugaan penyelewengan BBM […]

  • Soal Kasus HIPMI, Garda Mencegah dan Mengobati GMDM Provinsi Lampung Menyikapi Langkah BNNP Lampung

    • calendar_month Sen, 8 Sep 2025
    • account_circle Naryoto
    • visibility 74
    • 0Comment

    Tegarnews.co.id-Lampung, 8 September 2025| Keputusan penyidik Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Lampung merehabilitasi lima mantan pengurus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Lampung menuai kritik tajam. Garda Mencegah dan Mengobati GMDM Provinsi Lampung, Ir.Okta Resi Gumantara, menilai langkah tersebut keliru secara hukum dan berpotensi menyalahi prosedur. Menurut dia, penggunaan Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 4 […]

  • Kontroversi Zakir Naik dan Penggunaan Rumor Kesehatan Sebagai Senjata

    • calendar_month Sen, 22 Sep 2025
    • account_circle Rls/Red
    • visibility 257
    • 0Comment

    Tegarnews.co.id-Jakarta, 22 September 2025| Media sosial telah diramaikan dengan spekulasi seputar Apologet Islam kontroversial, Dr. Zakir Naik, menyusul unggahan viral yang menuduhnya telah didiagnosis HIV/AIDS dan sedang menjalani perawatan di Malaysia. Klaim tersebut, yang berasal dari akun Facebook Zion X Nova, dan beberapa akun anonym lain, telah memicu perdebatan dan kekhawatiran publik. Rumor terkait kesehatan […]

expand_less