King Naga Sesalkan Sikap Tak Manusiawi Pekerja Kesra Datangi Korban Beri Uang Rp150 Ribu, Sambil Bawa Beking Oknum Polisi
- account_circle Rls/Red
- calendar_month 4 minute ago
- visibility 3
- comment 0 comment

Foto: Uang Rp 150 Ribu Rupiah
Tegarnews.co.id – Lebak Banten, 16 April 2026 | Ketua Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI) King Naga, mengecam keras tindakan oknum pekerja di bidang Kesejahteraan Rakyat (Kesra) yang dinilai tidak hanya abai terhadap tanggung jawab, tetapi juga melukai martabat korban. King Naga menyoroti pemberian uang sebesar Rp150 ribu kepada korban yang justru memicu ketersinggungan dari pihak keluarga.
Menurutnya, langkah tersebut bukan bentuk empati, melainkan terkesan merendahkan penderitaan korban yang mengalami luka akibat kecelakaan. Ia menilai, nilai nominal yang diberikan tanpa disertai tanggung jawab yang jelas justru memperlihatkan minimnya rasa kemanusiaan.
“Memberikan uang Rp150 ribu dalam situasi seperti ini bukan solusi, justru memperlihatkan ketidakpekaan. Ini bukan soal angka, tapi soal cara menghargai korban sebagai manusia,” tegas King Naga, Rabu (15/4/2026).
Ia mengungkapkan bahwa pihak keluarga korban merasa tersinggung dan terhina atas perlakuan tersebut. Alih-alih mendapatkan perhatian dan tanggung jawab yang layak, korban justru dihadapkan pada sikap yang dinilai meremehkan kondisi yang dialami.
King Naga menilai tindakan tersebut semakin memperburuk citra aparatur yang seharusnya hadir sebagai pelayan masyarakat. Terlebih, jika benar pelaku merupakan bagian dari lingkungan pemerintahan di bidang kesejahteraan rakyat, hal itu dinilai sebagai ironi yang mencederai nilai dasar pelayanan publik.
Lebih jauh, ia juga menyoroti adanya keterlibatan oknum aparat kepolisian yang turut hadir dalam pertemuan dengan korban. Ia mempertanyakan peran dan tujuan kehadiran aparat tersebut, yang dinilai berpotensi menimbulkan tekanan terhadap korban dan keluarganya.
“Kalau aparat hadir bukan untuk melindungi, tapi justru menimbulkan rasa takut, ini harus menjadi perhatian serius. Jangan sampai ada kesan aparat digunakan untuk membackup tindakan yang tidak benar,” ujarnya.

Foto: King Naga
Atas hal itu, King Naga secara tegas meminta Propam Polda Banten untuk turun tangan melakukan evaluasi terhadap oknum polisi yang terlibat. Ia menekankan pentingnya penegakan disiplin internal agar tidak ada penyalahgunaan kewenangan di lapangan.
“Propam Polda Banten harus bertindak. Evaluasi oknum tersebut, periksa perannya, dan pastikan tidak ada pelanggaran etik maupun penyalahgunaan kewenangan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kasus ini telah menjadi perhatian publik dan berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi pemerintah maupun kepolisian apabila tidak ditangani secara serius.
“Jangan anggap sepele. Ini menyangkut rasa keadilan masyarakat. Jika tidak ditindak tegas, ini bisa menjadi preseden buruk ke depan,” tambahnya.
King Naga menegaskan pihaknya akan terus mengawal kasus ini hingga ada kejelasan dan keadilan bagi korban. Ia meminta semua pihak untuk tidak bermain-main dengan persoalan kemanusiaan dan hukum.
Sebelumya viral pemberitaan terkait adanya dugaan kecelakaan tabrak lari di wilayah Pajagan, kabupaten Lebak pada Minggu (12/4/2026), hingga mengakibatkan dua orang pengendara motor mengalami luka. Peristiwa kecelakaan lalu lintas yang diduga berujung tabrak lari. Insiden tersebut memicu sorotan publik, terutama terkait sikap pengemudi mobil yang diduga meninggalkan korban tanpa pertanggungjawaban.
Akibat kejadian itu, Aldi mengalami luka serius pada bagian lengan dan kaki, sementara pengendara Vario hanya mengalami luka ringan.
Ironisnya, mobil Xpander yang terlibat sempat berhenti sejenak di lokasi kejadian, namun kemudian diduga meninggalkan tempat tanpa memberikan bantuan. Informasi menyebutkan bahwa pengemudi kendaraan tersebut merupakan pekerja di lingkungan Pemerintah Provinsi Banten, khususnya di bidang Kesejahteraan Rakyat (Kesra).
“Korban harus diperlakukan dengan layak. Tanggung jawab harus ditegakkan. Tidak boleh ada yang kebal hukum, apalagi sampai merendahkan martabat korban,” pungkasnya.[]
- Author: Rls/Red
- Editor: Redaksi
- Source: Tim/Red






At the moment there is no comment