Dr. Abdullah Ahmad: Ulama Reformis, Penyalur Cahaya Pencerahan Bangsa, Dari Ranah Minang
- account_circle Rls/Red
- calendar_month 1 menit yang lalu
- visibility 2
- comment 0 komentar

Foto: Dr. Abdullah Ahmad (Dok-Biografi)
Tegarnews.co id-Jakarta, 15 Februari 2026| Dalam lembaran panjang sejarah kebangkitan bangsa Indonesia, nama Dr. Abdullah Ahmad berdiri tegak sebagai pelopor pencerahan, ulama pejuang akal budi, dan perintis pendidikan modern yang mengabdikan hidupnya demi kemajuan umat dan martabat tanah air. Ranah Minang melahirkan tokoh visioner ini di Padang Panjang pada tahun 1878. Sosok yang akrab disapa Tuan Dullah bukan sekadar ulama, melainkan arsitek kebangkitan intelektual bangsa di bawah bayang-bayang kolonialisme.
Sebagai putra Syekh Ahmad Alang Lawas, Abdullah Ahmad mewarisi keteguhan iman dan ketajaman nalar seorang pejuang peradaban. Pengembaraannya menuntut ilmu hingga ke Tanah Suci Mekkah pada akhir abad ke-19 menempa jiwanya menjadi seorang pembaharu sejati. Sekembalinya ke tanah air, ia tampil di garda depan perjuangan pemikiran untuk memberantas takhayul, menantang kebekuan berpikir, dan memurnikan ajaran Islam agar umat bangkit, merdeka dalam akal dan keyakinan. Inilah bentuk jihad intelektual demi masa depan bangsa.
Dedikasi patriotiknya paling nyata tercermin dalam medan pendidikan. Pada tahun 1909, di tengah keterbatasan dan tekanan zaman kolonial, ia mendirikan Adabiah School, sebuah tonggak revolusioner yang membuka jalan pendidikan modern bagi anak-anak pribumi, khususnya kaum pedagang di Padang. Ia turut membidani lahirnya Persatuan Guru Agama Islam (PGAI) dan membesarkan Sumatra Thawalib, menjadikan sekolah bukan sekadar tempat belajar, melainkan kawah candradimuka pembentuk kesadaran kebangsaan.
Pengakuan dunia internasional atas jasa intelektualnya datang pada tahun 1926, ketika Universitas Al-Azhar, Kairo, menganugerahkan gelar Doktor Honoris Causa kepadanya. Bersama Abdul Karim Amrullah, Dr. Abdullah Ahmad tercatat sebagai orang Indonesia pertama yang menerima kehormatan tersebut, sebuah kebanggaan nasional yang menegaskan bahwa putra-putri Nusantara mampu berdiri sejajar dengan pemikir besar dunia Islam.
Tak kalah penting, Abdullah Ahmad adalah pejuang pena. Ia memahami bahwa perjuangan bangsa tidak hanya berlangsung di medan fisik, tetapi juga di medan gagasan. Melalui pendirian majalah Al-Munir (1911–1916), media pembaruan Islam pertama di Indonesia, ia menyalakan obor kesadaran bagi generasi muda. Tulisannya menggugah, membangkitkan, dan menyatukan semangat perubahan. Kedekatannya dengan aktivis Jong Sumatranen Bond serta perannya sebagai ketua persatuan wartawan di Padang menegaskan posisinya sebagai tokoh lintas generasi, jembatan antara ulama, intelektual, dan pejuang kebangsaan.
Hingga akhir hayatnya pada 24 November 1933 di Padang, Dr. Abdullah Ahmad telah menorehkan jejak pengabdian yang tak terhapuskan. Warisan intelektualnya adalah bukti bahwa agama, ilmu pengetahuan, dan semangat kebangsaan dapat berpadu menjadi kekuatan pembebas. Ia telah menunjukkan bahwa kemajuan zaman tidak harus menggerus iman, dan cinta tanah air dapat tumbuh dari ruang-ruang kelas, lembaran buku, dan keberanian berpikir.[☆]
“Dr. Abdullah Ahmad bukan hanya milik Ranah Minang, ia adalah milik Indonesia.”
Sumber: Wikipedia Bahasa Indonesia. Biografi Dr. Abdullah Ahmad.
- Penulis: Rls/Red
- Editor: Redaksi
- Sumber: Hagia Sofia


Saat ini belum ada komentar