Tegarnews.co.id – Jakarta, 9 Juli 2026 | Gencatan senjata bersyarat antara AS dan Iran terancam batal setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke wilayah Iran bagian selatan, tepat di tengah prosesi pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Serangan tersebut memicu baku tembak dan ketegangan militer di sekitar Selat Hormuz, yang mengancam nasib perjanjian damai secara keseluruhan.
Serangan CENTCOM terjadi di area pesisir seperti Kota Sirik, Bandar Abbas, dan Pulau Qeshm di tengah berlangsungnya prosesi perpisahan kenegaraan.
Pasukan Iran membalas dengan melancarkan serangan terhadap kapal-kapal komersial di rute Selat Hormuz. Hal ini memicu kecaman keras dari negara tetangga seperti Arab Saudi dan Qatar.
Rentetan eskalasi ini membayangi rangkaian pemakaman Khamenei yang telah tertunda selama berbulan-bulan akibat perang. Prosesi ini sendiri menarik jutaan massa yang diwarnai unjuk rasa anti-AS.
Pemberlakuan kembali sanksi minyak oleh AS dan runtuhnya Kesepahaman Islamabad langsung melumpuhkan stabilitas Selat Hormuz:
Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) menuntut kapal komersial kembali ke jalur Iran dan membayar “biaya transit” setelah jalur alternatif “Koridor Selatan” di dekat Oman berakhir.
Kapal-kapal kargo yang menolak membayar dan tetap mengikuti rute bentukan IMO/Oman ditembaki proyektil oleh Iran pada 6 Juli.
Menanggapi pelanggaran tersebut, AS meluncurkan serangan udara masif yang menghancurkan radar pantai, situs rudal antikapal, dan pangkalan drone di wilayah Dermaga Taheroui dan Bandar Abbas.
Ketegangan di perairan internasional ini memicu respons defensif dan kecaman dari negara-negara Teluk:
Qatar: Doha menuntut keras agar Iran bertanggung jawab atas gangguan keselamatan pelayaran dan penembakan kapal komersial di wilayah Selat Hormuz.
Arab Saudi & Negara Teluk: Merasa terancam oleh unjuk kekuatan maritim Iran, negara-negara sekutu AS menolak keras skema pengenaan tarif pelintasan sepihak yang diajukan Teheran.
Oman: Terus berkoordinasi dengan Organisasi Pelayaran Internasional (IMO) untuk memperluas navigasi aman di wilayah laut mereka guna mengalirkan ratusan kapal yang tertahan konflik.
Rangkaian “Pemakaman Abad Ini” bagi Ayatollah Ali Khamenei yang berlangsung lintas negara (dimulai dari Teheran, lalu ke Najaf dan Karbala di Irak, sebelum berakhir di Mashhad) diwarnai oleh tekanan diplomatik yang ketat:
Iran menuduh Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, melakukan intimidasi diplomatik global dengan mengancam memotong bantuan finansial bagi negara yang nekat mengirim utusan.
Akibat tekanan Washington, 13 negara dari wilayah Teluk, Afrika Utara, Eropa Timur, dan Asia Timur resmi membatalkan atau menurunkan tingkat kehadiran delegasi mereka.
Negara-negara sekutu strategis dan mediator tetap mengirimkan pejabat tingginya, di antaranya:
Pakistan: Perdana Menteri Shehbaz Sharif hadir langsung selaku mediator kunci kesepakatan damai.
India: Diwakili oleh Gubernur Bihar Syed Ata Hasnain dan Menteri Negara Urusan Luar Negeri Pabitra Margherita.
Rusia, China, Turki, dan Afghanistan: Tetap mengirimkan delegasi resmi ke Teheran sebagai bentuk dukungan politik.(Rls/Red)













